Bukan Pernikahan Luar Biasa

Bukan Pernikahan Luar Biasa
38. Aku merindukanmu


__ADS_3

Karena kurangnya fentilasi udara dalam lift membuat hawa menjadi semakin panas.


Daniel pun melepaskan kaus yang sudah di penuhi peluhnya.


Daniel semakin panik saat nafas Stella mulai tersengal-senggal.


"Stella kamu baik-baik saja." Ucap Daniel mendekati Stella.


Daniel membuka dua kancing atas pada kemeja Stella, agar Stella bisa lebih leluasa bernafas.


"Mas, nafasku rasanya sesak sekali." Ucap Stella dengan suara melemas.


"Sabar, sebentar ya. Sebentar lagi pasti ada yang menolong kita." Ucap Daniel terus mengusap dahi Stella yang terus mengeluarkan keringat dingin.


Daniel yang kini sudah panik, Terus mencoba menekan tombol Darurat dan menggedor pintu lift.


Ia mencoba sekuat tenaga mencari pertolongan.


"Stella, Bangunlah! Jangan membuatku takut. Ujar Daniel meraih tubuh Stella yang sudah melemas.


"Stella! bangun sayang. Stella kumohon bangunlah!" Daniel terus mengguncang tubuh Stella yang sudah tak sadarkan diri.


"Tolong!!! Siapapun tolong lah kami!!" Daniel terus berteriak Sambil mendekap tubuh Stella.


"Tidak ada jalan lain." Ucap Daniel.


Daniel mendekatkan wajahnya pada wajah Stella, Dan menyatukan bibir mereka. Daniel terus meniupkan udara pada bibir Stella untuk memberikan nafas buatan.


Daniel sudah sangat panik hingga tidak tau lagi harus berbuat apa.


"Apa ada seseorang di dalam?" Teriak seseorang dari luar lift.


"Ya, kami terjebak di dalam. Tolong cepat bukakan lift-nya, Karena istriku sudah kehabisan oksigen." Teriak Daniel sudah sangat panik.


"Kami sedang berusaha pak! Usahakan terus berikan nafas buatan untuk istri bapak." Ujar seseorang lagi.


Daniel tak membuang waktu lagi. Ia segera memberikan nafas buatan kedalam mulut Stella.


Hingga akhirnya pintu lift pun terbuka.


Daniel segera memangku Tubuh Stella. Dan membawanya ke luar.

__ADS_1


"Segera bawa ke rumah sakit pak!" Ucap seseorang yang menolong mereka.


Tanpa perduli lagi pada tubuhnya yang tak mengenakan baju, Daniel segera berlari untuk membawa Stella ke rumah sakit yang ada di sebrang jalan hotel.


Daniel segera menaruh Stella di brangkar setelah sampai di rumah sakit.


"Cepat tolong istri saya! Dia kehabisan oksigen." Ujar Daniel pada Perawat yang langsung membawa Stella.


Dokter pun segera memasang selang oksigen dengan segera.


Di luar ruangan Daniel menunggu dengan perasaan cemas.


"Bagaimana keadaan istri saya?" Ujar Daniel saat dokter keluar dari ruang rawat Stella.


"Untungnya anda tidak terlambat membawa istri anda. Nafasnya mulai stabil lagi. Mungkin beberapa saat lagi istri anda akan segera siuman." ujar dokter.


Akhirnya Daniel bisa bernafas lega.


Ia segera menghampiri Stella yang masih terbaring lemas dengan alat bantu oksigen yang masih terpasang.


Daniel menggenggam tangan Stella yang masih terasa dingin.


Tidak ada kata-kata Yang bisa Daniel ucapan saat ini.


Daniel pun ikut berbaring di sisi Stella, Seolah ingin ikut merasakan sakit yang sedang di rasakan oleh Stella.


"Selamat pagi!." Ujar Daniel saat Stella membuka matanya setelah cukup lama tertidur setelah tidak sadarkan diri.


"Mas," Ucap Stella tersenyum.


"Bagaimana keadaanmu? apa sudah lebih baik?"Tanya Daniel.


"Ya. Terimakasih sudah menolongku, Semalam aku merasa sesak dan lemas sekali." ujar Stella dengan suara masih lemas.


"Lupakan kejadian semalam. Sekarang kamu sarapan ya!" ujar Daniel.


"Ponselku mana?" Stella teringat kalau dia harus ikut hadir di acara kantor.


"Apa kamu mau menghubungi seseorang?' Tanya Daniel.


" Ya." jawab Stella

__ADS_1


Daniel pun berjalan untuk mengambil ponsel Stella yang ia taruh di meja.


"Apa kamu akan menghubungi kekasihmu?" ucap Daniel seraya menyerahkan ponsel Stella.


Stella hanya tersenyum miris. Bagaimana bisa dia memiliki kekasih, kalau saat ini statusnya masih sebagai istri.


Stella menghubungi Pak Antoni.


"Kamu dimana Stell?" Tanya Pak Antoni saat Stella menghubunginya.


"Saya di rumah sakit yang ada di seberang hotel tempat kita menginap." Jawab Stella.


"Kamu kenapa Stell? kamu sakit?"


"Semalam saya terjebak di lift." ujar Stella lagi.


"Ya ampun, lalu bagaimana kondisi kamu saat ini?"


"Saya sudah membaik."


"Baiklah, saya kesana sekarang." ucap pa Antoni seraya menutup telponnya.


"Apa pacarmu akan datang kesini? kalau begitu biar aku pergi saja." ucap Daniel bangun dari duduknya.


Stella menggenggam tangan Daniel saat Daniel hendak pergi.


"Kenapa? Aku tidak mau mengganggu momen kalian--- " Ucapan Daniel terhenti saat Stella menaruh jari telunjuknya di bibir Daniel.


"Mas, Apa kamu tidak merindukanku?" Ucap Stella di hadapan Daniel.


Daniel kembali duduk di sisi ranjang Stella.


Daniel membantu saat Stella berusaha untuk mengganti posisinya menjadi duduk bersandar.


"Aku terlalu malu untuk mengatakan rindu, karena aku sudah bodoh karena membiarkan kamu pergi begitu saja." Ucap Daniel tertunduk.


"Mas, Apa aku boleh memelukmu. Aku sangat merindukanmu." ucap Stella lirih.


Dengan hati-hati Daniel memeluk Stella, dan mendekap tubuh wanita yang sebenarnya begitu ia rindukan.


Dengan mata terpejam Stella menikmati hangatnya dekapan Daniel.

__ADS_1


Begitupun dengan Daniel, Tanpa bicara ia terus mendekap Stella, matanya terpejam seolah sedang menumpahkan segala kerinduan yang selama ini di tutupinya.


Bersambung.....


__ADS_2