
Setelah hampir satu pekan, Daniel dan keluarga berada di Australia.
Kini mereka sudah kembali dan menjalani aktivitas seperti biasa.
Leo dan Silva sibuk dengan persiapan pernikahan yang akan mereka langsungkan di Indonesia.
Sementara Daniel semakin protektif pada Stella karena kini kehamilan Stella semakin membesar.
"Aku pergi dulu, Ingat pesanku! Jangan pergi kemana-mana. Kalau kamu butuh sesuatu bilang saja pada Bibi, biar dia belikan . Atau telpon saja padaku Nanti aku belikan setelah pulang dari kantor."
" Ia , Mas. Aku janji, tidak akan kemana-mana." Jawab Stella yang agak bosan dengan pesan Daniel, Karena hampir setiap hari Daniel berpesan seperti itu.
"Sayang, malam ini apa boleh aku meminta jatahku. Sudah beberapa bulan aku berpuasa. Rasanya aku sudah tidak tahan." Ujar Daniel yang bersandar manja di bahu Stella.
"Jatah apa Mas?" Goda Stella
"Ayolah, jangan pura-pura tidak mengerti. Setiap malam aku tersiksa karena dia terus meronta-ronta."Rengek Daniel.
"Baiklah, tapi pulanglah lebih cepat jangan terlalu larut." Jawab Stella.
"Oke! aku akan berusaha untuk pulang lebih cepat." Jawab Daniel bersemangat.
Setelah mengecup dahi Stella dan calon bayinya yang masih dalam perut, Daniel pun pergi ke kantor dengan perasaan gembira.
"Non mau di masakin apa hari ini? biar bibi belikan." Tanya Bi Imas Sebelum ia pergi berbelanja.
"Apa saja Bi. Tapi tolong beli buahnya lebih banyak, belakangan ini aku sering sekali ngemil."Ujar Stella.
"Iya Non. Bibi pergi dulu. Non hati-hati di rumah.”
"ya Bi."
Karena ia hanya seorang diri di rumah, Stella pun menyalakan televisi.
Tapi tak berapa lama suara bell pintu terdengar.
"Cepat sekali Bi Imas Pulang." Batin Stella.
Dengan berjalan perlahan Stella pun membuka pintu.
Ternyata Silvia sudah berdiri di sana.
" Hai, Stell.” Sapa Silvia.
"Hai, Sill. Masuk!" Ajak Stella.
"Tumben sekali kamu datang kesini, ada apa?" Tanya Stella saat mereka sudah duduk.
"Aku ambilkan minum dulu ya!, kebetulan Bibi lagi keluar." Sambung Stella lagi.
"Nggak usah Stell, Aku kesini cuma mau minta tolong." ucap Silvia.
"Minta tolong apa?" Tanya Stella.
"Tolong antar aku untuk fitting baju pengantin. Aku sudah mengajak Leo, tapi dia sibuk."Ucap Sill dengan wajah memelas.
"Tapi Sill---,,"
"Ayolah, Aku mohon." Ucap Silvia
__ADS_1
"Kalau begitu aku ijin Suamiku dulu ya." Ucap Stella seraya meraih ponselnya.
Tapi setelah beberapa kali Stella melakukan panggilan, Daniel tidak menjawab panggilan dari Stella.
"Mungkin suamimu sedang sibuk. Ayo kita pergi saja." Ajak Silvia.
"Tapi--," Jawab Stella ragu-ragu.
"Ayolah, Suamimu tidak akan marah, kamu kan hanya pergi denganku, bukan dengan laki-laki lain."
"Baiklah." Jawab Stella walaupun dengan perasaan bimbang.
"Kalau begitu, aku bersiap di dulu."
"Oke! Aku tunggu di sini." Jawab Sill.
Stella pun pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
Walaupun dengan perut yang sudah membuncit Stella tetap terlihat cantik dengan dress merah muda yang di kenakannya.
"Ayo." Ajak Sill bersemangat.
Sementara Stella pergi dengan suasana hati yang gamang, karena ia sudah mengingkari janjinya pada Daniel, untuk tidak pergi kemana-mana.
Saat dalam perjalanan Stella berusaha menghubungi Daniel kembali. Tapi tetap saja tidak mendapatkan jawaban.
" Kamu kenapa Stell? kelihatannya gelisah sekali." Tanya Sill sambil menyetir.
"Ah, tidak. Aku hanya sedang berusaha menelpon Suamiku, Untuk minta ijin pergi. Soalnya aku sudah berjanji untuk tidak kemana-mana." Jawab Stella.
"Sudah, tenang saja. Suamimu tidak akan marah." Silvia
Sill memarkirkan mobilnya setelah sampai di sebuah butik yang cukup terkenal di Jakarta.
Dengan berjalan perlahan Stella mengikuti langkah kaki Silvia yang begitu antusias.
"Lihat Stell, Gaunnya bagus-bagus sekali" Ucap Silvia saat sampai di ruang koleksi.
"Iya Sill, semuanya cantik-cantik." Jawab Stella yang ikut melihat-lihat koleksi gaun di butik tersebut.
Silvia pergi ke ruangan lain untuk menanyakan gaun pesanannya.
Sementara Stella masih melihat-lihat di ruang koleksi.
Melihat gaun-gaun yang indah, ia jadi teringat dengan perjalanan pernikahannya.
Pernikahan yang tidak di persiapkan bahkan tidak direncanakan.
Tidak ada gaun, atau pesta meriah pada umumnya.
Tapi ia bahagia, karena mendapatkan suami yang begitu mencintainya.
"Stell, coba lihat. Apa ini terlihat cocok denganku." Ucap Silvia yang mengejutkan Stella.
"Bagus, ini sangat cocok untukmu. Gaunnya sangat mewah." Jawab Stella sambil mengusap gaun pengantin yang di kenakan Silvia.
"Benarkah?" ucap Silvia lagi.
"Iya ini sangat bagus." jawab Stella lagi.
__ADS_1
Setelah mencoba beberapa gaun, Sill dan Stella pun meninggalkan butik tersebut.
"Stell apa tidak sebaiknya kita makan siang dulu." Ajak Silvia.
"Kita langsung pulang saja ya!" jawab Stella.
"Ayolah Stell, sudah lama kita tidak pergi dan makan bersama." Bujuk Silvia lagi.
Stella menghembuskan nafas panjang dan menyetujui ajakan Silvia untuk makan siang bersama.
Silvia pun kembali melajukan mobilnya menuju sebuah restoran.
"Kamu duduk dan pesan saja duluan. Aku mau ke toilet dulu sebentar." ujar Silvia saat sudah sampai di restoran.
"Baiklah." Jawab Stella dan duduk di kursi yang masih kosong.
Stella melihat-lihat menu makanan yang akan di pesannya.
"Kamu sedang apa di sini?" Suara bariton mengagetkan Stella.
"M-- Mas. Aku--," Stella terkejut saat melihat Daniel sudah berdiri di hadapannya.
"Ayo kita pulang" Ajak Daniel dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan.
Stella pun berjalan meninggalkan restoran dan mengikuti Daniel yang berjalan di depannya.
Tanpa bicara Daniel membukakan pintu mobil untuk Stella.
"Mas, maafkan aku. Tadi Silvia mengajakku untuk mengantarkannya fitting baju pengantin." Ujar Stella saat dalam perjalanan.
Tapi Daniel tidak menjawab, ia terus saja fokus pada kemudinya. Wajahnya menyiratkan bahwa ia sedang menahan amarah.
Terlebih Daniel melihat kaki Stella yang agak membengkak.
Mungkin itu karena Stella terlalu lelah berjalan hari ini.
"Mas, maafkan aku." Ucap Stella lagi.
Daniel tetap diam membisu, dan segera turun dari mobil setelah sampai di lobby apartemen mereka.
Daniel kembali membukakan pintu mobil untuk Stella.
Mereka berjalan sejajar, tanpa saling bicara .
"Mas Daniel sudah pulang?" Sapa Bi Imas saat melihat Daniel dan Stella datang bersamaan.
"Duduklah!," ucap Daniel pada Stella dengan raut datar.
"Bi ambilkan minyak gosok" Suruh Daniel pada Bi Imas.
Bi Imas pun kembali dengan minyak gosok yang di minta Daniel.
Tanpa banyak bicara Daniel pun duduk di dekat Stella. Daniel meletakkan kaki Stella di pangkuannya dan menggosokan minyak hangat di kaki Stella yang membengkak.
"Ganti pakaianmu, dan istirahatlah." Ucap Daniel yang meletakkan kaki Stella di kursi lalu pergi ke kamar.
Bersambung.....
Jangan lupa dukungannya ya....
__ADS_1
Terimakasih....