Bukan Pernikahan Luar Biasa

Bukan Pernikahan Luar Biasa
32. kesedihan


__ADS_3

Setelah Leo keluar dari kamarnya, Daniel mengambil pakaian ganti untuk Stella.


Daniel mengambil sebuah kaus lengan panjang dan langsung di kenakan oleh Stella.


Daniel memapah Stella untuk duduk di sofa, Ia pun tak lupa memberikan segelas air pada Stella yang terlihat masih syok.


Stella duduk terdiam sambil memeluk kedua lututnya.


Sementara Daniel bersandar di kepala sofa, Sambil sesekali meringis saat ia menyentuh wajahnya yang lebam dan terluka.


Suasana hening. Karena mereka saling terdiam.


Stella menoleh, Saat mendengar Daniel meringis kesakitan.


Ia bangkit dari duduknya, dan berjalan untuk mengambil kotak obat yang ada di sebuah nakas.


Tanpa bicara Stella mengusap luka di wajah Daniel dengan kapas yang sudah di berikan antiseptic.


Stella pun tak lupa mengoleskan krim untuk luka lebam di wajah Daniel.


Mereka masih terus saling terdiam, walaupun sesekali pandangan mereka bertemu.


"Aku harus apa sekarang?" Ujar Daniel membuka suara.


Stella terdiam sesaat.


"Ini semua salahku!" Jawab Stella singkat.


"Aku tidak tau harus berbuat apa? Aku tidak ingin Melepasmu, tapi bagaimana dengan Leo?" Ucap Daniel Tanpa menoleh pada Stella.


"Mungkin seharusnya aku pergi dari kehidupan kalian!" Ujar Stella menahan tangisnya.


Daniel menoleh. "Apa maksudmu?"


"Ya, aku akan pergi dari kehidupan kalian, aku tidak ingin menjadi penyebab dari rusaknya sebuah keluarga." Stella


"Kamu tidak seharusnya pergi. Kalau di dalam hatimu masih ada perasaan untuk Leo, Kembali sajalah padanya." Jelas Daniel.


Stella menatap netra milik Daniel. Stella berusaha menelisik apakah Daniel serius dengan ucapannya.


"Kamu pikir aku ini apa? Meninggalkan suamiku hanya untuk kembali pada seorang mantan kekasih." Ucap Stella kecewa.


"Apa aku tidak Seberharga itu untukmu?" Sambung Stella dengan air mata yang terlanjur lepas.


Tangis Stella pecah Seketika, saat Daniel memeluknya.


Daniel membiarkan Stella tersedu-sedu dalam dekapannya.


___________

__ADS_1


Setelah sadar dengan apa yang baru saja dia lakukan, Leo segera kembali ke kamarnya.


Leo menghempaskan tubuhnya pada sofa, dan duduk termenung.


Ada rasa penyesalan timbul dalam hatinya.


"Leo, Tadi Bibi ada yang menelpon Mama. Katanya kamu berkelahi dengan kakakmu?" Ujar Mama Sovia yang tiba-tiba datang.


"Astaga Lee, jadi benar kalian berkelahi?" Sambung Mama saat melihat wajah Leo yang lebam-lebam.


Leo terdiam, dan mengangguk samar.


"Tapi kenapa? kenapa kalian berkelahi.?" Desak Mama Sovia.


" Semuanya salah Leo Mam." Jawab Leo.


"Iya. Tapi kenapa?" Jawab Mama penasaran apa yang membuat dua anak laki-lakinya bertengkar.


"Leo di luar kendali Mam. tadi Leo hampir saja memperkosa Stella." Jelas Leo.


Mama Sovia sangat terkejut dengan pengakuan Leo.


"Stella mantan pacarku Mam, dan kami masih berstatus pacaran saat dia menikah dengan Bang Daniel." Sambung Leo.


"Tapi mereka sudah menikah Lee."


Mama Sovia benar-benar syok, pada Apa yang terjadi dengan kedua anak lelakinya.


"Minta maaf sama Abang kamu Lee. Kamu bisa mencari gadis lain, dan lupakan Stella. Nanti malam kita bicarakan lagi." ucap Mama lalu pergi.


_______


Suasana meja makan malam ini sangat berbeda.


Semuanya hanya diam.


"Sekarang semuanya makan dulu, setelah itu baru kita bicarakan semuanya." ucap Pak Pratama saat di meja makan.


Pak Pratama sudah tau apa yang terjadi, karena Mama Sovia sudah memberi tahukan sebelumnya.


Semuanya makan sambil terdiam, dengan pikiran masing-masing.


Dari kejauhan Bi Imas menatap Stella,


Ia merasa iba pada Nona majikannya itu.


Setelah selesai makan malam seluruh keluarga berkumpul di ruang keluarga, untuk membicarakan apa yang sedang terjadi.


Stella duduk di sisi Mama Sovia.

__ADS_1


"Nak Stella, sebelumnya Ayah minta maaf atas ketidak sopanan yang Leo lakukan sama kamu." Ucap Pak Pratama membuka obrolan.


"Iya yah!." Stella mengangguk pelan.


"Bang Daniel, Stella, Aku minta maaf." Ujar Leo tertunduk malu.


Daniel hanya bisa diam. Ia sangat terpukul dengan kejadian ini.


"Ayah, Mama. Stella sudah memutuskan." Ujar Stella membuat semua mata tertuju padanya.


"Stella akan pergi dari rumah ini. Maafkan Stella yang sudah membuat kegaduhan di keluarga ini." Sambung Stella penuh kesedihan.


Daniel tertunduk sedih.


"Kenapa kamu pergi? kamu harus tetap disini, Karena kamu istri Bang Daniel. Aku minta maaf, aku janji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi." Ujar Leo.


"Iya nak, kamu jangan pergi. Kamu bisa memulai semuanya dari awal bersama Daniel." Bujuk Mama Sovia.


"Tapi Mam, semuanya akan terasa aneh dan tidak nyaman Kalau di paksakan. Jadi biarkan Stella pergi." Stella.


Semuanya tidak bisa berbuat apa-apa dengan keputusan yang diambil Stella.


"Besok Stella akan pergi." Semuanya menatap Stella tak menyangka Stella akan pergi begitu cepat.


"Kamu mau tinggal dimana nak?" tanya Pak Pratama.


"Stella akan tinggal di rumah kerabat Dady Stella di luar kota Yah!" jawab Stella.


"Apa kalian akan bercerai?" Tanya Pak Pratama lagi.


Dada Daniel terasa sesak mendengar itu.


Stella menatap Daniel.


"Stella tidak akan menggugat cerai Mas Daniel, tapi kalau seandainya Mas Daniel mau menceraikan Stella, Stella akan menerimanya." Jawab Stella sangat sedih.


"Ayolah, kalian jangan seperti ini. Kalian masih bisa bersama, kalau perlu aku yang akan pergi dari rumah ini." Ujar Leo tidak tahan melihat Daniel dan Stella bersedih.


Stella menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan saran dari Leo.


"Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Walaupun kami berharap kalian bisa terus bersama" Ujar Pak Pratama menghargai keputusan Stella.


Mama Sovia memeluk Stella, dia tidak menyangka kalau hubungan percintaan anak pertamanya kembali berakhir.


"Aku ke kamar dulu." Ucap Daniel dan pergi ke kamar.


"Kalau begitu Stella juga mau ke kamar." Stella pun ikut pamit.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2