
Akhirnya acara belanja di pasar selesai juga dan kini mereka bertiga sudah berada di rumah. Sonya saat ini tengah membantu Bu Meli memasak di dapur, padahal Bu Meli sudah melarang Sonya untuk membantunya. Rasanya tidak etis jika anak majikan dari anaknya membantunya dan juga Bu Meli merasa segan.
Sonya berkali-kali menyeka air matanya, bukan karena ia bersedih melainkan Sonya tengah mengupas bawang merah, sampai-sampai keluar ingus karena matanya terasa perih.
"Sudah neng jangan di teruskan. Biar ibu saja yang mengupas bawangnya," ujar Bu Meli yang menahan tangan Sonya agar tidak lagi mengupas bawang.
"Tidak apa-apa, Bu. Aku memang ingin membantu ibu memasak," jawab Sonya yang terus mengupas bawang.
Chandra kemudian ikut bergabung dan membantu Bu Meli memotong sayur kacang panjang.
"Ini sudah selesai, terus habis ini ngapain lagi?" tanya Sonya tidak tahu langkah selanjutnya. Selama ini Sonya tidak perlu pusing untuk memasak ini dan itu, sebab di rumahnya sudah ada pembantu.
"Sudah ya... Kalau gitu neng duduk saja. Biar selanjutnya Chandra yang mengerjakannya." Kata Bu Meli dan Sonya pun menurut.
"Chan, tolong kamu ulek bumbu itu," perintah Bu Meli dan Chandra pun patuh atas perintah ibunya.
Sebelum menghaluskan bumbu, Chandra terlebih dulu membersihkannya dengan air. Selanjutnya Chandra menghaluskan bumbu tersebut dengan cara mengulek.
Sonya mengerutkan keningnya melihat Chandra mengulek bumbu, karena di rumahnya tidak pernah melihat ulekan dan cobek. Ah, Sonya lupa. Darimana ia akan tahu, masuk dapur saja nggak, apalagi memasak.
"Boleh aku mencobanya?" Sonya sangat penasaran bagaimana caranya ngulek bumbu, yang ia tahu kalau menghaluskan bumbu biasanya menggunakan blender.
"Non yakin mau mengulek nya?" Jawab Chandra tak yakin.
"Iya. Sini...." Sonya menarik cobeknya dan mengambil ulekan dari tangan Chandra.
Ternyata tidak mudah menghaluskan bumbu menggunakan ulekan. Hampir semua bumbu berloncatan dari cobek. Sonya mendengus kesal, karena bawangnya lagi-lagi loncat.
Chandra hanya tersenyum kecil melihat cara Sonya menghaluskan bumbu.
"Sini saya ajarkan Non mengulek bumbu." Chandra menggeserkan tubuhnya dan tangannya berada diatas tangan Sonya. Sonya melirik Chandra yang tetap fokus ke bumbu .
Kenapa jantungku mendadak berdebar-debar? Apa ada yang salah dengan jantungku?. Sonya terus bertanya-tanya dalam hati.
"Kaya gini Non kalau menghaluskan bumbunya."
Sonya terhenyak mendengar suara berat Chandra dan memalingkan wajahnya.
"Ah... I-iya," jawab Sonya tergagap.
__ADS_1
Chandra tersenyum simpul dan entah kenapa senyuman Chandra membuatnya merasakan getaran-getaran kecil ke jantungnya.
Huh... Kenapa jantungku semakin tak karuan melihat senyum Chandra? Mungkin saja karena... Ah! nggak tahu. Aku nggak mau memikirkannya, mungkin jantungku lagi kurang bagus.
***
Pada akhirnya Chandra lah yang menghaluskan bumbunya, Sonya menyerah karena tidak bisa menghaluskan bumbunya, selain itu pergelangan tangannya terasa pegal.
Acara memasak pun selesai. Kini Sonya, Chandra dan Bu Meli makan bersama.
Sonya menatap bingung melihat menu makanannya. Sonya menatap aneh lalapan bulet kecil seperti kelereng dan berwarna hijau.
"Kenapa neng?" Tanya Bu Meli, yang bingung melihat raut wajah Sonya.
"I-ini apa?" Tunjuk Sony.
"Oh... Ini namanya leunca. Biasanya ibu suka memakannya sebagai lalapan."
"Lalapan? Berarti di makan mentah-mentah dong." Bu Meli mengangguk.
"Memang enak gitu?" Sambung Sonya bertanya.
Melihat Bu Meli memakannya dengan nikmat, Sonya pun ingin mencobanya. Satu butir leunca dan mencolekkannya ke sambal. Sonya segera memakannya dan baru saja mengunyahnya, Sonya langsung melepehkannya.
"Nggak enak! Rasanya aneh," ujar Sonya sambil terus menjulurkan lidahnya.
Pada akhirnya Sonya hanya makan ayam goreng dan sayur kacang panjang.
***
Sore harinya, Chandra mengantarkan Sonya pulang. Sesampainya di rumahnya, Sonya dikejutkan dengan kedatangan polisi di rumahnya. Sonya menelan Salivanya dan meminta Chandra pergi membawanya lagi.
"Kenapa ada polisi, Non?" Tanya Chandra bingung.
"Aku nggak tahu. Aku takut, Chan," lirih Sonya. Ya... Sonya sangat takut kalau polisi itu menangkapnya, mengingat kalau ia pernah mencelakai mobil Regi hingga jatuh ke jurang.
"Cepetan kita pergi dari sini!" Dengan perasaan gelisah sekaligus takut, Chandra langsung memacukan motornya membela jalanan.
Sonya sekarang mungkin bisa bernafas lega, karena berhasil kabur dari polisi.
__ADS_1
"Terus sekarang Non mau kemana?" Tanya Chandra yang tak tahu tujuan Sonya selanjutnya.
"Ke rumahmu lagi."
Chandra mengangguk dan membawa Sonya kembali ke rumahnya.
Bu Meli menatap bingung melihat Sonya kembali ke sini. Setelah keduanya masuk ke dalam rumah, Bu Meli mulai bertanya.
"Kenapa neng balik lagi ke sini? Apa ada yang ketinggalan?"
"Ng-nggak ada, Bu."
"Kirain ada yang ketinggalan."
Sonya menimbang-nimbang keinginannya untuk tinggal di rumah Chandra, tapi takut kalau Bu Meli akan menolaknya. Dengan penuh keberanian Sonya mengungkapkan keinginannya.
"Mm... Bu... Apa aku boleh tinggal di sini?" Sonya berkata sedikit ragu.
"Maksudnya?"
"Tinggal sama ibu di sini. Bolehkan?"
"Kenapa neng pengen tinggal di sini? Apa neng ada masalah dengan keluarga neng?"
Sonya bingung harus menjawab apa. Mana mungkin ia mengatakan yang sejujurnya. Sonya mencari-cari alasan yang tepat agar ibunya Chandra menerimanya dan pastinya tidak mencurigainya.
Sonya baru ingat, mungkin dengan alasan itu Sonya bisa tinggal di rumah Chandra.
"I-iya... Aku memang sedang punya masalah dengan papa dan papa sangat murka sama aku. Terus aku di usir sama papa." Terpaksa Sonya harus berbohong demi kebaikannya dan Sonya memasang wajah sesedih mungkin.
"Kalau ibu boleh tahu, masalah apa?" Ada rasa empati terhadap Sonya.
"Karena aku... Sudah menikah sama Chandra, Bu."
Bu Meli langsung membekap mulutnya, tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Lalu Bu Meli mengalihkan pandangannya ke arah Chandra yang diam membisu.
"Apa yang dikatakan neng Sonya benar?" Tanya Bu Meli kepada Chandra.
Chandra mengangguk membenarkan perkataan Sonya. Ya... Selama ini Chandra menyembunyikan pernikahannya dengan Sonya. Bukan tanpa alasan Chandra tidak mengatakannya, sebab Chandra menikah dengan Sonya hanya kurung waktu enam bulan dan hanya sebagai suami sesaatnya.
__ADS_1