
Kehamilan Stella sudah masuk bulan ke sembilan.
Stella sudah mulai kesulitan untuk beraktivitas.
Sudah dua hari ini Daniel tidak pergi ke kantor dan menemani Stella di rumah sakit, Karena sejak kemarin Stella mengalami sakit di perutnya, Dan kata dokter yang memeriksanya itu hanya kontraksi palsu karena waktu kelahiran masih satu Minggu ke depan.
Daniel memilih untuk tetap di rumah sakit meskipun Mama Sovia ada di sana. Daniel sangat cemas dan tidak tega saat melihat Stella kesakitan.
Daniel tidak membiarkan Stella merasakan sakit sendirian.
Daniel duduk di sisi Stella , Dan Terus memeluk tubuh Stella, Seolah ingin mengurangi Rasa sakit yang sedang di alaminya.
(Foto hanya pemanis Guyyss)
"Niel, kamu sebaiknya makan dulu. Sejak pagi kamu belum makan apapun." Ucap Mama yang masih menemani di rumah sakit.
"Iya Mam, nanti saja." Jawab Daniel.
"Iya, Mas. Benar Apa kata Mama, Sebaiknya kamu makan dulu" Ucap Stella sambil menahan sakit.
"Iya Niel, Mama sengaja bawa dari rumah buat kalian berdua."
"Aku makan, tapi kamu juga makan ya!" Tawar Daniel pada Stella.
Daniel tau kalau sejak kemarin Stella hanya makan sedikit.
Stella pun setuju, agar Daniel bersedia untuk makan.
__ADS_1
Daniel memakan makanannya sambil menyuapi Stella.
Baru beberapa suap mereka melahap Stella meringis karena merasakan sakit luar biasa di perutnya.
Daniel pun langsung menyudahi makannya.
"Kamu kenapa sayang?" Ucap Daniel panik.
"Mas, Perut aku sakit banget." Jawab Stella dengan wajah menahan sakit.
Dengan sigap Daniel membaringkan Stella di ranjang pasien dan langsung menekan Bell untuk memanggil dokter.
Tidak membutuhkan waktu lama, dokter pun sampai di ruangan Stella.
Dokter langsung melakukan pemeriksaan pada Stella.
"Ternyata Ibu Stella akan segera melahirkan, dan sudah mulai ada pembukaan." Ucap Dokter setelah melakukan pemeriksaan.
"Iya, Pak. Kadang hari perkiraan lahir bisa kurang atau bisa lebih."Jelas sang Dokter.
"Saya tinggal dulu ya, nanti ada suster yang akan mengontrol setiap tiga puluh menit. Kalau ada apa-apa Bapak bisa langsung panggil kami lagi." Sambung Dokter, sebelum kembali pergi.
Rasa mulas yang di rasakan Stella semakin menjadi, seiiring dengan pembukaan yang bertambah.
Stella pun meremas kuat tangan Daniel saat sakitnya tak tertahankan.
Daniel tidak bisa bicara apa-apa. Ia hanya bisa menggenggam tangan Stella sambil sesekali menciumi kepalanya.
Daniel pun segera memanggil dokter kembali, Karena melihat kondisi Stella yang semakin kesakitan.
__ADS_1
Mama Sovia pun mengusap lembut perut Stella.
Ia sangat tau bagaimana sakitnya saat kontraksi seperti ini.
Dokter pun sudah kembali memeriksa keadaan Stella.
"Daniel takut Mam."Ucap Daniel Sambil memeluk Mama Sovia.
Daniel merasa tak tega dengan keadaan Stella.
Daniel semakin tegang dan cemas saat Stella sedang berjuang untuk melahirkan buah cinta mereka.
"Kamu pasti bisa sayang." Bisik Daniel Yang setia berada di sisi Stella.
Sementara di luar ruangan, Mama Sovia mencoba menghubungi keluarga yang lain kalau Stella sedang dalam proses melahirkan.
Air mata Daniel menetes, saat bayi kecil yang selama ini dalam kandungan Stella sudah lahir ke dunia.
"Terimakasih untuk semuanya sayang " Ucap Daniel Sambil mengusap air mata bahagianya.
Daniel pun di minta untuk melakukan skin to skin saat bayinya selesai di bersihkan.
Daniel membuka bajunya dan dokter pun menengkurap-kan bayinya di atas dada Daniel.
Mama Sovia duduk di sisi Stella yang masih dalam keadaan lemas tak berdaya.
Dengan wajah yang masih pucat, Stella Tersenyum bahagia saat melihat bayinya terlihat nyaman dalam dekapan Daniel.
Bersambung....
__ADS_1
Bikin Story' ngelahirin kok aku jadi ikutan ngilu.