Bukan Pernikahan Luar Biasa

Bukan Pernikahan Luar Biasa
41. Permintaan Mama Sovia


__ADS_3

Seharian Daniel dan Stella hanya menghabiskan waktu di dalam selimut saja melepaskan segala kerinduan yang terpendam selama berbulan-bulan lamanya.


"Kita pulang ke Jakarta malam ini." Ujar Daniel yang masih terus mendekap Stella.


"Apa tidak liburan dulu?" Jawab Stella.


"Aku ada banyak pekerjaan, kita akan jadwalkan liburan atau honeymoon kita."


"Honeymoon? Apa itu tidak terlalu terlambat?"


"CK, tidak apa-apa terlambat. Dari pada tidak sama sekali." Jawab Daniel yang merentangkan tubuhnya.


"Memang apa istimewanya honeymoon? bahkan Kita sudah melakukan semuanya." ujar Stella yang masih menggulung tubuhnya dengan selimut.


Daniel terdiam seperti membayangkan sesuatu. "Aku ingin kita hanya diam di kamar berduaan, Tanpa pakaian, selama satu Minggu."


Ujar Daniel terus menatap langit-langit.


"Dan setelah itu, kamu akan menjadi duda lagi, karena aku mati karena masuk angin." jawab Stella menimpali khayalan Daniel.


"Kamu tenang saja sayang. kamu tidak akan pernah kedinginan karena kita akan terus berkeringat sepanjang waktu."


"Apa pikiranmu seliar itu sayang?" Stella menggoda Daniel, dengan merangkak di atas tubuh Daniel.


"Tentu saja, beberapa bulan aku dan pitonku tersiksa karena merindukanmu." ujar Daniel menyelipkan rambut Stella yang menjuntai mengenai wajahnya.


"Kau tau. Hampir setiap hari aku menunggu kamu menghubungiku." Stella mengusap rahang Daniel.

__ADS_1


Daniel mengusap punggung Stella yang kini berada di atasnya.


"Aku takut kamu Masih mencintai Le---," Belum selesai Daniel berucap Stella menempelkan bibirnya pada bibir Daniel.


"Aku hanya mencintai kamu Mas, hanya kamu."Ujar Stella yang mengulang-ulang kecupannya.


"Sepertinya istriku ini sudah pandai membuat sesuatu meronta-ronta."


"Tentu saja. Kali ini aku yang akan membuatmu berteriak sayang." ujar Stella dengan nada sensual.


"Benarkah? Aku jadi merasa takut."


"Ya, aku akan membalas perbuatan-mu yang selalu membuatku berteriak." Stella mengusap-usap dada Daniel dengan jemarinya.


"Ayo, cepatlah. Aku menunggu itu."


------------


"Kamu dari mana Lee?" Tanya Mama Sovia pada Leo yang baru sampai.


"Leo, baru menghadiri seminar Mam,"


"Mama pucat sekali? Apa Mama sakit?" Sambung Leo duduk di sisi sang Mama.


Leo memeriksa dahi sang mama yang ternyata sangat panas.


"Ah, tidak. Mama hanya sedang tidak enak badan."

__ADS_1


"Maafin Leo ya Mam, beberapa bulan ini Leo jarang ada di rumah. Sampai Mama sakit pun Leo tidak tau."


Leo terus memeriksa keadaan sang Mama. Ia memeriksa detak jantung dan tensi darah Mama Sovia.


"Kita ke rumah sakit ya Mam, tensi darah Mama sangat rendah."


"Tidak usah Lee, Mama tidak apa-apa. Hanya akhir-akhir ini Mama sulit tidur kalau malam."


"Apa Mama sedang banyak memikirkan sesuatu?"


"Bagaimana seorang ibu tidak memikirkan, ketika kedua putranya kini saling mengabaikan. Mama rindu suasana rumah yang hangat." Ujar Mama dengan tatapan sendu.


Leo merasa iba dengan keadaan sang Mama, karena ulahnya keluarganya kini tak sehangat dulu.


"Leo sudah meminta maaf sama Abang, Terus Leo harus apa lagi mam?"


"Menikahlah nak, Abang kamu akan selalu mengira kamu masih mencintai Stella, kalau kamu tidak membuka hati untuk wanita lain."


Leo diam tertunduk. Karena memang pada kenyataannya dia masih mencintai Stella.


"Baiklah, Leo akan segera menikah. Kalau itu bisa memperbaiki semuanya."


"Benarkah! Terimakasih Lee" Ucap Mama Sovia yang langsung memeluk putra bungsunya tersebut.


Leo mengangguk, walaupun dalam hatinya masih belum tau siapa teman wanita yang akan di nikahinya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2