Bukan Pernikahan Luar Biasa

Bukan Pernikahan Luar Biasa
36. Teringat


__ADS_3

Hari-hari Daniel kini berjalan seperti sebelumnya. Sepi dan tidak ada lagi senyuman manis di wajahnya.


Pagi-pagi berangkat bekerja, dan pulang larut malam sudah menjadi rutinitas selama beberapa bulan terakhir.


Ia menjadi begitu giat bekerja.


Seperti pagi ini Daniel sedang bersiap untuk pergi ke kantor.


"Niel, Kita sarapan bareng ya! Sudah lama kita tidak makan sama-sama. Sejak Stella pergi seperti ada jarak antara kamu sama Leo" Ujar Mama Sovia dengan wajah memelas.


Mama Sovia sengaja datang ke kamar Daniel untuk mengajak Daniel berkumpul dan bercengkrama.


"Daniel buru-buru Mam," Ucap Daniel sopan agar tidak menyakiti hati ibunya tersebut.


"Niel, kalau kamu mencintai Stella. Carilah dia nak! Mama yakin dia juga sangat mencintaimu." ujar Mama Sovia.


Daniel yang sedang memakai kemejanya menghentikan kegiatannya sejenak.


"Stella mencintai Leo Mam, kami menikah hanya karena kecelakaan bukan karena saling mencintai." Ucapannya seraya kembali mengancingkan kemejanya.


Mama Sovia menghembuskan nafas panjang.


"Leo sudah minta maaf Niel, dia juga sudah berjanji akan melupakan Stella. Dia juga sudah Mama suruh untuk cepat mencari calon istri."


"Tapi Mam, mereka berhubungan dengan waktu yang cukup panjang. Aku takut menghalangi jalan mereka untuk bersatu." Jelas Daniel.


"Jangan begitu Niel. Stella dan Leo hanya pernah berpacaran. Sementara kamu sama Stella sudah suami istri. Atau jangan-jangan kamu cemburu?"


"Kalau di hati kamu ada rasa cemburu berarti Stella sudah singgah di hati kamu Niel." sambung Mama.


Mama Sovia bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Mama tunggu di meja makan ya!. Kita sarapan sama-sama." Ujar Mama lagi seraya pergi dari kamar Daniel.


Daniel menghempaskan tubuhnya di sofa.


Ia sudah berusaha keras untuk melupakan Stella.


Tapi tetap saja ia tidak bisa menyangkal kalau hatinya sangat rindu.


Daniel mengambil ponselnya.


Ia membuka aplikasi hijau yang ada di ponselnya.


Daniel memandangi Sebuah kontak bertuliskan MY WIFE dengan foto seorang wanita sedang tersenyum.


"Apa aku harus menelponnya? Tapi apa tidak akan memalukan? Aku bahkan mengabaikannya saat dia berharap aku mencegah kepergiannya." Ucap Daniel bermonolog.


Daniel pun menekan tulisan BACK di ponselnya.


Ia merasa sangat malu pada dirinya sendiri.


Daniel pun segera turun dari kamarnya.


"Niel, Kamu sarapan dulu sini!" panggil Ayahnya yang sudah duduk di kursi meja makan.


"Nggak Yah, Daniel sudah terlambat." Ujar Daniel menenggak segelas air putih.


"Aku pergi!" Pamit Daniel.


________


Tiga bulan sejak perpisahannya dengan Daniel, kini Stella menjelma menjadi seorang wanita karier, dan hari-harinya di sibukkan untuk bekerja.

__ADS_1


"Pagi Stella." Sapa Bu Diana Istri dari Pak Antoni.


"Pagi juga Bu." Stella kembali menyapa dengan senyumannya.


"Stell hari Minggu nanti kamu sibuk tidak? Kalau tidak sibuk kita ke mall yuk!"


"Eemm boleh Bu!, Kebetulan saya tidak sibuk."


"Ok, nanti saya kabari lagi ya." Bu Diana.


"Baik, Bu." Jawab Stella.


Setelah beberapa bulan menjadi sekertaris pak Antoni, Stella menjadi akrab dengan Bu Diana.


Bu Diana cukup dekat dengan Stella.


Mereka kadang berbelanja dan mengobrol bersama saat hari libur.


"Aku suka deh sama Stella. Dia beda sama sekertaris kamu yang sebelumnya. Pakaiannya juga rapi, tidak terbuka di sana sini." Ujar Bu Diana saat sudah di ruangan Pak Antoni.


"Dia juga sangat bersemangat dalam bekerja." Ucap Pak Antoni menimpali.


"Dia masih gadis atau sudah menikah ya? Aku mau tanya tapi nggak enak." Ujar Bu Diana pada Pak Antoni suaminya.


"Kalau dari CV Lamaran statusnya sudah menikah." Jawab Pak Antoni.


"Sayang sekali ya! Padahal Aku niatnya mau kenalin dia sama sepupuku."Ujar Bu Diana berandai.


"CK, Kamu itu ada-ada saja." Jawab Pak Antoni.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2