
Dengan alat tes kehamilan di tangannya, Stella berjalan perlahan menghampiri Daniel yang masih terlelap.
Tubuh Stella bergetar.
"Mas, Mas..!" Ucap Stella memanggil Daniel.
Daniel mengerjapkan matanya, sebelum ia benar-benar terbangun.
"Kenapa sayang..! Kamu kenapa?" Daniel panik saat melihat Stella berdiri dengan tubuh gemetar.
"Ada apa? Apa kamu sakit?" Ujar Daniel Sambil menangkup kedua belah pipi Stella.
Stella masih diam, seperti orang Sawan .
"Dari kemarin Aku sudah bilang agar kamu memeriksakan kesehatan. Tapi kamu terus saja menolak. Pokoknya, sekarang kita harus pergi ke rumah sak---..." Ucapan Daniel terhenti saat Stella menunjukan alat tes kehamilan.
Daniel meraih benda tersebut.
Stella tidak bisa menahan Lelehan air matanya, saat Daniel menatap alat tes kehamilan tersebut dengan tatapan nanar.
"Fo-Fositif? Ka-kamu hamil?" Ucap Daniel tergagap.
Dengan tangisan bahagia, Stella mengangguk.
Dengan mata berkaca-kaca Daniel memeluk Stella.
Daniel menciumi wajah Stella bertubi-tubi.
Daniel tidak bisa berkata-kata, Karena terlalu bahagia.
Daniel hanya bisa mengungkapkan rasa bahagianya dengan Terus memeluk dan menciumi Stella.
"Aku akan menjadi Papa?" Daniel masih tidak percaya.
__ADS_1
"Iya Sayang!. Sebentar lagi kamu akan menjadi Papa, dan aku akan jadi Momi." Jawab Stella
Daniel memangku tubuh Stella, dan meletakkannya di ranjang.
"Mulai sekarang, Kamu tidak boleh bekerja, dan apapun yang membuat kamu terlalu lelah!" Ucap Daniel dengan penuh kasih sayang.
"CK, Yang bisa membuat aku terlalu lelah itu kamu Mas." Ucap Stella dengan suara pelan.
"Aku berjanji.! mulai saat ini, sampai bayi ini lahir aku akan berusaha menahan diri. Kalau perlu aku akan berpuasa." Ucap Daniel Sambil mengusap perut Stella yang masih rata.
"Oyah? Apa kamu yakin?" Goda Stella.
Daniel mengangguk yakin.
"Apa kita beri tahu Mama dan Ayah sekarang?" Ucap Stella Sambil mengubah posisinya menjadi duduk bersandar di kepala ranjang..
"Jangan. Kita datang saja ke rumah, dan buat kejutan untuk mereka." Jawab Daniel.
"Baiklah." Stella setuju.
"Aku akan memanggil dokter sekarang! Untuk memeriksakan kehamilan kamu." Daniel bangun dengan penuh semangat.
"Jangan dulu Mas! Aku mau mandi dulu, nggak enak kalau aku di periksa dalam keadaan belum mandi." Stella mencegah Daniel yang hendak meraih ponselnya.
"Baiklah, Aku mandikan kamu ya!" Tawar Daniel.
"Tidak perlu Mas. aku masih bisa mandi sendiri." Tolak Stella.
"Tapi aku takut kamu kenapa-napa!"
"Aku cuma mau mandi mas. Bukan mau perang!" Jawab Stella sembari berjalan menuju kamar mandi.
"Aku takut kamu terpeleset terus jatuh sayang." Ujar Daniel yang mengekor di belakang Stella
__ADS_1
Stella membulatkan matanya dan melihat Daniel, Ia tidak percaya suaminya akan menjadi sangat posesif seperti ini.
"Ayolah.." Daniel memohon.
Stella pun menghembuskan nafas panjang, dan mengikuti keinginan Daniel.
Daniel menuntun Stella ke kamar mandi.
Dengan telaten Daniel membuka piyama yang di kenakan Stella.
Daniel tertegun saat melihat dada Stella yang sedikit bertambah besar.
Daniel mengguyurkan air dari shower yang di pegangnya.
"Mas, aku bisa mandi sendiri!" Stella mencoba mencegah saat Daniel hendak menyabuni tubuhnya."
"Sudah kamu diam saja. Kali ini biar aku yang mengurus kamu." Jawab Daniel Sambil menggosokkan sabun di punggung Stella.
Setelah selesai menyabuni dan kembali menyiramnya dengan air, Daniel memakaikan handuk pada Stella.
Daniel kembali menuntun Stella untuk keluar dari kamar mandi.
"Jangan bilang kamu yang akan memakaikan pakaianku!." Ucap Stella saat sudah di luar kamar mandi.
"Memangnya kenapa?"
Stella menepuk jidatnya
"Mas, aku bisa sendiri. Sebaiknya kamu juga mandi sana." Stella mendorong pelan tubuh Daniel ke dalam kamar mandi.
Daniel pun menurut untuk mandi.
Stella menggelengkan kepalanya karena sikap Daniel yang berlebih-lebihan.
__ADS_1