
Kami sudah sampai di pantai, aku berjalan dengan perlahan, aku tak mau menerima bantuan apapun dari Gilang ataupun Fadhel. Aku berjalan menyusuri pantai, sepi. Aku lalu mendekat ke air pantai, menerima dinginnya air laut itu. Hatiku berdesir, aku tak tau kenapa tapi aku merasa bahwa sesuatu akan terjadi setelah ini, sesuatu yang sangat sulit untuk aku terima.
"Seneng?" Tanya Fadhel
Aku mengangguk, Fadhel mendekat ke arahku lalu merangkul ku, Gilang juga melakukan hal yang sama. Aku tak tahu harus bagaimana, kini ke dua orang yang spesial bagiku ada di dekatku.
"Ndah, Lo gak lagi ada masalah kan?" Tanya Gilang
Aku terdiam, lalu aku melihat ke arah Gilang lalu menggeleng, aku benar-benar bingung harus bagaimana, kalau aku jujur mereka bukan siapa-siapa bagiku.
"Beneran?" Tanya Fadhel
Aku kembali mengangguk. Gilang dan Fadhel sedari tadi terdiam, lalu aku melepaskan rangkulan mereka, aku berjalan ke belakang lalu duduk. Rasanya masih sakit, bukan, bukan kakiku yang aku maksud, namun hatiku.
"Kita pulang yuk" ajakku
"Baru juga bentar" ucap Fadhel
Aku terdiam lalu aku berjalan menuju ke atas, aku ingin pulang, rasanya aku benar-benar ingin pulang. Fadhel dan Gilang pun akhirnya mengikuti ku, kali ini aku naik mobil Gilang.
***
Baru saja aku sampai dan masuk ke dalam rumah suara mama ku terdengar, menyambut ku dengan baik, sangat baik, mungkin.
"Keluyuran terus, nilai kamu banyak yang nurun dan kamu hanya keluyuran bisanya, gak tau mama nyari uang tuh susah, kalau kamu udah gak mau sekolah gak usah sekolah sekalian, kerja aja sana, punya anak gak bisa ngapa-ngapain, bisanya cuman nyusahin orang tua aja, jadi beban aja"
Sambutan yang baik bukan? Aku terdiam, kemudian aku tersenyum pada mamaku itu, aku mendekati mamaku lalu mencium tangannya.
"Kalau indah bisa milih indah bakalan milih gak terlahir ke dunia ma, mama pikir indah-" aku terdiam, aku tak boleh kelepasan, bagaimana pun dia mamaku "Udah ma indah capek" jawabku
"Kalau mama bisa milih mama juga gak mau ngelahirin anak gak berguna kayak kamu, cuman bisa manja, nangis, keluyuran, liat tuh di kamarmu, seperti kapal pecah, cewek kok gak bisa rapi"
Aku menghela nafas panjang, lelah, ternyata ini yang membuat aku ingin segera pulang, hanya untuk mendengarkan hal seperti ini? Aku masih terdiam mama terus saja mengomel namun aku tak menanggapi. Sakit! Itu yang kurasakan.
"Ma, indah duluan, indah capek" lalu aku berjalan menaiki tangga
"Gak sopan, orang tua lagi bicara malah di tinggal, gak belajar sopan santun, melawan terus kalau dibilangin"
Suara mama masih terdengar, aku ingin menangis namun aku tak mau dianggap lemah di depan keluarga ku, aku memang paling bodoh di keluarga ini.
"Seandainya mama gak sayang aku lepasin aja aku ma" hatiku menjerit "seandainya saja aku tak dilahirkan..." Gumamku
Aku masuk ke dalam kamarku, terdiam, untuk kemudian mengambil bantalku dan menutupi wajahku yang kini basah karena air mata. Kepalaku lagi-lagi sakit, nafas ku terasa tercekat, yah depresi lagi. Aku ingin ke dokter namun aku tak mau mama dan keluarga ku tau, lelah. Aku lelah. Aku ingin mati saja, aku sudah tak tahan dengan semua ini, aku merasakan kepalaku benar-benar nyeri. Aku tak tau harus bagaimana, yang jelas aku lelah. Aku ingin pergi jauh, menjauh dari rumah ini, tapi kemana? Aku tak mungkin ke bang Marshal atau keluarga ku yang lain, aku ingin pergi, jauh. Semua sakit di hatiku semakin terasa, aku sudah tak tahan, aku ingin bunuh diri. Aku lelah.
***
Aku terbangun dengan mata sembab, kakiku masih terasa sakit. Aku melihat diriku di pantulan cermin, aku berjalan menuju kamar mandi dan kemudian mencuci wajahku. Kembali ke depan meja rias, aku membubuhkan sedikit make up untuk menutupi mataku.
Ting!
Notifikasi dari handphone ku berbunyi, aku mengambilnya di atas kasur. Banyak sekali notifikasi. Aku tak menghiraukan handphone ku, aku segera merapikan kamarku sendiri, dan brak! Sesuatu jatuh, aku melihatnya dan ternyata itu sebuah figura foto, di dalamnya ada foto ku dan keluargaku, pecah, kacanya pecah. Aku tersenyum lalu membuang pecahan kaca itu dan mengeluarkan fotonya dari figura, figura nya juga aku buang.
"Keluargaku benar-benar tak baik-baik saja"
Tak lama kemudian kamarku sudah rapi, aku tersenyum melihatnya, walaupun tak Serapi kamar kak ayu, tapi bisa dikatakan rapi.
Aku membuka handphone ku. Kulihat notifikasi itu dan kemudian aku mengklik satu-satu notifikasi itu.
💌Gilang
P
P
P
Ndah Lo gak papa
Ndah jawab Napa
📞5 panggilan tak terjawab
__ADS_1
Indah
Indah ayu lestari
Woy ia
Jawab Napa
Gue tadi denger suara Tante Delis marah, Lo gak papa kan?
💌Aldi
P
P
P
Tidur kah?
P
P
P
Bangun oy
💌Fadhel_04
Indah
Besok sebelum aku pergi ke asrama kita main dulu yuk
Ndah
Indah
P
P
P
P
💌Astrid
Ia
Ia
Lagi apa?
Lo udh ujian?
Sbdp susah yah
Sama matematika deng
P
P
P
P
P
P
__ADS_1
Aku terdiam, bingung antara harus menjawab atau hanya sekedar read saja. Akhirnya aku akan membalasnya karena aku tau rasanya menunggui balasan pesan dan hanya di read saja itu menyakitkan.
💌.->Gilang
Gw GPP
Tadi mama cmn marah karena kamar gw yang berantakan
💌.->Aldi
Iyh td gw kebablasan
💌.->Astrid
Lg main hp ajj
G jg
💌Zakyra->Fadhel_04
G bs dhel maaf
Lalu aku mematikan data di handphone ku, aku tak mau mereka men chat aku lagi, aku kemudian ke balkon menggunakan tongkat. Aku duduk di kursi balkon. Aku menyalakan music dari handphone ku dengan volume lumayan kencang. Namun mama pasti tak akan mendengarnya.
Diary depresiku
Malam ini hujan turun lagi
Bersama kenangan yang ungkit luka di hati
Luka yang harusnya dapat terobati
Yang ku harap tiada pernah terjadi
Ku ingat saat Ayah pergi, dan kami mulai kelaparan
Hal yang biasa buat aku, hidup di jalanan
Disaat ku belum mengerti, arti sebuah perceraian
Yang hancurkan semua hal indah, yang dulu pernah aku miliki
Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian
Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan
Mungkin sejenak dapat aku lupakan
Dengan minuman keras yang saat ini ku genggam
Atau menggoreskan kaca di lenganku
Apapun kan ku lakukan, ku ingin lupakan
Namun bila ku mulai sadar, dari sisa mabuk semalam
Perihnya luka ini semakin dalam ku rasakan
Disaat ku telah mengerti, betapa indah dicintai
Hal yang tak pernah ku dapatkan, sejak aku hidup di jalanan
Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian
Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam
__ADS_1
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan