
"Stella kamu baik-baik saja?" Ucap Bu Diana yang langsung masuk ke ruangan rawat Stella.
Membuat Daniel dan Stella melepaskan pelukan mereka.
"Oh, Maaf." Ujar Bu Diana tidak enak hati.
Stella Hanya tersenyum.
Bu Diana dan Pak Antoni menghampiri Stella.
"Maaf kalau kami menganggu." Ujar Pak Antoni.
"Tidak apa-apa Pak." Jawab Stella.
"Apa dia suamimu Stell?" Bisik Bu Diana pada Stella.
Stella kembali tersenyum, karena tidak tau harus menjawab apa. Stella takut kalau Daniel tidak lagi menganggapnya sebagai istri.
"Perkenalkan, Saya Daniel. Suami dari Stella." Ucap Daniel mempertegas jawaban Stella.
Stella menatap Daniel.
"Salam kenal Pak Daniel." Pak Antoni menjabat tangan Daniel.
"Akhirnya, Kita bisa bertemu dengan suaminya Stella." Ujar Bu Diana ikut menjabat tangan Stella.
"Stell suami kamu siaga banget ya. Langsung datang dari Jakarta pas denger Istrinya sakit." Puji Bu Diana.
"Kalau begitu, kamu istirahat ya. Biar saya saja yang melakukan pertemuan." Ucap pak Antoni.
"Maafkan saya ya pak!" Stella.
"Tidak apa-apa. Namanya juga kecelakaan, Siapa yang mau!" Balas pak Antoni.
"Kami pergi dulu ya." Pamit Bu Diana.
"Itu atasan kamu?" Tanya Daniel sedikit malu, karena mengira yang di hubungi Stella adalah kekasih barunya.
"Iya." Jawab Stella.
"Kamu tinggal di mana?"
"Aku tinggal di Apartemen Milik Uncle ku."
"Maafkan aku karena sudah menelantarkan-mu." ujar Daniel mengusap rambut Stella dengan lembut.
Stella mengangguk samar.
"Aku ingin cepat kembali ke hotel. Aku tidak mau berlama-lama di sini." Ujar Stella Sambil kembali berbaring.
"Tapi kita harus bertanya dulu pada dokter. apa kamu sudah di perbolehkan untuk pulang."
"Mas, apa kamu datang kesini untuk melakukan pertemuan untuk mendapatkan tender juga kan?" Tanya Stella.
"Iya." Jawab Daniel singkat.
"Lalu kenapa masih di sini? Cepat sana siap-siap. Acaranya jam delapan kan!"
"Tidak jadi masalah walaupun aku kehilangan tender itu. Untuk saat ini aku akan menemanimu."
Stella menahan wajahnya agar tidak bersemu.
"Kamu mau makan sekarang?" Tanya Daniel.
__ADS_1
"Ya. Sejak semalam perutku lapar." Jawab Stella.
"Yasudah, biar aku suapi."
"Ti-tidak usah, biar aku makan sendiri saja." Stella menolak karena merasa canggung.
"Tidak apa-apa." Ujar Daniel menyuapkan makanan ke mulut Stella.
Stella gugup. Jantungnya pun berdebar.
"Kamu gugup? kenapa?" Tanya Daniel.
"Hah, Tidak. Aku hanya tidak menyangka kita akan bertemu lagi. Aku pikir pernikahan kita benar-benar akan usai." Jawab Stella tertunduk lirih.
Daniel meletakkan piring yang di pegangnya.
Daniel menangkup wajah Stella, dan menengadahkan-nya sehingga mereka saling menatap.
Cuupp...
Daniel mencium dahi dan kedua pipi Stella.
"Maafkan aku, Mulai saat ini aku berjanji tidak akan pernah mengabaikan kamu lagi. Aku berjanji untuk selalu bersamamu" Ujar Daniel yang sudah memeluk Stella.
"Eekheemm"
Daniel dan Stella kembali terperanjat saat mendengar suara dehaman.
"Maaf mengganggu." Ucap dokter yang di ikuti seorang perawat.
"Tidak apa-apa dokter." Ucap Daniel seraya beranjak dari sisi Stella, memberi ruang untuk Dokter memeriksa Stella.
"Apa nafasnya masih sesak?" Tanya Dokter pada Stella.
"Sudah tidak, Dokter." Jawab Stella
"Ini ada beberapa obat yang harus di beli sebelum pulang." Ujar dokter sebelum pergi.
"Kalau begitu aku akan mengurus pembayaran sekaligus mengambil obat dulu, supaya kita bisa kembali ke hotel." Ujar Daniel.
"Ia Mas."
Setelah Daniel pergi meninggalkan Stella dengan seorang suster, Stella pun mengganti pakaian pasiennya dengan pakaian yang di gunakan-nya semalam.
Stella duduk di sofa untuk menunggu Daniel, sementara sang suster merapihkan ranjang yang tadi di gunakan Stella.
"Bu, semalam suami ibu panik sekali saat membawa ibu dalam keadaan pingsan." Ucap suster Sambil terus bekerja.
"Oyah!." Jawab Stella tertarik.
"Iya, Suami ibu sampai berteriak saat memanggil dokter. Suami ibu sangat takut terjadi sesuatu pada Ibu."
Stella tersenyum sumringah mendengar ucapan Sang suster.
"Apa tidak apa-apa kalau saya tinggal ibu sendirian disini?"
"Tidak apa-apa. Sepertinya sebentar lagi suami saya juga datang." Jawab Stella mempersilahkan susternya untuk pergi.
"Baiklah kalau begitu. Saya permisi." Ujar Suster sebelum pergi.
Stella bersandar di sofa dengan wajah berseri-seri bahagia karena Daniel ternyata takut kehilangannya.
"Kenapa kamu senyum-senyum begitu?"Ujar Daniel yang tiba-tiba datang.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku hanya senang sudah bisa keluar dari sini." Ucapannya berbohong
"Ayo kita kembali ke hotel." Ajak Daniel mengulurkan tangannya.
Stella meraih uluran tangan Daniel.
Mereka terus bergandengan tangan saat berjalan untuk keluar dari rumah sakit.
Karena jarak dari rumah sakit ke hotel tempat mereka menginap sangat dekat. Kini mereka sudah berada di gedung hotel.
"Kamarmu di lantai berapa?" Tanya Daniel saat mereka sudah dalam lift.
"Lantai dua belas." Jawab Stella.
Mereka langsung menuju kamar Stella saat sudah di lantai Dua belas.
Stella memasukkan card untuk membuka pintu kamarnya.
Dengan di ikuti Daniel mereka pun sudah berada di kamar hotel.
Stella segera mengambil kopernya yang masih tertutup rapi di atas ranjang karena belum sempat di buka.
"Kamu mau ngapain?" Tanya Daniel yang melihat Stella mencari sesuatu di kopernya.
"Aku mau cari baju santai, dari kemarin aku belum sempat ganti baju."
"Biar aku bantu." Ujar Daniel Sambil memeluk Stella dari belakang.
"Bantu apa?" Jawab Stella saat Daniel sudah membalik tubuhnya, sehingga kini mereka sudah saling berhadapan.
"Membantumu mengganti baju!" Ucap Daniel yang kini sudah mulai membuka kancing kemeja Stella.
Stella menelan Salipan karena gugup.
"Tapi Mas, Biar aku buka sendiri saja. Aku bisa ganti baju di kamar mandi." Ujar Stella menahan tangan Daniel.
"Tidak akan aku biarkan kamu melakukan itu."
Daniel kembali membuka satu persatu kancing hingga kemeja Stella kini sudah terlepas dari tubuhnya.
Daniel menatap tubuh Stella, yang sudah setengah terbuka.
Stella menutup dadanya yang kini hanya mengenakan penutup dada warna pich.
"Kenapa di tutup sayang! Aku rindu ingin melihatnya." Bisik Daniel di telinga Stella, membuat Stella merinding dibuatnya.
Daniel memeluk Stella, Di usapnya punggung putih Stella.
Hingga tangannya terhenti di sebuah pengait.
"Mas!" Ucap Stella saat Daniel melepaskan pengait tersebut.
"Kamu tenang saja, aku hanya ingin melihatnya" Bisik Daniel lagi.
Stella menyilang-kan tangannya di dada saat Daniel melepaskan penutup dadanya.
Daniel pun melepaskan Hoodie yang di pakainya.
Daniel meraih tangan Stella, membuat benda nankenyal kini terpampang nyata di hadapannya.
Daniel menabrakkan tubuhnya dengan tubuh Stella, membuat kulit mereka kini saling bersentuhan.
Daniel mendekap tubuh Stella, dan membiarkan benda kenyal kesayangannya menempel di dadanya.
__ADS_1
Bersambung dulu yaaa.....
Makasih ya buat yang udah rame-in kolom komentar dengan komentar kocak kalian ..