Bukan Pernikahan Luar Biasa

Bukan Pernikahan Luar Biasa
43. Harapan kedua.


__ADS_3

Kali ini Daniel ikut pulang ke apartemen Stella.


Sejak dari lantai bawah sampai di depan kamar apartemen Stella Daniel tidak melepaskan tangan Stella dari genggamannya.


Daniel berjanji pada dirinya untuk tidak lagi melepaskan Stella.


Hari sudah cukup malam. Stella membuka pintu apartemennya tanpa membangunkan Bi Imas.


"Ayo, Mas." Ajak Stella.


Daniel mengamati suasana Apartemen.


"Non Stella sudah pulang." Ucap Bi Imas yang terjaga karena kedatangan Stella.


"Mas, Daniel?" Bi Imas terkejut saat melihat Daniel bersama Stella.


"Iya Bi, Ini saya." Jawab Daniel yang sudah duduk di sofa.


"Ya Allah, Mas. Bi Imas seneng Pisan lihat Mas Daniel sama Non Stella lagi." Ucap Bi Imas terharu.


Stella ikut tersenyum haru.


"Udah Bi, jangan nangis gitu! Nanti Aku ikutan nangis." Stella mengusap lengan Bi Imas.


"Bi Imas, nangis karena bahagia Non."


"Iya Bi, makasih ya!" Oh Iya. tadi sebelum pulang Aku mampir ke toko, Aku beliin baju nih buat Bibi." ucap Stella lagi.


"Makasih Non." Bi Imas meraih bungkusan yang di berikan Stella dengan gembira.


"Kalau gitu kita ke kamar dulu ya." pamit Stella Sambil merangkul Daniel.


"Iya Non."


"Oh, iya Non. Apa mau Bi Imas buatkan makanan?"


"Tidak usah Bi. Ini udah malem, Bi Imas istirahat aja."


Stella pun langsung pun langsung masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Penyesalanku sepertinya bertambah." Ucap Daniel Sambil memeluk Stella dari belakang.


Stella tidak mengerti apa yang di maksud Daniel.


Stella memutar tubuhnya, hingga kini ia sudah berhadapan dengan Daniel.


"Penyesalan? Penyesalan apa?" Stella menatap penuh tanya.


"Aku menyesal karena pernah mengabaikan wanita sebaik kamu." Jawab Daniel dengan kecupan yang mendarat di pipi Stella.


Dan di lanjutkan dengan pelukan hangat.


_________


Saat perjalanan pulang, Leo terus terngiang dengan pertemuannya dengan Silvia.


Leo memikirkan bagaimana bisa dirinya mengajak Silvia menikah.


Padahal tidak terpikirkan sebelumnya, kalau Silvia lah yang akan di jadikannya sebagai istri.


"Mungkin inilah yang di sebut jodoh. Jodoh bisa datang dari mana saja, bahkan orang yang tidak pernah di duga sekalipun." Batin Leo.


"Mama belum Tidur?" Tanya Leo saat mendapati Mama Sovia sedang mengambil air minum.


"Mama belum ngantuk Lee," Jawab Mama Sovia.


Leo menghampiri sang Mama.


"Tapi ini sudah larut Mam, Mama harus tidur. Apalagi Mama sedang kurang sehat."


"Iya Lee, Mama akan segera tidur." Jawab Mama Sovia sambil menyuguhkan segelas air pada anak bungsunya itu.


"Mama jangan terlalu banyak pikiran. Untuk masalah permintaan Mama kemarin, Leo akan segera mengabulkannya." Jawab Leo setelah meneguk air yang di berikan Mama-nya.


"Oh, Ya. Kamu serius nak?" Jawab Mama Sovia antusias.


"Iya Mam, Leo akan kenalkan dia secepatnya." Jawab Leo.


"Mama tunggu ya."

__ADS_1


"Iya, Mam. Sebaiknya Mama segera tidur." Suruh Leo.


Leo pun langsung pergi ke kamarnya saat Mama Sovia sudah terlebih dulu masuk kamar.


Leo mengambil ponselnya yang ia simpan di saku.


Ia mencoba menghubungi Silvia.


"Halo," Jawab Silvia di seberang sana.


"Apa kamu sudah tidur?" Tanya Leo.


"Belum, ada apa?"


"Apa besok kamu akan sibuk?"


"Besok kan weekend, jadi aku cuma di apartemen saja."


"Apa besok aku boleh datang ke apartemen kamu?" Tanya Leo lagi.


"Ke apartemenku?, Boleh. Datang saja." Jawab Silvia.


"Baiklah, Besok aku kesana."


"Okay, aku tunggu."


Sambungan telepon pun terputus.


Silvia termenung, memikirkan yang terjadi hari ini.


Jujur saja, Silvia senang dengan lamaran Leo tadi siang.


Tapi Silvia tidak terlalu menanggapinya dengan serius.


Ia takut, takut kembali memiliki harapan dan kembali terhempas.


Sejak kehilangan Will, Silvia lebih mengendalikan dirinya untuk tidak mudah berharap dengan suatu hubungan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2