
"Aku mohon pergilah dari kamar ini!" Ucap Stella sambil menahan sakit di perutnya.
"Baiklah, aku akan pergi, dan aku tidak akan mengatakan apapun pada Bang Daniel sebelum mendapatkan jawaban darimu." Jawab Leo.
"Aku hanya ingin kamu tau, kalau aku sangat mencintaimu." Ucap Leo hendak mengusap bibir Stella, tapi itu tidak terjadi karena Stella menghindarinya.
Leo pun pergi meninggalkan kamar Daniel.
Air mata tiba-tiba mengalir begitu deras di pipi Stella.
Apa yang sudah aku lakukan?
Dan apa yang harus aku lakukan?
Kata-kata itulah yang kini sedang berkecamuk dalam pikiran Stella.
Stella tidur meringkuk sambil menangis.
"Kamu masih tidur?" Suara Daniel terdengar
Stella segera menghapus air matanya, dan berpura-pura tertidur.
"Hei," Daniel mengusap pipi Stella.
"Mas, Kamu sudah pulang?" Jawab Stella berusaha bersikap biasa saja.
"Ia, aku kan sudah berjanji akan langsung pulang saat selesai meeting." Daniel
"Aku ada hadiah untuk kamu" Ucap Daniel menyodorkan Sebuah kotak dan satu buket bunga yang di belinya saat perjalanan pulang.
"Terimakasih Mas." Jawab Stella sambil memeluk Daniel.
Daniel merasa heran dengan sikap Stella yang tidak antusias seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Apa sakitnya semakin parah? kalau begitu kita ke dokter sekarang." ujar Daniel panik.
"Tidak Mas, Aku tidak apa-apa." Jawab Stella Sambil terus memeluk Daniel.
"Terus kenapa? kok tiba-tiba peluk gini?"
"Nggak apa-apa mas. Emang aku nggak boleh peluk suami sendiri."
"Oh, boleh, tentu saja boleh. Tapi kamu harus lihat dulu hadiah dariku." ucap Daniel.
Stella melepaskan pelukannya, dan mengusap air mata yang terlanjur lepas dari pelupuk matanya.
"Kamu menangis?" Tanya Daniel.
"Hah, Ti-tidak. Aku tidak menangis!"
"Buka dulu hadiahnya." Suruh Daniel lagi.
Ia membuka kotak hadiah dari Daniel.
Air matanya pun luruh tak tertahan, saat di tatapnya dua buku berwarna merah dan hijau yang ada di dalam kotak tersebut.
"Sekarang pernikahan kita sudah di akui oleh negara." ucap Daniel tersenyum.
"Tapi kenapa kamu menangis? Apa kamu tidak setuju kalau aku mendaftarkan pernikahan kita ke catatan negara?" Tanya Daniel.
Stella menggelengkan kepalanya.
"Aku bahagia, Mas." Jawab Stella di sela tangisnya.
"Kalau bahagia, jangan menangis gitu dong!"ucap Daniel mengusap pipi Stella yang basah.
Hati Stella semakin galau, Dengan buku pernikahan yang di bawa Daniel berarti pernikahan mereka sudah terikat semakin erat.
__ADS_1
"Oh iya, kamu sudah makan belum? kalau belum aku ambilkan ya!"
"Sudah Mas, aku sudah makan." Jawab Stella berbohong.
Stella melihat wajah Daniel yang begitu berbinar.
Apakah Stella sanggup mengecewakan orang sebaik Daniel?
Dengan masih menggunakan pakaian kantor Daniel duduk semakin dekat dengan Stella.
Daniel menggenggam kedua tangan Stella.
"Buku pernikahan ini menandakan bahwa kita sudah saling memiliki sepenuhnya. Aku memilikimu seutuhnya begitupun sebaliknya. Besok aku akan menurunkan foto-foto Shanum dari dinding kamar ini dan menyimpannya di lemari." Ujar Daniel Sambil mengecup dahi Stella.
Stella mencoba tersenyum di balik kegundahannya.
Stella pun kembali memeluk Daniel.
"Iya Mas, aku milikmu sepenuhnya." ujar Stella.
Daniel pun membalas pelukan Stella.
"Aku mau mandi dulu." ujar Daniel.
"Oh iya. Maaf ya aku jadi cengeng gini." ucap Stella menghapus air matanya.
Daniel pun berlalu untuk mandi.
Stella kembali meraih bunga dan buku pernikahan yang di berikan Daniel dan mendekap keduanya.
"Yang di ucapkan Leo itu tidak sepenuhnya benar, Daniel begitu menghormati ku, meskipun saat ini cintanya masih untuk Shanum. Buktinya Daniel bersedia menurunkan foto-foto Shanum dari dinding kamar. Walaupun Daniel masih menyimpannya di lemari, setidaknya Daniel perduli dengan perasaanku." Ucap Stella dalam hati.
Bersambung.....
__ADS_1