Bukan Pernikahan Luar Biasa

Bukan Pernikahan Luar Biasa
62. Bertengkar.


__ADS_3

Stella menghembuskan nafasnya.


Ia tau kalau ini adalah salahnya.


Stella pun menyusul Daniel ke kamar.


Dan ternyata Daniel sedang berkutat dengan laptopnya.


"Mas, kamu tidak kembali ke kantor?" Tanya Stella.


Daniel tidak menjawab ucapan Stella.


Ia terus fokus dengan pekerjaannya.


Merasa di abaikan Stella pun memilih berbaring di tempat tidur.


Berharap Suasana hati Daniel sudah membaik saat ia terbangun nanti.


Hari pun sudah hampir sore, Daniel berhenti dari pekerjaannya.


Ia beranjak dari kursi kerjanya dan duduk di tepi ranjang.


Di tatapnya Stella yang masih terlelap.


hati kecilnya menginginkan untuk memeluk, tapi pikirannya masih di liputi rasa kesal.


Daniel pun memilih pergi untuk mandi.


"Mas, kamu mau makan?" Tanya Stella saat Daniel keluar dari kamar mandi.


Tapi Daniel masih diam membisu.


"Mas, kamu masih marah? Aku minta maaf." Ucap Stella lagi.


Lagi-lagi Daniel mengabaikannya dan malah pergi keluar dari kamar.


Stella memijat kepalanya sambil berfikir bagaimana caranya untuk mendapat maaf dari Daniel.

__ADS_1


"Non, ini susunya. kata Mas Daniel non harus habiskan." Ucap Bi Imas dengan segelas susu di tangannya.


"Terimakasih Bi." Jawab Stella


"Sama-sama non, lagi pula ini Mas Daniel yang buatkan. Bibi cuma di Suruh untuk antar."


Stella pun hanya menjawab dengan senyuman datar.


Bukannya di minum Stella malah meletakkan susu tersebut di atas meja.


Stella lebih memilih untuk menghampiri Daniel.


Yang ternyata sedang memotong buah apel untuk Stella.


"Mas, sudah dong marahnya." bujuk Stella sambil memeluk Daniel dari belakang.


Tapi entah apa yang ada di pikirannya, Daniel masih saja diam dan memilih untuk kembali menghindar.


Stella kembali menghampiri Daniel ke kamar Stella mulai ikut kesal dengan sikap Daniel yang di anggapnya terlalu berlebihan.


Daniel cukup terkejut saat mendengar Stella berbicara dengan nada tinggi.


"Kamu berlebihan Mas, kamu terlalu paranoid." Teriak Stella yang sudah tidak bisa mengendalikan emosi.


"Cukup Stella!!! Kamu tidak akan mengerti tentang menyakitkannya sebuah kehilangan." Teriak Daniel.


Stella langsung Terduduk lemas dengan Air mata mengucur deras saat Daniel berteriak padanya.


Daniel langsung memeluk Stella saat Melihat Stella menangis dengan air mata mengalir deras.


"Kamu tau, setiap hari aku selalu dihantui rasa takut. Aku takut terjadi sesuatu pada kalian.


Aku pernah gagal menjaga istri dan calon bayiku, dan itu membuatku tidak bisa memaafkan diriku sendiri." Ucap Daniel sambil terus memeluk Stella.


Sementara Stella menangis sesenggukan dalam dekapan Daniel.


"Aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku, kalau sampai terjadi sesuatu pada kalian." Sambung Daniel.

__ADS_1


"Maafkan aku Mas. Aku janji tidak akan melakukannya lagi. Aku tidak mau kamu mendiamkan aku seperti tadi." Ucap Stella di sela tangisnya.


Akhirnya Daniel pun menghujani wajah Stella dengan kecupan.


"Apa kamu sudah maafin aku Mas?."


Tanya Stella sambil mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Daniel.


"Belum, karena kamu masih berhutang padaku."


"Hutang apa Mas?"


Daniel tidak menjawab pertanyaan Stella.


Dan langsung mengecup bibir Stella, dan terus memperdalam ciumannya.


Sesekali Stella mencoba menghindar untuk kembali memperoleh oksigen untuk bernafas. Tapi Daniel semakin erat mencengkram tengkuk Stella.


Tali dress dan penutup dadanya yang semula ada di bahunya kini sudah terlepas sehingga bagian dadanya kini terekspos bebas.


Membuat Daniel semakin gemas menikmati buah kenyal yang semakin membesar.


Stella sesekali mengerang saat Daniel tak sengaja mengigit pucuk dadanya.


Stella sudah menduga ini akan terjadi jika Daniel cukup lama tidak mendapatkan jatahnya.


Stella mencengkram erat punggung Daniel saat Daniel semakin liar.


"Mas berhati-hatilah." ucap Stella


"Tenang saja sayang," jawab Daniel


Kini tubuh Stella benar-benar di kuasai oleh Daniel.


Stella hanya bisa mengerang, bahkan sesekali berteriak di saat Daniel di luar kendali.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2