
Stella menatap sedih keluarga yang baru ia dapatkan kini harus dia tinggalkan lagi.
Stella berjalan keluar sambil mencoba mengukir senyuman tanda perpisahan.
"Non Stella tunggu!" Bi Imas memanggil.
"Non, Bibi ikut non ya!" Ujar Bi Imas yang sudah menenteng sebuah tas cukup besar.
"Tapi Bi, bagaimana aku bisa bayar Bibi?" Ujar Stella.
"Sudah Non jangan pikirkan itu." Ucap Bi Imas memaksa.
"Nyonya, maaf. Apa boleh saya ikut non Stella?" Ujar Bi Imas pada Mama Sovia.
"Boleh, tentu saja boleh." jawab Mama Sovia.
Bi Imas pun berpamitan pada semua keluarga.
"Stella pergi dulu." Pamit Stella pada semua keluarga.
Daniel membantu Stella untuk memasukkan kopernya kedalam taksi yang akan membawa Stella.
Sekali lagi Stella menatap Daniel Suaminya sebelum ia memasuki mobil.
"Mas, Apa aku boleh memelukmu sekali lagi?"
Stella langsung Berhambur saat Daniel mengangguk.
Stella pun melepaskan pelukannya.
Ada rasa perih, saat Daniel Benar-benar tidak mencegahnya atau berniat untuk ikut dengannya.
"Jalan Pak!" Suruh Stella pada sang sopir saat ia sudah di dalam mobil.
Stella menoleh ke belakang, menatap Daniel yang masih berdiri melepaskan kepergiannya.
"Kita mau kemana Non?" Tanya Bi Imas.
__ADS_1
"Ke Apartemen Uncle Will. Kita akan tinggal di sana, sampai aku dapat pekerjaan."
Bi Imas hanya mengangguk mengerti.
"Yang Sabar ya Non." Ujar Bi Imas.
"Iya Bi. Ini adalah konsekuensi yang harus aku terima atas kesalahan yang aku lakukan." Jawab Stella.
________
POV Daniel...
Mobil putih yang di tumpangi Stella sudah hilang dari pandanganku.
Tapi entah kenapa tubuhku rasanya enggan untuk beranjak dari tempat kini aku berdiri.
Tempat dimana aku melepaskan istriku.
Seperti ada goresan dalam hatiku yg menimbulkan sedikit rasa perih.
"Niel." Ku dengar Mama memanggilku.
Tapi ku abaikan, kakiku terus saja melangkah.
Saat ini aku sedang malas untuk berbicara dengan siapapun.
Ada rasa kecewa, kecewa kenapa harus jadi alat untuk membalas dendam dan di tinggalkan di saat aku mulai menikmati kehidupan baruku.
Sebenarnya bisa saja aku mencegahnya untuk pergi. Dan memintanya untuk tetap bertahan denganku. Tapi aku tidak melakukan itu, karena takut menjadi penghalang jikalau perasaan antara Leo dan Stella masih terjalin.
Aku bergegas menuju kamar mandi. Dan membiarkan tubuhku di guyur oleh air dari shower yang aku nyalakan sebelumnya.
Aku berusaha untuk mengendalikan diri, agar kejadian yang dulu pernah terjadi tidak terulang lagi.
Kejadian dimana aku begitu terpukul karena kehilangan.
.........
__ADS_1
Tok..Tok..
Suara ketukan pintu terdengar saat Daniel keluar dari kamar mandi.
Daniel pun segera membuka pintunya.
"Bang Daniel, maafkan aku. Seharusnya kemarin aku tidak begitu!" Ujar Leo tanpa basa-basi.
Daniel hanya diam, tidak tertarik untuk menjawab.
"Bang, seharusnya tadi kamu tahan supaya Stella tidak pergi." Ujar Leo lagi.
"Bukannya kemarin kamu bilang, kalau kamu mencintainya, Aku sudah melepaskannya. Untuk itu Kejar dia, Dan perbaiki hubungan kalian." Ujar Daniel dengan wajah datar.
Leo terdiam.
Sementara Daniel bergegas memakai pakaian kantornya.
"Aku pergi dulu!" Ucap Daniel setelah sudah rapi.
Daniel meninggalkan Leo yang masih di kamarnya, dan langsung menuju mobil untuk pergi ke kantornya.
Kali ini Daniel berniat untuk fokus dengan perusahaannya.
Dan mengenyampingkan dulu masalah tentang wanita.
Bersambung....
Terimakasih banyak buat yang kemarin udah bersedia jawab pertanyaan aku.
Jangan lupa dukungannya yaa...
Terimakasih...
Semoga kalian sehat selalu...
__ADS_1