Bukan Pernikahan Luar Biasa

Bukan Pernikahan Luar Biasa
47. Minta cucu.


__ADS_3

Dengan secangkir kopi yang di pesan, Leo duduk termenung Di kantin dekat rumah sakit.


Leo masih ingat jelas, bagaimana bahagianya wajah Daniel tadi.


Itu semakin membuat rencana Leo untuk menikahi Silvia semakin kuat.


Ia harus cepat memperbaiki keadaan.


"Kamu sudah pulang?" Daniel mengirim sebuah pesan singkat pada Silvia.


"Belum, mungkin agak malam. Ada apa?" Balas Silvia.


"Aku akan datang ke apartemen kamu." Leo kembali mengirimkan pesan.


"Kenapa? Apa ada masalah?"


"Tidak, tidak ada apa-apa."


"Ok, Kalau begitu aku pulang lebih awal hari ini." Balas Silvia.


"Apa tidak jadi masalah?" Leo tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, santai saja."


Leo kembali memasukan ponselnya kedalam saku. Dan bangkit dari duduknya.


Leo kembali menuju ruangan Mama Sovia.


Leo di suguhkan keromantisan Daniel dan Stella saat sudah kembali ke kamar rawat Mama Sovia.


Leo melihat Daniel Duduk sambil terus merangkul Stella, dan sesekali mencuri curi kecupan pada Stella.


"Mam, Malam ini Leo tidak pulang ya! Leo ada keperluan." Ucap Leo pada Mama yang sedang di temani Pak Pratama.


"Kamu mau kemana Lee? Jangan terlalu sering pergi ke klub malam, tidak baik untuk kesehatanmu kalau terlalu sering bergadang." Ucap Pak Pratama.


"Nggak, Yah. Leo bukan mau pergi ke klub. Leo benar-benar ada keperluan."


"Mama nggak apa-apa kan kalo Leo tinggal. Disini kan juga ada Bang Daniel." Leo mendekati Mama Sovia.


"Iya, tidak apa-apa. Ingat kata ayahmu tadi. Jangan pergi ke klub."


"Iya, Mama." Ucap Leo mengecup dahi sang Mama.


"Bang, Aku pergi dulu." Ucap Leo saat melewati Daniel yang sedang duduk bersama Stella.


Leo kembali mengemudikan mobilnya, ia akan pulang terlebih dahulu sebelum ke apartemen Silvia.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Leo langsung pergi ke apartemen Silvia.


"Kamu Baru pulang?" Tanya Leo karena Silvia masih mengenakan pakaian kantor saat membukakan pintu.


"Iya, Aku baru sampai." Jawab Silvia yang langsung merebahkan diri di ranjang.

__ADS_1


Sementara Leo duduk di sofa yang ada di dekat ranjang.


" Aku mau Kita menikah secepatnya. Kalau perlu bulan ini juga" Ujar Leo.


"Whatt! Kenapa terburu-buru sekali?" Silvia yang sedang berbaring pun seketika duduk karena terkejut.


"Kenapa terkejut begitu?" Leo menghampiri Silvia ke atas ranjang.


Leo berbaring di pangkuan Silvia, dan mencerukan wajahnya pada perut langsing Silvia.


"Kamu ini kenapa Lee? Apa ada masalah?" Tanya Silvia.


"Aku merasa kesepian. Aku ingin memiliki pendamping, pendamping Yang akan menemaniku di setiap keadaan." Jawab Leo yang mendongakkan wajahnya untuk beradu pandang dengan Silvia.


"Ya, Setidaknya Kita temui dulu orang tuaku,." Jawab Silvia Sambil mengusap rambut Leo.


"Kita harus secepatnya menemui orang tuamu."


"Aku masih belum percaya, Kalau kamu se-serius ini."


"Weekend nanti, Aku akan ajak kamu bertemu dengan keluargaku."


"Baiklah." Jawab Silvia.


"Kamu sudah makan?" Tanya Leo.


"Belum, nanti aku pesan makanan online saja." Jawab Silvia.


"Kita makan di luar, ?" Leo


"Ada pokoknya."


"Baiklah, aku mandi dan ganti baju dulu." Ucap Silvia.


"Tidak usah mandi, ganti baju aja pake baju santai."


"Oke." Silvia pun bangkit dari tempat tidur.


Tanpa ragu Silvia membuka kemeja kantornya, Dengan dada yang hanya di tutupi B*a, Silvia berjalan menuju westafel untuk mencuci wajahnya.


Setelah selesai mencuci wajahnya, Sill mengenakan pakaian yang lebih santai dan sedikit berdandan.



"Aku sudah siap." Ujar Silvia menghampiri Leo.


"Kamu Cantik sekali." Ucap Leo berbisik.


Membuat Sill tersipu.


Sill dan Leo pun pergi meninggalkan Apartemen, menuju sebuah restoran untuk diner berdua.


___________

__ADS_1


Karena kondisi Mama Sovia tidak terlalu parah, dokter pun tidak meminta Mama Sovia untuk di rawat inap.


"Mama bahagia sekali melihat kalian sama-sama lagi." Ucap Mama saat sudah di rumah.


Mama Sovia dan Pak Pratama meminta Daniel dan Stella menginap di rumah Mama.


"Iya Mam," Jawab Stella saat menemani Mama di kamarnya.


"Kalian cepat-cepat punya anak ya! Mama kesepian di rumah."


"Iya, Mam. Kami tidak menundanya kok."


"Oh, Iya Stell, Leo bilang sebentar lagi akan membawa pacarnya kesini. Nanti kamu sama Daniel kesini ya, Biar pacarnya Leo kenal sama semua anggota keluarga."


"Iya ,Mam. Nanti aku bilang sama Mas Daniel."


"Mama pengen keluarga kita hangat dan harmonis lagi." Ucap Mama Sovia sedih.


"Maafkan Aku ya Mam. Gara-gara Aku keadaannya jadi seperti ini." Stella merasa bersalah.


"Sudahlah, ini bukan salah kamu, Mungkin sudah jalannya seperti ini. Yang penting sekarang semuanya sudah membaik sekarang."


"Ini sudah malam. Sebaiknya kamu istirahat." Ucap Mama lagi.


"Mama juga istirahat ya!"


"Iya, sayang. Makasih ya udah mau nemenin Mama."


"Iya, Mam. Stella tinggal dulu." Pamit Stella lalu pergi.


Stella pun keluar dari kamar Mama dan menghampiri Daniel dan Pak Pratama yang sedang berbincang.


"Mama sudah tidur?" Tanya Daniel pada Stella.


"Iya, Mama sudah mau tidur." Jawab Stella.


"Yasudah. Kalian juga istirahat, besok kan kalian ada kegiatan" Ucap Pak Pratama dan pergi ke kamar.


Daniel dan Stella pun pergi ke kamar mereka.


"Ngobrol apa saja tadi sama Mama?" Tanya Daniel saat mereka sudah berbaring di tempat tidur.


"Banyak. Salah satunya Mama minta kita datang kesini kalau Leo bawa pacarnya kesini."


"Oh, Terus apa lagi?"


"Mama pengen cepat punya cucu katanya."


"Oyah! Ayo kita bikin Sekarang!" Jawab Daniel semangat.


"Mulai, Kalau urusan begitu aja semangat." Stella membalikkan tubuhnya membelakangi Daniel.


"Ayolah sayang. Sebentar saja!" Rengek Daniel.

__ADS_1


"Mana ada sebentar! Kamu kalau aku belum minta ampun mana mau berhenti." Jawab Stella.


"Karena kamu bikin candu sayang!" Bisik Daniel.


__ADS_2