
Stella dengan di bantu Bibi sedang berkemas karena besok akan berangkat ke Australia untuk menghadiri acara pertunangan Leo.
Stella merasa senang karena ia juga akan sekalian berkunjung ke rumah Omanya.
"Apa masih ada yang bisa bibi bantu Non?"Tanya Bibi.
"Tidak ada bi, Bibi istirahat saja." Jawab Stella.
Setelah Bi Imas keluar Stella merebahkan diri di ranjang untuk menunggu suami kesayangannya pulang.
Tapi karena hari ini cukup melelahkan Stella pun terlelap.
Stella membuka mata setelah mendengar bunyi alaram di ponselnya.
Sementara sebuah tubuh kokoh yang beraroma maskulin sudah setia mendekapnya.
Stella sedikit menggeser tubuhnya untuk meraih ponselnya di meja dekat tempat tidurnya.
Merasa ada pergerakan Daniel pun ikut bergeser untuk kembali menempel pada Stella.
"Mas, Kamu pulang jam berapa semalam? Kenapa tidak membangunkan aku."
"Aku pulang agak larut Karena harus membereskan pekerjaan karena akan di tinggal ke Australi besok." Jawab Daniel sambil terus melesak manja di tubuh Stella.
Stella pun mengusap rambut Daniel dengan lembut.
"Kita harus cepat bersiap Mas, Nanti kita terlambat." Ujar Stella lagi.
Stella berusaha menggeser tubuhnya dari dekapan Daniel untuk segera bersiap.
"Sebentar lagi sayang!" Daniel semakin mengetatkan pelukannya agar Stella tidak menjauh.
Tidak lama kemudian ponsel Stella pun berdering.
Ternyata Mama Sofia yang menelpon.
"Apa kalian sudah bersiap?" Tanya Mama di seberang sana.
"I- iya mAm, Kami sedang bersiap." Jawab Stella gugup.
"Yasudah, Mama Tunggu Di bandara Ya."
"Iya Mam."
Stella pun menutup sambungan telponnya.
"Tuh kan mas, Mama udah nelpon. Ayo cepat Siap-siap." Ucap Stella panik.
__ADS_1
"Iya, Iya." Jawab Daniel Dengan Santainya.
Stella pun bersiap dengan sangat terburu-buru.
"Hati-hati." Ucap Daniel ketika melihat Stella jalan terburu-buru Saat di bandara.
"Kita sudah terlambat Mas!" Jawab Stella Sambil terus menarik tangan Daniel untuk berjalan lebih cepat.
Tak berapa Lama Stella pun melihat Mama, Pak Pratama, Leo dan Silvia.
Dengan langkah tergopoh-gopoh Stella dan Daniel menghampiri mereka.
"Kenapa kalian terlambat? Ayo Sebentar lagi sudah waktunya berngkat"Ujar mama sambil menggandeng Stella untuk berjalan sejajar.
"Biasa Mam, Drama bayi besar." Jawab Stella kesal. Membuat Mama dan Ayah tergelak.
Sementara Leo dan Stella berjalan beriringan di belakang.
"Aku ikut bahagia melihat Stella Bahagia dengan pasangannya. Aku tidak menyangka dia akan menikah lebih dulu dari pada aku."Ujar Silvia pada Leo.
Leo hanya menjawab dengan senyuman datar.
------
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang mereka pun kini sudah damai di Australia.
"Aku langsung kekamarku ya, Kasihan Stella pasti kelelahan." Ucap Daniel pada semuanya.
"Yasudah, kalian istirahat. Mama sama Ayah juga mau istirahat." Jawab Mama.
Leo dan Silvia pun berpamitan untuk pergi ke gedung dimana akan menjadi tempat pertunangan mereka.
"Momy, Dadu." Sill langsung memeluk kedua orang tuanya yang ternyata juga sedang meninjau perkembangan persiapan untuk acara.
Kedua orang tua Sill juga memeluk Leo, Si pria tampan yang mampu mengobati luka hati putri mereka.
"Kalian tenang saja. Semuanya akan berjalan lancar." Ucap Ayah Silvia sambil berjalan untuk terus meninjau persiapan.
"Kalian tidur di rumah Momy kan?"Tanya Momy Silvia.
"Tapi saya sudah booking hotel bersama keluarga saya." Jawab Leo sopan.
"Kenapa harus mem-booking hotel, rumah kami juga cukup untuk menyambut kalian."
"Tidak Apa-apa, itu permintaan dari keluarga saya. Katanya agar tidak merepotkan."
"Yasudah, kalau begitu sebaiknya kita lihat persiapan yang lainnya."Sambung Ayah Silvia.
__ADS_1
------
Di tempat lain dua sejoli masih terus saling menempel.
Daniel berbaring di paha Stella sambil terus mengelus perut Stella yng sedikit terlihat membuncit.
"Mas, malam ini kita ke rumah Oma ya."Pinta Stella.
"Besok saja, sekarang kamu masih lelah."
"Tapi Mas. Aku sangat merindukan mereka." Ucap stella memelas.
Jauh di dasar hati Stella, bukan hanya rindu yang di rasakan, tapi jug rasa bimbang apakah mereka masih akan menerima dirinya, kalau tau bahwa kenyataannya stella bukanlah keluarga sebenarnya.
"Memangnya kamu tidak lelah?"
"Tidak Mas, Ayolah. Aku mohon!"
"Baiklah kita kesana malam ini."
Stella pun tersenyum sumringah, karena Daniel memenuhi keinginannya.
Sore hari...
Daniel merubah jadwal. Yang tadinya akan pergi ke rumah Oma malam hari menjadi sore hari, Karena melihat Stella yang sudah tidak sabar untuk bertemu keluarganya.
"Kamu gugup?" Tanya Daniel saat dalam perjalanan menuju rumah Oma.
Dabiel mendapati tangan Stella yang terasa dingin.
Stella mengangguk dan berkata.
"Sudah lama Aku tidak bertemu mereka."
"Seharusnya Aku yang Gugup. Karena belum pernah bertemu mereka sebelumnya." ujar Daniel.
"Apa mereka akan menyukai aku?" Tanya Daniel lagi.
Ia berusaha membuka percakapan agar Stella tidak gugup lagi.
"Tidak Mas. pertama tama Uncle ku akan memukul kamu. terus Oma akan mengetuk kepala kamu dengan tongkatnya."Ucap Stella sambil menahan tawanya.
"Benarkah? Kalau begitu kita batalkan saja kesananya."
"Tidak Mas, Aku hanya bercanda." Jawab Stella sambil tertawa.
"Mereka Orang-orang baik, bahkan sangat baik." Sambung Stella dengan tatapan nanar.
__ADS_1
Bersambung