
Gilang melihat ke arahku, dia tak bisa berbuat apa-apa. Aku tersenyum melihatnya lalu menghempaskan tangannya dengan keras. Aku berbalik, membantu Arga untuk berdiri.
"Jangan pernah temuin gue lagi, gue benci sama Lo" ucapku lalu pergi meninggalkan Gilang untuk membawa Arga ke UKS.
Semua siswa begitu ricuh di belakang. Aku membawa Arga dengan perasaan berat. Gilang! Kenapa dia berubah? Dulu dia selalu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, sekarang dia terlihat lebih sensitif dan cenderung melakukan kekerasan.
"Nanti kalau guru nanya tentang apa yang terjadi, Lo bilang aja Lo gak tau apa-apa" ucap Arga
"Kenapa?" Tanyaku
"Gue gak mau Lo kena masalah" ucap Arga
Aku hanya diam, jika aku yang membuat mereka bertengkar, maka aku pula yang harus bertanggung jawab. Bukankah jujur itu harus? Apakah jika aku jujur aku akan berdosa? Lebih baik aku jujur, maaf Arga saranmu tak ku terima
Aku mengobati luka Arga dengan lembut, sampai tiba-tiba awan datang dan menghampiri kita berdua.
"Ga, Lo di panggil guru BK, dan indah, Lo di cari sama Risa dan Amel" ucap awan
"Bentar" ucapku lalu melihat ke pada Arga dan memasangkan plester ke lukanya.
"Gue duluan" ucapku lalu aku pergi
Awan tersenyum kepadaku. Aku hanya meliriknya sekilas lalu pergi menjauh menuju Amel dan Risa. Rasa khawatir menghantui ku, Arga, dia benar-benar membuat ku khawatir.
"Lo gak di apa-apain kan?" Tanya Amel
"Gue fine"
"Lo gak mau tau keadaan Gilang?" Tanya Risa
Aku hanya menanggapi dengan malas. Kenapa? Kenapa harus nama itu yang di ucapkan? Aku benar-benar kesal padanya. Tapi jauh di lubuk hatiku, aku juga mengkhawatirkan dia.
"Sebenernya Gilang tuh lagi sakit, dia demam, tapi dia maksain, dan karena lukanya tadi, dia sekarang ada di UKS" ucap Risa
Aku memelototkan mataku, Gilang, dia demam? Bagaimana bisa? Ada apa dengan nya? Tanpa basa basi lagi akhirnya aku pergi ke UKS. Untungnya guru mata pelajaran Indonesia dan matematika sedang tidak bisa hadir.
Ku lihat Gilang sedang ada di sana, menatap langit-langit, lalu aku mendekati nya. Aku mendekati laki-laki ini, laki-laki brengsek ini.
"Lo kenapa gak pernah mau bilang kalau Lo sakit?" Kesalku tanpa sadar mataku berkaca-kaca. Lukanya masih belum di obati.
"Indah?!?" Gilang bangun dan melihatku dengan tatapan mata yang sendu
Aku menyeka air mata yang hendak turun itu, mengambil kotak p3k dan duduk di samping Gilang.
Anehnya hari ini para seksi kesehatan tak ada, kemana mereka? Kenapa tak melakukan tugas mereka? Di sini ada yang sedang sakit.
Aku mulai membersihkan luka Gilang, aku tak mau melihatnya namun aku menyadari kalau Gilang menatap ke arahku terus. Aku kemudian memplester lukanya. Dan aku mengambil sapu tanganku. Aku membasahi sapu tanganku dengan air hangat di baskom UKS. Lalu aku mulai mengompres Gilang.
"Kalau ada apa-apa tuh bilang, kalau Lo sakit gini, siapa yang bakalan merhatiin Lo? Gimana kalau Lo pingsan di pinggir jalan? Gak semua orang bakalan peduli terhadap sesama, Lo juga kalau lagi sakit jangan suka maksain buat sekolah, sekarang udah kejadian kan Lo sendiri yang repot-" ucapanku terhenti karena Gilang yang menempel kan telunjuknya di bibirku
"Selagi ada Lo di samping gue, gue akan baik-baik aja ndah" ucap Gilang
Aku mendelik kesal. Demam Gilang sangat tinggi, sangat tidak mungkin jika harus di kompres di sini. Gilang harus ke rumah sakit, takutnya ini malah penyakit serius.
"Kita ke rumah sakit" ucapku
"Lo belum jawab pertanyaan gue indah" ucap Gilang
"Kita ke rumah sakit, atau Lo gak akan pernah bisa ngomong lagi sama gue" ucapku membuat dia akhirnya menurut
Aku merangkul Gilang dan membawanya keluar, aku meraih kunci motor Gilang. Tapi Gilang terdiam. Aku mengeluarkan motor Gilang. Motor matic. Apakah Gilang tengah nostalgia saat aku naik motor pertama kali dengan nya?
__ADS_1
"Kenapa" tanyaku
Gilang naik ke belakangku. Aku menarik tangannya ke perutku. Gilang menempel kan kepalanya di punggungku. Hangat!
***
Gilang POV
Gue baru tau kalau indah bisa naik motor, siapakah yang mengajarinya? Apakah Arga? Kenapa harus Arga yang mengajari dia? Harusnya gue yang ngajarin indah.
"Sus tolong periksa teman saya" ucap indah sopan
Gue diperiksa sama dokter di rumah sakit itu, kenapa indah manggil gue temen? Padahal gue berharap dia ngaku-ngaku sebagai pacar gue, ah tapi indah gak gitu, dia cewek unik. Ketika semua cewek berlomba-lomba mah sama gue yang memiliki IQ di atas rata-rata, dan memiliki segudang kemampuan. Dia justru malah menolakku. Dan indah masih memilih Fadhel yang wajahnya aja masih kalah jauh dari gue.
Kemudian dokter pun berbincang dengan indah, indah kelihatan serius untuk kemudian indah mengelus dadanya, dia kelihatan lega.
"Lo gak papa, cuman banyak pikiran aja" ucapnya
"Ndah"
"Ya udah kalau gitu, kita pulang aja langsung" ucap indah
"Kenapa Lo ngejauh dari gue?" Entah udah berapa kali gue nanyain hal ini
"Kita pulang sekarang" ucap indah
Lalu dengan pasrah, akhirnya gue memilih mengalah. Dia! Dia selalu bisa ngebuat gue bungkam. Indah bawa gue pulang dengan motor gue.
Sampai kemudian Gue sama indah sampai di rumah gue. Indah markirin motor di garasi.
"Tante!" Ucap indah senang
Mama senyum ke indah, dia meluk indah sampai kemudian indah ngeluruk ke arah gue.
"Bang Gilang" Sisil nyamperin langsung meluk gue, indah ngeliat ke arah kita
"Ya udah Tan, indah duluan ya" indah Salim ke mama
Lalu Indah pergi, tanpa pamit ke gue, tanpa ngeliat gue. Perhatian indah cuman sebentar. Apa yang ngebuat indah berubah? Kenapa? Rasanya benar-benar sakit.
***
Aku bilang pada Tante Windy kalau aku akan kembali ke sekolah, nyatanya enggak. Kini aku tengah berada di sebuah tempat, tepatnya di sebuah gedung kosong. Di sini ada berbagai macam atribut untuk sebuah arena pertunjukan motor atau sepeda.
"Liat ada cewek" ucap seseorang
Aku berbalik dan melihat mereka, ada apa? Apakah aku terlihat begitu lemah? Kenapa harus bertemu mereka pula. Aku malas jika harus memakai kekerasan.
"Wih cakep juga nih cewek" ucap seseorang diantara mereka
"Inget bro, peraturan kelompok, jangan suka nyakitin cewek" ucap seseorang
"Heh lu, ngapain lu di sini?" Tanya mereka
"Apa urusannya sama kalian?" Tanyaku
"Wah songong nih bocah" ucap mereka
Aku menghela nafas, mereka ada sekitar 15 orang lebih, sepertinya masih kelompok motor baru
"Serang aja ngab" ucap salah satu dari mereka lalu salah satu diantara mereka maju. Ah sasaran empuk, berhubung aku tengah emosi. Biarkan aku menjadikan mereka samsak berdiri.
__ADS_1
Salah satu diantara mereka mulai aku balas setiap serangan. Karena semangatku sedang membara, akhirnya aku menang, sampai kemudian mereka mulai menyerangku secara bersamaan. Aku lumayan kualahan namun, aku tak boleh kalah. Apa gunanya ilmu silatku jika tak di pakai untuk melindungi diri.
"Kita kalah" ucap mereka
Aku tersenyum pada mereka, lalu aku meminum minuman ku, ale-ale. Mereka terlihat menatapku. Aku kemudian melepas ikatan rambutku. Dan mengikatnya lagi.
"Gue punya satu permintaan" ucap salah satu diantara mereka
Aku terdiam, melihat mereka. Apakah mereka akan menyerang lagi? Ah menyebalkan sekali. Tenaga ku sudah habis.
"Lo mau gak jadi leader dari geng ini, kita belum punya queen atau king, masih baru soalnya" ucap mereka
Aku terdiam, haruskah? Ilmu beladiri ku juga belum sempurna, masih perlu belajar, apakah aku bisa menjadi leader dari geng ini? Lagipun aku juga gak begitu bisa naik motor. Masih perlu belajar lagi.
"Gue belum bisa, kalau mau temenan mungkin gue bisa" ucapku Tersenyum
"penawaran ini, berlaku selama Lo mau" ucap mereka "dan ya nama gue Revan" ucap nya
"Gue Fabian" "gue Ghani" "gue Septian" "gue Faisal" dan lainnya.
Aku hanya membalas uluran tangan mereka "nama gue indah" jawabku lalu aku bergegas pergi.
"Lo mau kemana?" Tanya Revan
"Balik" jawabku
"Mau kita anter?" Tanya mereka
"Gak perlu" ucapku lalu bergegas pergi
Aku segera mengambil handphone ku di saku, aku men chat pada bang Marshal. Kini aku akan belajar beladiri semakin giat. Dan aku juga menghubungi Ingga untuk belajar motor tinggi.
💌Bang Marshal
Oke, nanti Abang share tempatnya, berhubung Abang juga punya temen yang punya perguruan silat dan karate. Lu mau yang mana?
💌.
Dua²ny
Dan bang Marshal setuju, akhirnya aku pulang ke rumah. Haruskah aku senang? Atau kah aku sedih?
***
Baru saja aku menapakkan kaki di rumah, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Aku segera membukanya. Ingga? Dia tak sekolahlah?
"Mau latihan lagi? Sekalian gue mau ngajarin Lo atraksi" ucap Ingga
"Boleh" ucapku lalu Ingga mulai menarikku
Ah, hari ini penuh kejutan, tapi tunggu, Ingga tak membawaku ke motornya, namun ke sebrang rumahku. Ada seorang tukang bubur.
"Makan dulu" ucap Ingga
Aku pun akhirnya makan dulu dan mendengarkan Ingga yang memberikan beberapa petuah dan peraturan. Lelah? Tentu, namun aku juga harus bisa motor kan?
Setelah selesai aku kembali ke dalam rumah, aku juga mengganti pakaian ku. Hari ini aku kembali belajar motor dengan Ingga. Dia akan mengajarkan ku banyak hal, dan aku juga mengajarkan dia bermain skateboard.
***
Ingga
__ADS_1