Bukan Pernikahan Luar Biasa

Bukan Pernikahan Luar Biasa
52. Berharap


__ADS_3

"Kali ini aku ikuti kemauan kamu. Tapi setelah sampai di Jakarta kita akan segera memeriksakan kesehatan kamu!" Ujar Daniel saat dalam perjalanan pulang ke Jakarta.


Stella bersikukuh, menolak untuk memeriksakan diri ke dokter saat di Bali.


"Iya, Mas." Jawab Stella.


"Kalau seandainya kamu memang hamil, Aku mau kamu berhenti bekerja. Dan jangan pernah pergi kemanapun sendirian."


"Aku belum tentu hamil, Mas. Tapi Kamu udah fosesif gitu." Ujar Stella yang masih nyaman bersandar di bahu Daniel.


"Kalau aku tidak hamil,gimana?." ucap Stella Sambil mendongakkan kepalanya.


"Ya, Tidak apa-apa. Mungkin belum saatnya." Jawab Daniel mengusap rambut Stella.


Stella senang dengan jawaban Daniel.


_________


Jakarta....


"Aku istirahat dulu ya Mas!" Ucap Stella saat baru sampai di apartemen mereka.


"Iya, biar Bi Imas yang merapihkan ini semua." Jawab Daniel menunjuk beberapa barang yang mereka beli pada saat di Bali.


Stella langsung terlelap, Karena benar-benar merasa lelah.


"Maaf, aku terlalu antusias. Sampai buat kamu kaya gini." Ucap Daniel pelan.


Daniel berbaring di sisi Stella.


Ia mengusap wajah Stella yang terlihat sedikit pucat.

__ADS_1


Daniel pun beberapa kali menciumi pipi Stella, Sebelum ia beranjak dari tempat tidur.


Daniel segera mengambil laptopnya.


Ia ingin memeriksa perkembangan kantornya yang ia tinggalkan beberapa hari.


Dengan bertelanjang dada, Daniel begitu fokus menatap laptopnya.


Stella mengerjapkan matanya, saat sudah cukup lama tertidur.


"Ternyata, ini sudah malam." Ucapannya saat melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam.


Stella mengedarkan pandangannya karena tidak mendapati dan di ranjang.


Stella pun bangkit dari tempat tidur. Ia menghampiri Daniel yang ternyata tertidur di sofa, dengan laptop yang masih menyala.


Stella pun duduk di sisi Daniel.


Karena merasa ada yang menindih tubuhnya Daniel pun membuka matanya.


"Kenapa kamu tidur di sini?" Stella mengulang


pertanyaannya saat melihat Daniel sudah membuka mata.


"Kamu sudah bangun. Aku tadi memeriksa pekerjaan kantor sebentar, tapi malah ketiduran." Jawab Daniel Sambil membalas dekapan Stella.


Daniel mendekap Stella yang kini berbaring di atas tubuhnya.


Dengan nyamannya Stella meletakkan kepalanya di dada bidang Daniel.


(Aihhh.... Aku jadi pengen ikutan rebahan di atas tubuh si do'i. Mudah mudahan do'i kaga sesek nafas. Wakakak)

__ADS_1


_______


"Mam, Leo pergi dulu ya!" Pamit Leo.


Hari ini Leo dan Silvia akan pergi ke Australia, untuk menemui Orang tua Sill.


"Kalian hati-hati ya! Semoga rencana pernikahan kalian segera terlaksana." Ujar Mama Sovia pada Leo dan Silvia.


Leo dan Silvia pun bergantian memeluk Mama Sovia dan Pak Pratama untuk berpamitan.


Mama Sovia dan Pak Pratama Kembali memasuki rumah saat mobil yang di tumpangi Leo dan Silvia sudah menjauh.


"Akhirnya, Leo bisa membuka hatinya untuk wanita lain." Ucap Pak Pratama seraya duduk di sofa.


"Iya, Ayah. Mama berharap, setelah Leo menikah nanti, hubungannya dengan Daniel bisa kembali seperti semula." Jawab Mama Sovia.


"Ngomong-ngomong, Daniel dan Stella kok sudah lama ya tidak datang kemari." Ucap Mama lagi.


"Mungkin mereka sedang sibuk Mam, Maklum lah, mereka pasti sedang menikmati masa-masa bahagia setelah semua masalah yang terjadi di awal pernikahan mereka." Jawaban bijak dari pak Pratama.


"Stella sudah periksa Beluma ya?" Mama Sovia bergumam.


"Periksa apa Mam?" tanya pak Pratama.


"Itu, Yah. Waktu Daniel dan Stella kemari, Stella bilang, Kalau Daniel jadi pemalas sekali. Mama pikir, Mungkin Stella hamil, karena waktu Mama hamil Daniel dulu, Ayah juga jadi pemalas sekali."


"Oyah! kenapa Mama tidak telpon saja. Dan tanyakan langsung." Jawab Pak Pratama dengan antusias.


"Mama tidak enak, takut menganggu kebahagiaan mereka." Ucap Mama Sovia.


"Yasudah, Biarkan mereka menikmati kehidupan barunya. Mereka pasti akan segera mengabari kita kalau dia sudah hamil." kata Pak Pratama.

__ADS_1


__ADS_2