Bukan Pernikahan Luar Biasa

Bukan Pernikahan Luar Biasa
33. Berpisah


__ADS_3

Stella menyusul Daniel yang sudah lebih dulu pergi ke kamar.


Stella menghampiri Daniel yang sedang duduk termenung dan duduk di sampingnya.


"Maaf kalau kata-kataku yang meminta kamu untuk kembali pada Leo menyakiti hatimu."


"Tapi aku berharap kamu untuk tidak pergi dari rumah ini, karena aku sudah terikat janji dengan ayahmu, untuk selalu menjagamu." Ucap Daniel.


Stella menggenggam tangan Daniel.


"Mas, Kamu sudah menepati janjimu pada Dadyku, kamu sudah sangat baik padaku. Tapi hubungan kita akan selalu terasa tidak nyaman karena aku mengawali segalanya dengan niat tidak baik." Ujar Stella.


"Apa kamu benar-benar akan meninggalkan aku?" Ujar Daniel ikut menggenggam tangan Stella.


Stella mengangguk walaupun dalam hatinya Masih ragu.


Stella Berhambur memeluk Daniel.


"Apa tidak bisa tinggal sebentar lagi saja." Ujar Daniel Sambil terus memeluk Stella.


"Aku menyayangimu Mas." Ucap Stella


Dua anak manusia yang sedang di Landa kesedihan itu pun terus saling berpelukan seolah ingin mengungkapkan perasaan yang tidak dapat di utarakan.


Stella sudah tidur dengan lelap. Ia sengaja tidur lebih cepat karena besok pagi harus berkemas dan pergi.


Malam sudah semakin larut, Daniel belum bisa memejamkan matanya.


Ia terus memikirkan apa ia akan melepaskan Stella begitu saja.


Jauh di dasar hatinya, ia merasa sangat berat kalau harus berpisah.


Tapi ia juga belum yakin kalau itu sebuah perasaan cinta.

__ADS_1


Pagi hari..


"Mas, bangun. Kamu tidak ke kantor?" Stella membangunkan Daniel yang tertidur di sofa.


Daniel membuka matanya, tapi tidak segera bangkit. Ia terdiam sejenak memperhatikan Stella yang sibuk mengisi koper dengan baju-bajunya.


"Kenapa kamu tidur di sofa? Apa kamu sudah tidak ingin tidur di sampingku?"


Daniel menghembuskan nafas panjang.


Ia bangkit dan berjalan mendekati Stella.


"Semalam Aku tidak bisa tidur. Aku duduk di sana dan sampai tertidur." Ujar Daniel.


Stella masih sibuk mengemasi barang-barang yang akan di bawanya.


"Kamu akan tinggal dimana? Dan bagaimana dengan aku?" Ucap Daniel lirih.


Stella bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan Daniel.


"Tanyakan pada hatimu. Apa yang kamu inginkan dariku?" Ucap Stella mengusap pipi Daniel.


Tidak ada jawaban, Daniel masih diam.


"Hatimu saja masih ragu untuk memintaku bertahan. Se rapuh inikah hubungan kita." Batin Stella.


"Yasudah, aku mau ganti baju dulu." ucap Stella.


Stella sudah selesai berkemas, dua buah koper pun sudah terisi penuh.


"Aku harus pergi Mas." Ucap Stella kembali menghampiri Daniel yang terus mematung menatap Stella.


Daniel hanya diam, hatinya memberontak untuk meminta Stella untuk tidak pergi. Tapi lidahnya seolah kellu tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


Dengan sebuah koper di tangan Stella turun Daniel pun mengekor di belakang sambil membawakan satu koper lainnya.


Semua keluarga sudah berkumpul.


"Stella, kamu benar-benar akan pergi?" Tanya Leo saat Stella sudah berada di lantai bawah.


"Iya, aku harus pergi." Jawab Stella.


"Niel, apa kamu tidak berusaha membujuk Stella?" Bisik Mama Sovia pada Daniel.


Daniel hanya diam.


"Nak, Ayah berharap kamu bisa tetap disini. Tapi ayah juga harus menghormati keputusanmu." Sambung pak Pratama.


"Iya, Yah. Maafkan Stella sudah membuat kegaduhan di keluarga ini." Ujar Stella.


"Tidak nak, Hadirnya kamu di keluarga ini banyak memberikan kebahagiaan." Ujar Pak Pratama saat Stella memeluknya.


Stella bergantian memeluk Mama Sovia.


"Mas, Aku pergi." Kini giliran Daniel yang di peluk.


Stella memeluk Daniel dengan eratnya. Jauh di dasar hatinya Stella sedikit kecewa karena Daniel benar-benar tidak mempertahankannya.


Bersambung.....


Hai guyyss....


Aku mau nanya nih, Menurut kalian ceritaku ini terlalu vulgar nggak? Soalnya aku ajuin kontrak di tolak dengan alasan terlalu vulgar.


Buat yang ngerti PUEBI komentarin juga dong kalo PUEBInya ada yang salah.


Terimakasih.....

__ADS_1


__ADS_2