
Setelah semua masalah yang terjadi, kini hari pernikahan pun sudah datang.
Kini semuanya sibuk bersiap.
Mama, Ayah, Daniel dan Stella memilih bersiap di rumah dan datang ke hotel tempat acara sudah dengan riasan dan pakaian rapi.
Gedung acara sudah siap dengan dekor mewahnya.
dan para pekerja wedding pun semakin sibuk karena tak lama lagi acara akan segala di mulai.
Mama dan keluarga lainnya berniat untuk menemui Leo yang sudah lebih dulu datang ke hotel.
"Mas, Apa boleh Aku menemui Sill.?" Tanya Stella yang lebih memilih untuk menemani Sill daripada ikut ke kamar Leo.
" Boleh. Biar aku antar." Daniel pun mengantar Stella menuju kamar Silvia, karena khawatir.
"Hai Sill!" Ucap Stella saat ia masuk kedalam kamar Silvia.
Dua orang
MUA yang sedang sibuk membubuhkan riasan pada wajah Sill,
"Hai Stell, Duduklah. Sebentar lagi aku selesai " Jawab Sill.
Setelah selesai dengan riasannya, kedua orang itupun mulai memakaikan gaun pengantin pada Sill.
Kesan mewah dan seksi melekat pada gaun pernikahan yang di kenakan Silvia.
Silvia pun sudah siap hanya tinggal menunggu acaranya di mulai.
"Kamu sangat cantik Sill." Puji Stella.
"Kamu juga cantik Stell, bahkan sebagai pengantin aku merasa kalah cantik dari kamu" jawab Silvia.
"Mana mungkin!. kamu tidak lihat perut ku buncit begini. Belum lagi berat badanku sekarang mulai bertambah." ujar Stella mengelak pujian dari Sill yang dirasanya berlebihan.
Tapi apa yang di katakan oleh Silvia memang benar. Stella terlihat sangat cantik.
Walaupun perutnya sedikit membuncit Stella tetap terlihat anggun dengan gaun berwarna gold yang di kenakan.
"Apa kamu gugup?" Tanya Stella saat melihat Sill sedikit cemas.
__ADS_1
"Iya, sedikit." Jawab Silvia
"Stell apa kamu mencintai suamimu?" Tanya Silvia tiba-tiba.
"Hah, kenapa kamu bertanya seperti itu? Tentu saja Aku sangat mencintainya. Terlebih setelah kehadiran Bayi kecil di dalam perutku ini. Rasa cinta kami bertambah berkali-kali lipat." Jawab Stella Sambil mengusap perutnya.
"Tapi kenapa kamu bertanya seperti itu?" Tanya Stella lagi.
"Ah, Tidak. Aku hanya senang kalau melihat pasangan yang saling mencintai." jawab Silvia.
Jauh di dasar hati Silvia, ia takut kalau cinta diantara Leo dan Stella kembali tumbuh suatu saat nanti.
Tapi melihat binar kebahagiaan di mata Stella, Sill yakin kalau semua itu tidak akan pernah terjadi.
Acara pun sudah di mulai, Dengan di dampingi oleh Stella dan satu teman yang lain Sill pun turun menuju tempat ia dan Leo mengikat janji nan suci.
Dengan mata berbinar dan senyuman Daniel terus menatap sang istri yang terlihat bak bidadari hari ini.
Janji suci pun terikat dengan sakralnya.
Bahkan Leo dan Silvia pun sempat meniti-kan air mata haru.
Mama Sovia pun tak kuasa menahan haru, ia menangis bahagia.
"Kamu sangat cantik sayang." Bisik Daniel di telinga Stella.
Tapi Stella tidak menggubris ucapan Daniel, ia terus memperhatikan Acara bertukar cincin yang sedang berlangsung.
Karena merasa di abaikan Daniel pun mendekap Stella, ia melingkarkan tangannya di pinggang Stella.
"Mas, lepas. Malu Banyak orang." Ucap Stella dengan suara berbisik.
"Sayang, ayo kita pulang." ajak Daniel. Karena Sesuatu sudah terasa mendesak di tubuhnya.
"Sebentar Mas. Acaranya belum selesai." Tolak Stella.
"Ayolah sayang." bujuk Daniel lagi.
Melihat Stella bak bidadari seperti ini membuat ia begitu bernafsu pada istrinya itu. Bahkan ular piton-nya kini sudah meronta-ronta ingin keluar.
"Kamu kenapa sih Mas, Aneh begitu?" Stella benar-benar heran dengan sikap Daniel.
__ADS_1
"Pokoknya kita pergi dari sini Sekarang. Aku mohon!" Daniel berusaha terus membujuk Stella.
Karena Daniel terus memaksa, Stella pun akhirnya menuruti keinginan suaminya untuk segera pergi dari pesta tersebut.
"Kamu sebenarnya kenapa sih mas?" Tanya Stella saat mereka sudah dalam mobil dan bersiap untuk meninggalkan pesta.
Daniel tidak menjawab, Ia langsung melajukan mobilnya.
Daniel sesekali menghembuskan nafas panjang, membuat Stella bingung dengan keadaan Daniel.
"Kamu sakit Mas?" Tanya Stella saat melihat Daniel mengeluarkan banyak keringat.
"Nggak sayang, aku nggak sakit."
"Terus kenapa?" Stella semakin Khawatir.
"Ayo turun!" Ajak Daniel
Stella pun semakin heran saat Daniel mengajaknya turun, padahal ini belum sampai di rumah.
"Ayo cepat!" Daniel menggandeng Stella agar bisa berjalan lebih cepat.
"Ngapain kita ke hotel Mas?" Bisik Stella saat Daniel sedang memesan sebuah kamar di hotel tersebut.
"Ayo!" Ajak Daniel lagi.
Daniel langsung mengajak Stella ke kamar yang mereka pesan.
"Kamu kenapa?" Tanya Stella saat di dalam kamar hotel.
"Sayang, aku sudah tidak tahan." Ucap Daniel sambil bersandar di pintu yang baru saja di kuncinya.
"Tidak tahan kenapa?"
"Entah kenapa melihat kamu berdandan seperti ini, Aku menjadi bernafsu sekali. Sebenarnya sudah Sejak dari rumah si piton meronta-ronta, tapi aku menahannya. Karena Nanti akan merusak penampilanmu yang sudah rapi. Jadi, apa Sekarang aku sudah boleh memintanya?" Ucap Daniel yang kini sudah memeluk Stella.
Bersambung....
Astaga.... Mas Daniel ada ada aja.
Emang kaga bisa nunggu sampe malem gitu.
__ADS_1
Wess kita bubar.. Mas Daniel udah kaga tahan katanya.
Jan ada yang ngintip ya!. Nanti matanya Bintitan loh. hahahaha ...