
Setelah menempuh perjalanan berjam-jam lamanya, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Chandra tiba di sebuah desa terpencil. Desa yang akan menjadi tempat persembunyian Sonya dari kejaran polisi.
Chandra menghentikan mobilnya tepat di sebuah rumah berlantai dua. Kemudian Chandra, tuan Yusuf dan Sonya turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah tersebut.
"Selamat datang tuan Yusuf," sapa seorang lelaki paruh baya, ia adalah mang Yanto. Orang yang mengurus rumah yang akan di tempati oleh Sonya dan Chandra.
"Apa kabar, mang?" Tanya tuan Yusuf.
"Alhamdulillah, baik. Silahkan masuk." Mang Yanto membukakan pintunya lebar-lebar.
Sonya langsung menyapu seluruh ruang tersebut. Rumah yang tidak terlalu besar tapi sederhana.
"Pa, sebenarnya ini rumah siapa?" Tanyanya Sonya.
"Ini rumah papa," jawab tuan Yusuf santai. Sonya sedikit terkejut, setahunya papanya tidak pernah datang ke desa ini.
Sonya, Chandra dan Tuan Yusuf duduk di kursi kayu, untuk melepaskan rasa lelah. Seorang ibu-ibu datang sambil membawa nampan berisi minuman dan juga kudapan.
"Silahkan di minum tuan, neng, den," kata si ibu yang bernama Bu Lela, istrinya mang Yanto.
"Terima kasih, Bu," jawab Chandra.
"Sonya, papa harap kamu harus betah tinggal di sini dan jangan banyak mengeluh," ujar tuan Yusuf.
"Iya, aku usahakan untuk betah tinggal di sini, lalu sampai kapan aku akan tinggal disini?"
"Sampai semuanya aman.'
"Itu tandanya aku bakal lama tinggal di sini?" Keluh Sonya sambil menekuk wajahnya.
"Iya... Mau gimana lagi. Ini semua juga karena ulahmu yang main mencelakai mobil Regi!"
Kemudian tuan Yusuf bangun dari duduknya dan meminta kunci mobilnya ke Chandra.
__ADS_1
"Papa mau pergi lagi?" Tanya Sonya.
"Iya. Papa harus balik lagi ke Jakarta. Urusan papa di Jakarta banyak, jaga dirimu baik-baik. Kalau butuh uang langsung hubungi papa." ujar tuan Yusuf, yang di angguki oleh Sonya. Kemudian tuan Yusuf bergegas keluar meninggalkan Sonya dan Chandra.
***
Di Jakarta, nyonya Puspa sangat gelisah karena suami dan anaknya tidak ada kabar. Bahkan nyonya Puspa tidak di beri tahu kalau anak dan suaminya pergi kemana.
Nyonya Puspa sudah berkali-kali menelpon Sonya maupun suaminya, tapi tidak ada yang mengangkat telponnya.
"Sebenarnya papa sama Sonya pergi kemana sih...." Rasa khawatir dan cemas menjadi satu. "Semoga saja suamiku dan dan Sonya baik-baik saja."
Di tempat yang berbeda. Sonya saat ini tengah rebahan di kasur, menatap sekeliling kamarnya yang baru.
"Kira-kira aku bakal betah nggak ya tinggal di sini? Secara di sini tidak ada yang menarik, cuman ada sawah dan ladang. Huh... Belum sehari aja sudah mulai membosankan." Ucap Sonya bermonolog.
Sonya kemudian bangun dari rebahannya dan melangkah ke arah jendela dan membuka jendela kaca. Hal pertama yang di lihat adalah sawah yang terhampar luas dan kicauan burung yang berterbangan.
Tok tok tok
"Neng, makanannya sudah siap!" Seru Bu Lela.
"Iya...."
Sonya pun segera keluar dan turun ke bawah. Tiba di meja makan, Sonya mendengus melihat makanan yang tersaji di hadapannya. Ada sayur kangkung, goreng tempe dan ikan goreng.
"Ya sudahlah! Dari pada nggak makan."
Sebelum duduk Sonya menengok ke arah kamar Chandra yang tertutup, lalu Sonya mendekati kamar Chandra untuk mengajaknya makan bersama.
Tanpa mengetuk pintu, Sonya nyelonong masuk ke kamar Chandra yang saat itu Chandra tengah memakai celana segitiga.
"Aargh...." Teriak Chandra terkejut melihat Sonya. Chandra langsung membalikkan badannya. Tidak lupa Chandra menutupi benda sensitifnya dan mendengus kesal karena Sonya main masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu.
__ADS_1
Cepat-cepat Chandra mengenakan celana segitiganya dan menyambar handuk yang ia gantungkan di samping lemari pakaian. Chandra langsung melilitkan handuknya di pinggang.
Sedangkan Sonya hanya tertegun melihat tubuh polos Chandra, apalagi Sonya melihat tongkat Chandra yang tergantung bebas. Bukannya menutup mata atau keluar dari kamar Chandra, justru Sonya menelan Salivanya.
"Kenapa Non main masuk ke kamar saya." Chandra sangat kesal dengan kelakuan Sonya.
"A-anu... Aku... Ma-u ajak kamu makan," jawab Sonya gugup.
"Hmm... Saya mau pakai baju dulu."
"O-oke... Aku tunggu kamu di meja makan." Kemudian Sonya bergegas keluar dari kamar Chandra.
Chandra menggeleng-gelengkan kepalanya dan Chandra melanjutkan mengenakan pakaian.
Sonya yang sudah di luar kamar Chandra masih saja memikirkan tongkat milik Chandra. "Argh... Kenapa otakku jadi ngeres gini sih!" Gerutu Sonya pada dirinya sendiri, lalu Sonya menggeleng-gelengkan kepalanya menghilangkan pikiran kotornya.
Chandra kini sudah duduk di meja makan. Sonya melirik Chandra dan entah kenapa Sonya tidak bisa menghapus tentang tongkat milik Chandra dari pikirannya.
Lupakan... Lupakan... Huuh! Sangat menyebalkan sekali otakku ini.
***
Selesai makan, Chandra memilih keluar dari rumah sekedar melihat-lihat lingkungan sekitar dan juga berniat mengabari ibunya, kalau ia tidak bisa pulang sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.
"Jadi kamu belum tahu sampai kapan kamu di sana?" Tanya Bu Meli, yang terdengar nada sedih. Sudah di tinggal pergi oleh Riri selama-lamanya dan kini Chandra juga pergi karena ditugaskan oleh majikannya.
"Iya. Ibu nggak apa-apakan tinggal sendiri dulu, nanti kalau Chandra sudah balik lagi ke Jakarta Chandra langsung pulang ke rumah."
"Iya, mau gimana lagi. Ini tugas dari majikan kamu dan kamu harus jaga diri di sana, juga jaga kesehatan."
"Iya, Bu. Chandra pasti akan baik-baik saja di sini." Setelah itu panggilan telpon pun terputus.
Chandra mendesah samar. Sebenarnya ia tidak tega meninggalkan ibunya yang hanya tinggal seorang diri. Memikirkan hal itu membuatnya menjadi sedih.
__ADS_1