
Kini Chandra, ibu Meli dan baby Arzan sudah berada di rumahnya. Kedatangannya di sambut hangat oleh Nyonya Puspa. Bahkan Nyonya Puspa langsung menggendong cucu tersayangnya.
Dengan wajah berbinar, Nyonya Puspa terus menciumi baby Arzan yang tengah terlelap dalam dekapannya. Sangat menggemaskan.
"Jadi beneran Bu Meli dan Chandra akan tinggal disini?" Tanya nya kepada Sonya.
Sonya mengangguk. "Iya, Ma. Nggak apa-apa kan, kalau Mas Chandra dan ibu tinggal bersama kita."
Nyonya Puspa tersenyum lebar. "Mama sih nggak masalah. Justru Mama senang kalau ibu Meli dan Chandra tinggal disini," jawabnya yang tak mempermasalahkannya.
Sonya tersenyum senang mendengarnya. Setelah itu Sonya mengajak ibu Meli ke kamarnya, untuk beristirahat.
Malam harinya. Ketika semuanya tengah makan malam, Tuan Yusuf datang. Ia sangat terkejut melihat Chandra dan ibunya ada di rumahnya.
"Berani kamu datang ke sini!" Seloroh Tuan Yusuf.
Semua yang ada di meja makan menengok ke arahnya, dan betapa terkejutnya Nyonya Puspa melihat Tuan Yusuf ada di rumahnya.
Nyonya Puspa mendengus sebal. Lalu, Nyonya Puspa berdiri dan menghampirinya.
"Justru Mas ngapain ada disini?" Tanya Nyonya Puspa dengan tatapan sinis.
"Ma...." Tuan Yusuf memelas. "Aku itu masih suami kamu."
Nyonya Puspa tersenyum sinis. "Siapa bilang! Bagiku Mas bukan lagi suamiku."
"Terserah apa kata kamu. Bagiku kamu masih istriku dan malam ini aku akan tidur disini."
Nyonya Puspa melotot tak suka dengan perkataan Tuan Yusuf. "Nggak! Mas sudah tidak punya hak lagi tinggal disini. Kenapa nggak tidur saja sama simpanamu itu!"
Akan tetapi, Tuan Yusuf tidak memperdulikan perkataan Nyonya Puspa. Pokoknya malam ini, ia akan tetap tidur disini. Selain itu juga, ia akan merayu Nyonya Puspa untuk tidak menggugat cerai dirinya. Bagaimana pun ia sangat membutuhkan istrinya itu.
Apalagi setelah mengetahui kebohongan Heni. Dirinya jelas tidak mau kehilangan istrinya yang sudah menemaninya sejak dulu, dan ia sangat menyesali semuanya.
"Lebih baik Mas pergi dari sini. Aku sudah tidak sudi lagi melihat mu."
"Aku nggak mau pergi dari sini. Aku akan tetap tinggal disini." Kemudian Tuan Yusuf memilih melangkah ke arah kamarnya.
"Mas! Kamu mau kemana?" Teriak Nyonya Puspa, sambil mengikuti Tuan Yusuf.
Ibu Meli yang tidak tahu apa-apa, hanya terbengong melihat pertengkaran Nyonya Puspa dan Tuan Yusuf.
***
Chandra kini tengah duduk bersama Mang Yayan di pos jaga, sambil di temani secangkir kopi yang masih mengepulkan asapnya.
"Aku masih nggak nyangka kalau kamu nikah sama Non Sonya."
Chandra hanya tersenyum simpul mendengarnya.
__ADS_1
"Tapi selamat ya... Aku sih sebagai teman senang kalau kamu sudah menikah dan itu artinya kamu juga majikan aku."
Chandra menggeleng tak setuju dengan kalimat terakhir Mang Yayan. "Aku bukan majikan kamu, Mang. Aku tetap Chandra sopir di rumah ini."
"Tapikan kamu suaminya Non Sonya," sela Mang Yayan.
"Aku memang suaminya, tapi aku bukan Tuan kamu, Mang."
Tiba-tiba suara deheman mampir ke telinga Chandra dan Mang Yayan, membuat Chandra dan Mang Yayan menoleh.
"Tuan...," ucap Chandra dan Mang Yayan bersamaan.
Tuan Yusuf menatap tajam wajah Chandra. "Senang kamu bisa tinggal di rumah ku dan menjadi Tuan di rumah ku." Sindir Tuan Yusuf.
Chandra menghela napas. "Maaf, Tuan. Apa yang Tuan katakan itu tidak benar. Justru saya tidak pernah berpikir seperti itu."
Tuan Yusuf berdecih tak percaya. "Itu di mulut kamu, tapi beda di hati kamu. Pasti kamu sangat senang. Iya kan...."
Chandra menggeleng-geleng. "Terserah apa kata Tuan. Yang jelas saya tidak seperti apa yang Tuan katakan."
"O ya...."
Hingga sebuah klakson mobil menghentikan ucapan Tuan Yusuf. Mang Yayan segera keluar dari pos jaga dan membuka pagar rumah. Mobil tersebut masuk ke halaman rumah.
Tuan Yusuf mendengus, saat tahu siapa pemilik mobil tersebut.
"Ngapain dia ke sini?" Gumamnya, yang kemudian mendekati mobil tersebut.
"Mas...." Suara Heni terdengar sangat sedih. "Kia dari tadi terus memanggil kamu, Mas."
"Kia kan bukan anakku. Seharusnya yang kamu cari bapak kandungnya Kia!" Jawabnya ketus.
"Mas... Aku mohon... Jangan bicara seperti itu. Aku tahu aku salah, tapi saat ini Kia sangat membutuhkanmu, Mas." Heni mengiba, agar Tuan Yusuf mengasihaninya.
Tuan Yusuf memutarkan bola matanya. Ia masih sangat marah terhadap Heni yang sudah membohonginya.
"Mas, aku mohon...."
"Kabulkan saja permohonannya. Bukannya kamu sangat mencintainya." Timpal Nyonya Puspa yang kini sudah berdiri tidak jauh dari keduanya. Lalu, Nyonya Puspa mendekati Tuan Yusuf dan Heni.
Nyonya Puspa menatap dingin wajah Heni dan Tuan Yusuf. "Bawa lelaki ini dari sini, karena saya sudah tidak mengharapkannya."
"Ma...!" Protes Tuan Yusuf.
"Satu lagi. Surat perceraian kita sebentar lagi akan sampai ke tangan kamu, Mas. Dan kamu...." Nyonya Puspa mengalihkan tatapannya ke arah Heni. "Selamat... Karena kamu berhasil menjadi wanita perusak rumah tangga ku. Sekarang kamu bawa lelaki ini dari hadapan ku." Setelah itu, Nyonya Puspa berlalu dari hadapan Tuan Yusuf dan Heni.
"Mas...." Panggil Heni yang masih mengiba.
Tuan Yusuf membuang napasnya kasar, sambil menatap kesal wajah Heni.
__ADS_1
"Oke! Aku akan turutin mau kamu!" Kesal Tuan Yusuf.
Heni tersenyum senang. " Terima kasih, Mas."
"Hmm...."
Tuan Yusuf dan Heni segera pergi.
***
Chandra tersenyum ketika kakinya kini menginjakkan kamar tidur milik Sonya. Kedua bola matanya menangkap pemandangan yang menghangatkan hatinya. Dimana Sonya tengah menimang-nimang baby Arzan, dengan penuh kasih sayang.
"Mas, kamu habis darimana?"
"Habis ngobrol dengan Mang Yayan," jawabnya sambil melangkah mendekatinya.
"Oh...."
"Sini, gantian gendongnya," tawar Chandra, yang langsung dianggukin oleh Sonya.
Chandra membawa baby Arzan dalam dekapannya yang hangat. "Arzan pasti senang, karena sekarang bisa kumpul lagi sama kamu."
"Semoga kalian berdua terus bersama, dan semoga tidak ada lagi orang-orang yang menginginkan kalian pisah."
Sonya mengangguk kecil. Ia memang sangat bahagia, akhirnya keluarga kecilnya kini berkumpul lagi.
Raut wajah Chandra kini berubah muram. Karena sebentar lagi, perjanjian pranikah-nya akan usai. Itu tandanya, dirinya sebagai suami sesaat akan berakhir.
"Mas kenapa?" Tanya Sonya, yang melihat Chandra terlihat sedih.
Chandra menggeleng. "Nggak kenapa-kenapa. Aku cuma ingin malam ini menghabiskan waktu bersama kamu dan Arzan."
Sonya berkerut. "Memang Mas mau kemana?"
"Nggak kemana-mana. Aku akan tetap ada disini."
"Tapi kok ngomongnya kayak gitu? Seolah-olah mau pergi jauh."
Chandra tersenyum getir. "Memang mau pergi, karena sebentar lagi hubungan kita akan berakhir."
Sonya semakin berkerut semakin dalam. Ia tidak mengerti dengan ucapan Chandra.
"Mas mau ninggalin aku?"
Chandra mengangguk. "Lebih tepatnya... perjanjian pranikah nikah kita akan usai."
Sonya membuang napasnya. Kemudian Sonya mengambil baby Arzan dari gendongan Chandra dan menidurkannya di boks bayi.
Sonya mendekati Chandra lagi, lalu ia mengalungkan tangannya di sepanjang lehernya Chandra. "Perjanjian pranikah kita sudah tidak berlaku lagi. Karena aku sudah jatuh hati sama kamu, Mas." Setelah itu, Sonya mendorong tubuh Chandra ke atas ranjang.
__ADS_1
"Mulai hari ini aku milikmu seutuhnya."