Bukan Pernikahan Luar Biasa

Bukan Pernikahan Luar Biasa
64. Kemarahan Silvia


__ADS_3

Semburat senyuman terus melekat di wajah Silvia di sepanjang jalan menuju rumah baru Leo.


Sill begitu bahagia karena sebentar lagi ia akan memiliki kehidupan baru bersama pria yang saat ini sangat dicintainya.


Leo membawa mobilnya ke sebuah komplek perumahan.


Setelah sebelumnya ia telah lebih dulu berbelanja perabotan rumah.


Mobil Leo berhenti di sebuah rumah berlantai dua.


Leo dan Silvia di sambut oleh pria yang selama ini di suruh Leo untuk menjaga dan membersihkan rumahnya.


"Mang sebentar lagi akan ada orang yang membawa barang-barang kesini, suruh mereka memasukkan ke rumah ya!" Ucap Leo sebelum ia memasuki rumah.


Leo dan Silvia pun memasuki rumah yang masih terbilang kosong ini.


Silvia begitu antusias untuk melihat setiap sudut rumah.


Sill melihat setiap kamar, ruangan dan dapur.


Sementara Leo hanya mengekor saja.


"Kamar kita ada di lantai atas." Ujar Leo pada Silvia.


Silvia pun bersemangat mengajak Leo untuk naik ke lantai atas.


"Ini akan menjadi kamar kita nantinya." Ucap Leo Sambil merebahkan tubuhnya di ranjang berukuran standar yang sudah tersedia di kamar tersebut.


Silvia pun melepaskan jaket denimnya dan membiarkan perutnya terekspos, karena ia hanya menggunakan tangtop sangat pendek.


Silvia sudah terbiasa dengan gaya berbusananya di Australia yang seksi.


Terlebih kalau hanya di dalam rumah seperti ini.


"You So very seksi honey" puji Leo.


Membuat Sill tersenyum.


Leo melepaskan kaus yang di pakainya dan lanjut berbaring.


Sementara Sill pergi ke balkon kamar untuk melihat pemandangan halaman dari atas sana.


Sill merasa kagum pada Leo, karena ia sampai mempersiapkan rumah masa depan untuk mereka.


Sill kembali berjalan mendekati Leo.


"Aku ingin melihat kamar yang lainnya" Ujar Silvia.


"Lihat saja, Aku ingin tiduran sebentar." jawab Leo.


Sill pun meninggalkan Leo yang masih terus berbaring.


Sill memasuki satu kamar lain yang ada di lantai dua.


Kamar ini sedikit lebih kecil dari kamar mereka.


semuanya masih berantakan. bahkan beberapa kardus besar bertumpuk di dekat jendela.


Mungkin ini barang-barang milik Leo. pikirannya.


Kamar kedua ini tidak memiliki balkon seperti kamar utama. Sill membuka jendela untuk mendapat udara dari luar.


Mata Sill pun tertarik pada kardus yang sedikit terbuka.

__ADS_1


Ia membukanya perlahan.


Tapi wajahnya memanas karena pemandangan yang ada di hadapannya.


Sill mengeluarkan Sebuah foto berukuran besar dengan latar belakang laut Bali, Dan dua anak manusia yang sedang saling merangkul dengan tawa yang lepas.


Foto Leo bersama orang yang sangat di kenalnya, yaitu Stella.


Bulir bening pun terjun Dari pelupuk matanya mengenai Foto tersebut.


"Sill.." Ucap Leo yang tiba-tiba datang dan menyaksikan Silvia menangis di hadapan fotonya.


Saat asik berbaring Leo pun tersentak, karena mengingat sesuatu.


Ia lupa kalau di rumah ini ada foto Dia dan Stella yang dulu di rencanakan akan di pasang di rumah impiannya itu.


Ia pun segera menghampiri Sill dan terlambat. Sill sudah menemukan Foto tersebut dengan lelehan air mata di wajahnya.


Sill segera mengusap Air mata yang tak berhenti mengalir di pipinya.


Sill tak berkata apapun.


Ia hanya menyimpan kembali Foto tersebut dan segera pergi ke kamar utama untuk mengambil jaket dan tasnya yang ia tinggalkan di sana.


"Sill aku bisa menjelaskan semuanya." Ujar Leo mengikuti Sill ke kamar utama.


Sill tak memperdulikan ucapan Leo.


Ia segera mengenakan kembali jaketnya dan keluar dari kamar.


Leo pun mengejar dan memegangi tangan Silvia dengan sangat erat.


"Lepaskan aku Lee, aku ingin pulang." Ucap Sill berusaha melepaskan cengkraman Leo di tangannya.


Sill pun meronta sekuat tenaga.


"Lepaskan, aku ingin pulang" Ucap Sill yang terus berusaha melepaskan diri dari Leo.


Semakin Silvia berusaha memberontak semakin erat Leo memeluk tubuhnya.


Silvia pun tak lagi memberontak karena tenaganya sudah terkuras habis.


Wanita malang itu hanya menangis sejadi-jadinya dalam dekapan, sambil memukuli punggung Leo karena Leo memeluknya dengan sangat erat..


"Percayalah, itu hanya masa lalu."Bisik Leo di telinga Sill.


Leo mulai mengendurkan pelukannya, karena Silvia tak lagi meronta-ronta.


Leo pun membawa kembali Silvia ke kamar.


Leo mengusap wajah Silvia yang basah dengan air mata.


Ia tidak tau harus menjelaskannya dari mana.


"Aku akan segera membuang Foto-foto itu" Ucap Leo


"Kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal?" Ucap Stella sambil terisak.


"Untuk apa? karena menurutku, Itu hanya masa lalu yang tidak perlu lagi di bahas. Dia pun kini sudah bahagia dengan Kakakku." Jelas Leo.


"Lalu untuk apa kamu masih menyimpan foto-foto itu." Tanya Silvia dengan nada sendu.


"Itu foto lama, Karena belakangan ini aku sibuk, dengan pekerjaan, pertunangan dan persiapan pernikahan kita. Jadi aku lupa." Jawab Leo.

__ADS_1


"Apa kamu masih mencintainya?" Tanya Sill lagi.


Leo menghembuskan nafasnya.


"Bukankah mencintai seorang wanita yang sudah bersuami itu tidak baik, terlebih suaminya kakak ku sendiri." Leo berusaha berbicara dengan tenang, agar Sill pun menjadi tenang.


"Apa kamu tidak mencoba mengatakan pada kakakmu kalau dia adalah kekasihmu?" Sill mencoba menelisik apakah masih ada celah cinta di antara Leo dan Stella.


"Semuanya sudah pernah terjadi, Bahkan aku pernah bertengkar hebat dengan bang Daniel. Tapi kamu bisa lihat mereka saling mencintai. Apa aku tidak berhak untuk menata lagi hidupku?"


Silvia terdiam mendengar penjelasan Leo.


"Aku hanya takut orang yang aku cintai ternyata mencintai wanita lain." Ucap Silvia lirih.


Leo mendongakkan wajah Silvia agar menatap wajahnya dan menggenggam kedua tangan Silvia.


"Aku memang pernah hancur karena cintaku pada Stella, tapi percayalah! Saat ini aku sedang berjuang menata hidupku lagi. Apakah kamu bersedia menemaniku untuk menata hidup yang baru?" Ujar Leo.


Silvia mengangguk samar dan langsung memeluk Leo.


"Aku mencintaimu! Aku tidak ingin kehilanganmu." Ucap Sill yang kembali terisak.


"Aku milikmu Honey." Bisik Leo.


Sill pun tersenyum malu.


"Apa kamu mau berjanji sesuatu denganku?" Leo


"Berjanji apa?" Jawab Silvia.


"Berjanjilah, untuk tidak membahas hubungan masa laluku dengan Stella. Terlebih pada Keluargaku. Aku tidak ingin lagi ada jarak di antara aku dan Bang Daniel, Karena Hubungan kami baru saja membaik. Anggap saja Hubunganku dan Stella tidak pernah ada." Ujar Leo.


Silvia pun mengangguk setuju.


"Jangan pernah menanyakan apapun tentang hubungan kami pada Stella. Karena nanti akan tercipta jarak di antara kita dan mereka." Jelas Leo lagi.


"Baiklah, Aku berjanji." Jawab Silvia


"Gadis pintar." Ucap Leo sambil menarik Silvia dalam pelukannya.


"Aaww!!" Stella berteriak saat dadanya bertubrukan dengan dada Leo, Saat Leo memeluknya."


"Kenapa?" Tanya Leo yang melihat Silvia meringis sambil memegang dadanya.


"Sakit." Jawab Sill


Leo pun membuka jaket yang di kenakan Sill dan Sedikit terkejut, saat melihat sedikit bercak darah pada motif bunga di tangtop Sill.


Leo pun membuka Tangtop Sill yang ternyata tidak menggunakan penutup dada lagi.


"Kenapa berdarah?" Tanya Leo saat melihat pucuk dada Sill berdarah.


"Sebenarnya, dadaku sakit karena perbuatanmu malam itu. Bahkan Aku tidak bisa menggunakan bra karena sakit saat lukanya bersentuhan dengan bra. kemarin lukanya sudah mengering, mungkin karena terkena hentakan saat aku meronta-ronta tadi jadi lukanya sakit lagi."


"Setelah dari sini kita obati ke dokter." Ucap Leo yang mengelap pucuk dada Sill dengan kausnya yang berbahan lebih lembut.


"Tidak perlu! aku hanya perlu mengoleskan salep luka nanti juga sembuh."Sill


Leo pun menghentikan aksinya saat Sill memekik kesakitan.


Leo memakaikan kembali tangtop dan jaket Silvia. Ia pun kembali memakai kausnya karena mereka berniat untuk pulang ke apartemen.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2