
Stella mengusap rahang kokoh milik Daniel, Di tatapnya wajah Daniel yang sedang terlelap.
Sudah seminggu setelah Leo diam-diam datang ke kamarnya, Stella pun semakin yakin untuk melupakan kisah masa lalunya dengan Leo.
Stella ingin fokus menjalani kehidupan barunya bersama Daniel.
"Mungkin secepatnya aku harus memberi tahukan tentang hubunganku dengan Leo pada Daniel. Tapi bagaimana kalau nanti Daniel marah dan meninggalkan aku?" Stella terus bermonolog dalam hatinya.
"Kenapa belum tidur?" Ujar Daniel yang tiba-tiba terjaga.
"Hah, Ti-tidak Apa-Apa, Aku cuma belum mengantuk." Jawab Stella.
"Tidurlah, nanti kamu sakit!" Suruh Daniel.
"Iya." Stella pun berbaring dengan lengan Daniel yang menjadi bantalnya. Stella mencerukan wajahnya pada Daniel dan ikut terlelap.
Semakin hari, Stella merasa semakin gelisah. Ia takut hari dimana Daniel mengetahui segalanya dan meninggalkan dirinya akan datang.
Memikirkan itu membuat Stella menjadi tidak berselera makan, dan susah tidur.
___________
"Bagaimana?" Tanya Leo saat Stella akan kembali masuk setelah mengantar Daniel untuk bekerja.
Stella berniat untuk tidak menggubris Leo.
Tapi Leo mencengkeram lengan Stella.
"Lepaskan. Apa yang kamu lakukan?" Seru Stella
"Tenang saja, disini tidak ada siapa-siapa." Jawab Leo santai.
"Tapi tidak seharusnya akamu bersikap seperti ini padaku." Stella mendengus kesal.
"Berhari-hari aku menunggu jawaban darimu, tapi kamu malah terus mengabaikan Aku." Leo semakin kencang memegangi lengan Stella.
__ADS_1
"Leo, aku ini istri kakakmu. Kamu harus sadar itu!" Ujar Stella penuh penegasan.
"Tapi kalian tidak saling mencintai. Kakakku mencintai kak Shanum dan kamu, kamu jiga masih mencintaiku kan?" Leo.
"Cukup Leo. Walaupun saat ini kami belum saling mencintai, tapi kami saling menghargai satu sama lain." Ucap Stella sambil melepaskan tangannya dari cengkeraman Leo.
"Carilah wanita lain, dan anggap hubungan di antara kita tidak pernah ada." Ucap Stella lagi saat sudah sedikit menjauh.
"Tapi Bang Daniel pasti akan meninggalkan kamu, kalau dia tau segalanya!" Seru Daniel.
"Tidak masalah. Kalaupun nanti Daniel akan menceraikan aku. Untuk sekarang aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuknya." Tegas Stella.
Stella pun kembali masuk ke kamarnya. Ia mengambil tas kecilnya, ia akan pergi ke kantor Daniel.
Hari ini Leo sedang libur. Stella tidak ingin berada di rumah untuk hari ini.
Stella segera turun setelah taksi yang dipesannya sudah tiba.
Sementara dari sebuah jendela Leo menatap Stella pergi.
Setelah menempuh perjalanan akhirnya Stella sampai di sebuah bangunan berlantai dua, bangunan dimana Daniel menata mimpinya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Ujar resepsionis kantor.
"Saya Mau bertemu Pak Daniel Pratama" Jawab Stella.
"Apa ibu Sudah membuat janji sebelumnya.?"
"Belum, Tapi katakan saja Saya Stella Fransiska." Stella tidak mengatakan kalau ia istri Daniel, karena ia ingin Daniel sendiri yang mempublikasikan hubungan mereka.
"Baiklah," Sang resepsionis pun menghubungi Daniel untuk memastikan apakah Daniel ingin menerima tamu yang kini ada di hadapannya.
"Baik Bu, Mari saya antar." Ucap sang resepsionis.
Stella pun mengikuti sang resepsionis yang menunjukkan dimana ruangan Daniel.
__ADS_1
Ini kali pertama untuk Stella datang ke perusahaan Daniel.
"Masuk" Seru Daniel saat terdengar ketukan pintu.
Stella muncul di balik punggung sang resepsionis.
Stella takut Daniel akan marah karena ia sudah berani datang ke kantornya.
"Kamu boleh kembali bekerja." Suruh Daniel Pada resepsionis yang mengantarkan Stella.
"Baik pak."
"Tunggu Lula!" Daniel kembali memanggil resepsionis yang hendak berlalu.
"Lain kali kalau Dia mau ke ruangan-ku tidak perlu ijin lagi padaku. Karena dia adalah istriku" Ujar Daniel yang kini sudah berada di dekat Stella.
Daniel mengusap pipi Stella, membuat Stella terharu.
"Istri Bapak?" jawab Lula heran.
"Iya, dia istriku." jawab Daniel merangkul Stella.
"Baik pak! Kalau begitu saya permisi." Pamit Lula.
"Aku pikir kamu mau merahasiakan pernikahan kita, makanya aku nggak ngomong kalo aku istrimu." Ucap Stella.
"Kenapa harus di rahasiakan? kita sudah sah jadi suami istri." Ujar Daniel menarik Stella duduk di sofa.
"Ngomong-Ngomong kamu tumben sekali datang ke kantorku?" Tanya Daniel Sambil mencium harumnya rambut Stella.
"Di rumah tidak ada siapa-siapa, Daripada bosan sendirian mending aku datang kesini kan?"
"Iya, Kamu bisa datang ke sini kapanpun kamu mau." Ujar Daniel yang kini sudah menciumi leher Stella, membuat Stella merinding.
Bersambung....
__ADS_1