Bukan Pernikahan Luar Biasa

Bukan Pernikahan Luar Biasa
15. Pinjam pelukan.


__ADS_3

"Ck, Mama bener-bener ngerjain aku. Kamu ngerasa ngga kalo orang-orang pada ngeliatin kita?" Ucap Daniel saat sudah kembali ke rumah.


"Biarin aja Mas, mungkin kita kelihatan unyu, heheh"


Saat sampai di kamar Daniel langsung membuka piyamanya.


"Aku tidur duluan ya?" Ucap Daniel membaringkan diri di sofa tempat biasa dia tidur.


"Iya."


Stella mencuci wajahnya sebelum tidur.


Ia pun berbaring, tapi matanya masih enggan untuk tidur.


Stella pun duduk dari tidurnya, dan mengambil ponselnya, di lihatnya foto Adrian ayahnya, Oma, Kin Dan Will.


"Aku rindu kalian," Ucap Stella pada setiap gambar yang di slide.


Jauh di dasar Hatinya banyak pertanyaan tentang statusnya di keluarga Jackson.


Saat ini Stella seperti di hempas dari keluarga Jackson, keluarga yang selama ini menghidupinya.


Stella berniat untuk mencari tahu tentang semuanya, tapi tidak sekarang.


"Kamu belum tidur?" Tanya Daniel yang melihat Stella masih duduk di atas ranjangnya.


"Belum." Jawab Stella


"Kenapa?" Tanya Daniel, yang kini ikut duduk di ranjang.


"Tidak apa-apa, Aku hanya rindu pada keluargaku."


"Besok aku antar ke rumahmu kalau kamu mau."


"Tidak usah, rumah Momy yang pernah kita datangi kemarin sudah di jual."


"Terus sekarang Momy kamu dimana?"


"Momy sudah pindah ke Australia."


"Kenapa Momy kamu tidak ada di rumah Sakit waktu kita nikah?"


Bukannya menjawab Stella malah meneteskan air mata.


"Kamu kenapa? Maaf kalau pertanyaanku tadi buat kamu sedih."


"Tidak apa-apa. Mas apa aku boleh pinjam sesuatu?"


"Tentu saja boleh. Memangnya kamu mau pinjam apa?"

__ADS_1


"Tolong pinjami aku pelukan, Saat ini aku tidak punya siapapun."


"Hah, Pelukan!" jawab Daniel sedikit terkejut dengan permintaan Stella.


"Tidak boleh ya. Yasudah tidak apa-apa" Stella pun langsung berbaring dan membungkus tubuhnya dengan selimut.


"Bo-boleh. Siapa bilang tidak boleh." jawab Daniel sedikit gugup.


"Seriusan?" Ucap Stella meyakinkan.


"Iya." Jawab Daniel yakin.


Daniel merentangkan kedua tangannya, sudah siap untuk menerima pelukan dari Stella.


Perlahan Stella menepis rasa malunya, dan memeluk Daniel.


Deg..


Jantung Daniel berdegup kencang saat jantung mereka saling berdekatan.


"Sudah." Ujar Stella melepas pelukannya.


"Kalau kamu mau, aku bisa pinjamkan pelukan untuk sepanjang malam ini."


"Hah, Pelukan sepanjang malam?? " ucap Stella canggung.


Tapi belum dapat persetujuan dari Stella Daniel sudah memeluk Stella lebih dulu.


Stella tak berkutik dalam dekapan Daniel.


"Tidurlah. Bebaskan segala beban dalam hatimu." Ucap Daniel sambil menuntun Stella untuk berbaring.


Kini Stella pun sudah berbaring dengan lengan Daniel yang jadi bantalnya, kepala Stella tepat di bawah dagu Daniel.


"Maafkan aku, karena memberi jarak dalam pernikahan kita, seharusnya untuk sebuah pelukan kamu tidak harus meminjam atau memintanya, melainkan aku yang harus peka untuk memberikannya" Ujar Daniel.


Suasana menjadi melow.


"Apa kamu menganggap pernikahan ini hanya pura-pura?" Tanya Stella.


Daniel pun hanya diam, tidak tau harus menjawab apa.


"Tidurlah, biarkan tangan sang pencipta saja yang menentukan bagaimana pernikahan ini kedepannya, Yang pasti, selama pernikahan ini Aku akan memastikan untuk menjaga dan mencukupi segala kebutuhan kamu." jawab Daniel.


"Terimakasih." Jawab Stella mendongkakan wajah ke atas, hingga membuat dua pasang manik itu saling bertemu.


Stella cukup terharu dengan ucapan Daniel,


Daniel memang tidak pandai berkata manis, tapi sikapnya yang sangat tenang membuat Stella nyaman berada di dekatnya.

__ADS_1


Walaupun mereka tidak saling mengenal saat menikah, tapi Stella tidak merasa jadi orang asing untuk Daniel.


Stella pun kembali mencerukan wajahnya pada dada Daniel.


Dan tertidur lelap dalam dekapan hangat.


___________


Di tempat lain....


Di sebuah klub malam yang sudah penuh dengan hingar bingar dan dentuman musik Leo begitu asyik menari dan menikmati suasana malam yang begitu bergemuruh.


Di temani para gadis Leo terus berlenggok, mencoba melepaskan beban pikirannya.


Satu sisi Leo bahagia Melihat kebahagiaan kakaknya yang berhasil keluar dari depresinya, tapi di sisi lain Leo terluka karenanya.


"Nah gitu dong, anak muda itu harus bebas lepas." ucap Arya yang terus mengompori Leo.


Malam sudah hampir terlewat, Leo pun sudah lelah. Ia memutuskan untuk pulang.


"Aku pulang dulu. besok pagi aku harus ke rumah Sakit." Ucap Leo menyambar jaketnya dan pergi meninggalkan klub.


Walaupun hampir setiap malam Leo datang ke klub, tapi dia jarang sekali menyentuh minuman beralkohol, bukan apa. Sebagai dokter ia sudah terikat janji untuk tidak terlibat dengan minuman keras dan obat-obatan terlarang.


Karena tujuan Leo datang ke tempat seperti ini hanya untuk melepas sepinya.


Saat sudah keluar dari klub Suasana pun menjadi hening.


Leo pun segera mengemudikan mobilnya untuk pulang.


Bayangan Stella kembali di pikiran Leo, kenapa begitu sulit merelakan Stella untuk kakaknya.


Leo sudah berusaha keras untuk itu.


Tapi Stella sudah begitu dalam merasuki hatinya.


Leo benci dan marah dengan keadaan yang di alaminya saat ini.


Karena pikirannya terlalu kalut, Leo jadi tidak fokus dengan jalan kemudi mobilnya.


Leo tidak menyadari kalau mobilnya sudah pindah ke lajur lain yang di peruntukkan untuk mobil dari arah berlawanan, dan kecelakaan pun tak dapat di hindarinya.


Leo terkapar tidak sadarkan diri dengan tubuh bersimbah darah.


Bersambung.....


Jangan lupa Like vote dan komentarnya ya guyyss...


Terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2