Bukan Pernikahan Luar Biasa

Bukan Pernikahan Luar Biasa
45. Dua pasangan bucin


__ADS_3

"Kamu mau makan apa? Biar aku pesankan." Tanya Silvia,


Silvia kesulitan untuk meraih ponselnya di atas meja, karena Leo mengapit tubuhnya.


"Apa saja." Jawab Leo yang masih bergeming memeluk Silvia.


"Lepas dulu, Aku kesulitan bergerak."


"Kamu sangat seksi sayang."


Silvia dan Leo masih betah bergelut di tempat tidur setelah permainan panas mereka.


"Aku pesankan Pizza ya!."


"Ok." Jawab Leo singkat, karena Leo pun sedang membaca pesan singkat di ponselnya.


"Mamaku, ingin bertemu kamu." Ucap Leo.


"Kapan?" Jawab Sill.


"Secepatnya, Kalau bisa."


"Boleh saja. Tapi apa kamu yakin mau menikah denganku? aku bukan perempuan baik, bahkan aku tidak bisa memasak."


"CK, aku juga bukan laki-laki baik." Jawab Leo.


"Baiklah, Aku mau mandi dulu." Stella bangkit dari tempat tidur, dan berlari kecil menuju kamar mandi.


Leo menaruh ponselnya, ia menghembuskan nafasnya. Ia menatap ke atas langit-langit kamar.


Entah apa yang sedang ada dalam pikirannya.


Leo seperti pasrah dengan jalan hidupnya saat ini.


"Kamu tidak mandi?" Tanya Silvia yang baru selesai mandi.


"Nanti saja. Kalau mau pulang." Jawab Leo.


Tak berapa lama terdengar suara bel berbunyi.


"Biar aku saja yang buka. Kamu lanjutkan saja ganti pakaiannya" Ucap Leo


"Ok, Terimakasih."


Leo pun menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.


Seorang kurir sudah ada di luar.


"Ini pesanan pizza-nya Pak" Ucap pak kurir ber baju merah.


Leo pun segera kembali setelah membayar dan mengambil pizza-nya.


"Pizza-nya sudah datang?" Tanya Silvia yang sudah selesai berganti pakaian.


"Iya." Leo memberikan pizza tersebut pada Sill.


"Ayo kita makan." Ajak Sill


Mereka berdua pun melahap pizza tersebut.


Tapi tiba-tiba bel kembali berbunyi.

__ADS_1


"Siapa lagi?" Ucap Sill heran.


"Lihat saja. Siapa tau tamu kamu. Jawab Leo


"Selain kamu, tidak ada yang pernah bertamu kesini." Ucap Sill sambil beranjak membuka pintu.


"Siapa ya?" Tanya Sill pada seseorang yang sudah berdiri di luar.


"Maaf Miss, Ini pesanan atas nama Bapak Leonard." Ucap kurir tersebut memberikan sebuah kotak berukuran cukup besar.


"Leonard?" Ucap Sill heran.


"Iya Miss, Silahkan diterima."


Sill pun menerima kotak tersebut dan kembali mengunci pintunya.


"Apa kamu memesan sesuatu?" Tanya Sill pada Leo.


"Iya, bukalah. Itu untuk kamu." Jawab Leo.


Silvia mengernyitkan dahi karena heran.


"Apa ini?"


"Buka saja."


Sill pun duduk di sisi ranjang dan membuka kotak tersebut.


"Cantik sekali," Wajah Sill berbinar saat melihat isi kotak Tersebut.


Setangkai mawar putih yang di taruh di wadah kaca, membuatnya terlihat sangat indah.



"Kamu suka?" Tanya Leo menghampiri Sill.


"Sangat suka. Ini sangat cantik." Jawab Sill senang.


"Aku memesannya tadi, anggap saja ini ucapan terimakasih dariku." Jawab Leo Sambil berdiri di hadapan Sill.


"Terimakasih." Ucap Sill memeluk Leo yang berdiri di hadapannya.


Sill memeluk Leo dengan posisi Leo berdiri, sementara ia masih duduk di sisi ranjang.


Leo tersenyum senang, karena usahanya untuk menyenangkan hati Sill berhasil.


Leo sangat faham, Silvia akan lebih suka di berikan hal-hal manis seperti ini, ketimbang barang-barang mewah.


Silvia seorang wanita karier yang sudah memiliki segalanya.


"Syukurlah, kalau kamu suka." Ucap Leo mengusap rambut Sill.


____________


Daniel dan Stella sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor.


Stella membantu Daniel memasang kancing kemejanya.


"Apa kamu yakin akan tetap bekerja?" Tanya Daniel Sambil mengusap pipi istrinya itu.


"Iya, Mas. Aku bosan kalau hanya di rumah saja." Jawab Stella Sambil terus merapihkan kemeja Daniel.

__ADS_1


"Yasudah, kalau itu mau kamu. Tapi jangan terlalu lelah ya!" Daniel menempelkan dahinya pada dahi Stella.


"Iya, Sayang." Jawab Stella Sambil memberikan kecupan di pipi Daniel.


"Sudah selesai. Ayo kita sarapan dulu, Sebelum berangkat." Ajak Stella.


Daniel pun menuruti ajakan Stella.


"Bibi sudah sarapan? Bibi juga jangan lupa sarapan ya!" Ucap Stella saat Bi Imas menyiapkan Sarapan untuk dia dan Daniel.


"Iya, Non. nanti Bibi sarapan."Jawab Bi Imas.


"Oh Iya, Bi. Tolong mulai kemas pakaian ku ya, sedikit-sedikit saja dulu. jangan langsung semua." Pinta Stella.


"Memangnya Non Stella mau kemana?"


"Kita mau pindah ke apartemen Mas Daniel, Tapi masih Minggu depan kok. Jadi kita leluasa buat beres-beres."


"Oh, Iya non. Nanti Bibi mulai beres-beres."


Setelah selesai sarapan, Daniel mengantarkan Stella terlebih dahulu sebelum ia ke kantornya.


"Aku turun dulu ya." Pamit Stella saat mobil mereka sudah sampai di kantor Stella.


"Tunggu dulu." Cegah Daniel.


"Ada apa?" Stella.


"Jangan tinggalin aku." Ucap Daniel merengek seperti anak bayi.


"Dih, kamu kesambet apa sih Mas?" Stella heran dengan sikap Daniel.


"Kamu ikut ke kantorku saja ya! Aku belum siap jauh-jauh dari kamu." Daniel mendekap Stella.


"Ya ampun Mas, nanti sore juga kita ketemu lagi." Jawab Stella, Sambil mengusap punggung Daniel yang memeluknya dengan erat.


"Iya. Tapi, aku pasti tersiksa. karena akan merindukanmu seharian ini."


"Kamu beneran kesambet ya?. Jadi lebay gini."


"Udah, Ah. Aku mau turun." Ucap Stella lagi.


"Sebentar lagi." Ucap Daniel Yang enggan melepaskan pelukannya.


"Mas,Ini sudah siang. Nanti kamu juga terlambat loh."


"Iya, iya." Daniel pun melepaskan pelukannya.


"Aku kerja dulu ya!" Pamit Stella.


Stella mengecup tangan dan kedua pipi Daniel sebelum turun dari mobil.


Daniel tidak langsung pergi. Ia menunggu Stella hilang dari pandangannya.


"Ya ampun, Kenapa aku jadi bucin gini ya! Sudah seperti anak ABG saja." Ucap Daniel


Daniel tersenyum, menertawakan dirinya sendiri dan kembali melajukan mobilnya.


Bersambung....


Semoga Bab 45 ini review-nya nggak lama ya. Nggak kaya bab 44 hampir dua hari baru lulus review.

__ADS_1


__ADS_2