
Stella melihat jam di lengannya, Ternyata sudah lebih dari satu jam ia terlelap setelah pergumulan hebat tadi.
Stella memekik kesakitan saat ia menggeliatkan tubuhnya.
"Kamu kenapa?" tanya Daniel saat mendengar Stella mengeluh kesakitan.
"Mas, pinggang aku encok nih kayaknya. Sakit banget" ujar Stella meringis.
"Sini aku pijitin, biar ilang sakitnya."
" Nggak mau ah, ntar ada yang ngamuk lagi. Bisa tambah remuk badanku."Jawab Stella.
"Aku kan udah bilang kalau akibatnya bisa berat kalo kamu ganggu-ganggu si piton, eh kamu-nya malah sengaja gangguin dia. Baru di kasih pemanasan aja udah ngeluh kan!"
"Apa??. Kamu bilang itu pemanasan Mas. Badan ku udah kaya adonan roti di tarik kesana kemari sama kamu. Mana ada pemanasan kaya gitu."
"Emang kalo pemanasan menurut kamu kaya gimana?" Ucap Daniel dengan senyum penuh semangat.
"Ya gitulah, yang pasti nggak bakal bikin pinggang aku encok kaya gini."
"Coba kamu kasih tau dulu gimana pemanasan menurut kamu" ucap Daniel
"Gini ni." Stella mengecup Bibir Daniel yang ada di hadapannya, Stella memagutnya dengan sangat lembut.
"Kalo kaya gitu Mana panas. Begini Kalo mau panas." Ucap Daniel yang langsung menerkam bibir Stella dengan buasnya.
"MMM.. " Stella memberontak mendorong dada Daniel.
"Pinggang ku masih sakit" Ucap Stella saat lepas dari terkaman bibir Daniel.
"Haha. Yasudah malam ini kita menginap dulu di sini, biar besok pagi badan kamu udah enakan." Ujar Daniel mengusap punggung Stella yang masih polos.
Karena keadaan Stella yang terkapar lemas, Mereka pun bercengkrama hangat dan memutuskan menginap di hotel untuk malam ini.
__ADS_1
Di tempat lain.....
Dengan sangat hati-hati Sarah membuka perban di tangan Leo.
Sarah sedikit grogi saat menyentuh tangan Leo yang tampan.
Sarah mengoleskan anti invfeksi di sisi-sisi lukanya.
"Luka jahitannya sudah mulai mengering" ucap Sarah sembari kembali membalutkan perban yang baru.
" Terimakasih." Ucap Leo
Kalau begitu saya permisi.
"Nak Sarah tidak mau ngeteh atau ngopi dulu?" Ujar Mama Sovia.
"Tidak Bu Terimakasih."
"Terimakasih ya Sarah." Ucap pak Pratama.
Mama Sovia pun mengantarkan Sarah sampai ke depan.
"Lee, Sarah cantik loh. Anaknya sopan lagi,"Ucap Mama Sovia yang kini menemani Leo di ruang santai."
"Terus kenapa?" Leo
"Kamu nggak tertarik gitu buat kenalan?" Goda Mama Sovia
"CK, Apa sih Mama ini." jawab Leo tidak berminat.
"Le, Mama cuma mau kamu ada yang urus. Kaya Abang kamu sekarang, Dia udah bahagia sama istrinya."
"Mama cuma mau juga bahagia." Sambung Mama Sovia.
"Iya, Mam. Tapi nanti Kalo udah waktunya." Jawab Leo.
__ADS_1
"Kalo gitu Leo ke kamar dulu ya Mam, Leo mau istirahat."
Leo pun pergi ke kamarnya dengan raut tidak bersemangat.
Leo duduk di kursi kerjanya yang ada di kamar.
Ia membuka laptopnya dan memasukan sebuah USB.
Sebuah tayangan kini muncul di layar laptop tersebut.
Ya, Leo memutar rekaman video kebersamaannya dengan Stella.
Leo duduk bersandar menyaksikan tawanya begitu lepas dalam rekaman tersebut.
Begitupun dengan Stella, Ia tertawa sangat bahagia.
Leo memejamkan matanya, dan memijat pelipisnya, ia mencoba menahan segala rasa sedih di hatinya.
"Seandainya yang menjadi suamimu saat ini bukan kakakku, aku akan terus berjuang untuk merebut-mu darinya."Ucap Leo sambil kembali melihat layar laptop.
"Secepatnya aku harus tau, kenapa kamu menghianati-ku bahkan menikah dengan kakakku." ucap Leo sambil terus melihat rekaman masa lalu mereka yang begitu romantis.
"Leo kenapa Mam? kok kelihatannya nggak bersemangat gitu?" Tanya Pak Pratama saat melihat Leo pergi dengan wajah yang terlihat murung.
"Mama Nggak tau Yah, tadi Mama cuma godain dia buat kenalan sama dokter Sarah, eh Leo malah ngambek."ujar Mama Sovia
"Daniel sama Stella kemana ya? kok mereka belum pulang juga? Padahal katanya cuma mau ke makam, masa sampai sore gini belum pulang juga" Mama Sovia.
"Mungkin mereka jalan-jalan dulu, kan Mama yang nyaranin tadi,."
"Iya juga sih, Mudah-mudahan kita cepat punya cucu ya Yah. Mama udah bosen di rumah sendirian."
"Ya, mudah mudahan saja.".
__ADS_1
Bersambung....