
"Mas jangan begini, malu kalau nanti ada yang datang." ujar Stella saat Daniel terus melesak di lehernya.
"Nggak apa-apa sayang. inikan di ruangan-ku, bukan tempat umum."
"Ihh, aku geli Mas." Ujar Stella menjauh karena merinding kegelian.
"Haha.. Kamu merinding apa merinding?" Goda Daniel.
"Apa sih Mas, kamu sekarang hobinya nempel nempel gitu, Bikin aku merinding." jawab Stella malu-malu.
"Yasudah, aku selesaikan dulu pekerjaanku supaya bisa pulang lebih cepat." ucap Daniel membelai pipi Stella.
"Ok, aku tunggu di sana ya Mas!" ujar Stella
sambil menunjuk sebuah single sofa di dekat jendela.
Daniel pun fokus dengan pekerjaannya, sementara Stella menyibukkan diri dengan ponselnya.
"Maaf ya, kelamaan nunggu sampai tertidur begini." Ucap Daniel saat menghampiri Stella yang sudah terlelap di sofa.
Daniel memangku tubuh Stella dan membaringkannya di sofa besar yang tadi mereka duduki.
Daniel mengusap pipi istrinya itu.
Karena pekerjaannya sudah selesai daniel
melepaskan jas yang dipakainya dan ikut berbaring di sisi Stella.
Daniel memeluk erat tubuh Stella.
Semakin kesini Daniel semakin tak bisa membuang waktu untuk tidak berdekatan dengan Stella saat mereka bersama.
__ADS_1
Di rumah Leo berdiri dengan gelisah.
" Kemana Stella? Sudah sore begini kenapa belum pulang juga?" Ujar Leo dalam hatinya.
"Apa sebaiknya aku ke kantor Bang Daniel sekarang! dan ceritakan semuanya. Aku benar-benar tidak bisa kehilangan Stella, dia kekasihku."
Leo pun menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di meja.
Ia bergegas menuju kantor Daniel.
"Maafkan aku Bang Daniel, Aku sangat mencintai Stella." Ujar Leo saat dalam perjalanan.
Leo segera memarkirkan mobilnya setelah sampai di kantor Daniel.
Dia segera menuju ruangan Daniel.
"Bang!" Panggil Leo saat sudah di ruangan Daniel.
"Ba.." Leo tidak melanjutkan ucapannya karena melihat kalau kakaknya sedang berciuman mesra dengan Stella.
Stella mengerjap kaget dan menyembunyikan dirinya di belakang tubuh Daniel.
Daniel segera menutup tubuh Stella dengan jasnya, karena beberapa kancing kemeja Stella terbuka akibat ulahnya.
"Maaf Bang, aku kira kamu sedang sendirian." Ujar Leo.
Daniel menghampiri Leo, dan mengajak Leo untuk sedikit menjauh dari Stella, Daniel ingin memberi ruang untuk Stella merapikan kembali pakaiannya.
"Ada apa? tumben sekali kamu datang ke kantor Abang?" Tanya Daniel saat sudah di meja kerjanya.
"Heemm.. Itu bang. Tadinya ada yang mau aku bicarakan, tapi berhubung disini ada istri Abang jadi nanti saja bicaranya."
"Kenapa harus nanti? Istri Abang nggak akan apa-apa kok." Ujar Daniel.
__ADS_1
"Nggak apa-apa Bang, nanti saja kita bicarakan lagi. Kalau begitu Aku pergi dulu." Leo pun kembali pergi dari kantor Daniel.
"Ada apa Mas?" Tanya Stella saat menghampiri Daniel.
"Nggak tau tuh si Leo, katanya mau ngomong. Tapi malah pergi."
Stella tertegun mendengar ucapan Daniel.
"Apa Leo akan benar-benar nekat memberitahu segalanya pada mas Daniel?" Batin Stella bertanya-tanya.
"Kamu kenapa?" Tanya Daniel saat melihat Stella terdiam.
"Ayo kita pulang, Tapi sebelum pulang kita mampir ke restoran dulu. Aku lapar banget!" Ujar Daniel lagi.
"Iya Mas." Jawab Stella.
Daniel merapihkan kembali penampilannya sebelum keluar dari kantor.
Daniel mengapit tangan Stella saat mereka keluar dari ruang Daniel.
Senyuman senang dari para pegawai mengiringi langkah mereka.
Ya, para pegawai di kantor Daniel ikut bahagia karena Daniel dapat bangkit dari masa terpuruknya.
Sepanjang perjalanan Stella terdiam, memikirkan bagaimana caranya agar Leo mengerti. Dan tidak merusak rumah tangganya.
"Kita mau makan dimana?" Tanya Daniel Sambil menyetir.
Stella tidak menjawab, karena pikirannya sedang tidak fokus.
"Sayang. Kamu ngelamun?" Tanya Daniel Sambil mengusap lengan Stella.
"Apa Mas?" Jawab Stella kaget.
__ADS_1
"Aku nanya, kita mau makan di mana? Kamu malah bengong gitu. Lagi mikirin apa sih?"
"Engga kok Mas, Terserah mas saja kita mau makan di mana." balas Stella sembari tersenyum.