Bukan Sekedar Suami Pengganti

Bukan Sekedar Suami Pengganti
Pilih aku atau dia!


__ADS_3

"Mau melabraknya lah! Memangnya mau ngapain lagi," ucap Sonya sambil menutup pintu mobil.


Nyonya Puspa pun ikut turun. "Kamu yakin mau masuk ke dalam rumah itu."


Sonya mengangguk yakin. "Ayo, ma...." Sonya menggandeng tangan Nyonya Puspa.


Sebenarnya Nyonya Puspa sedikit ragu untuk masuk ke dalam rumah selingkuhan suaminya, tapi melihat Sonya yang sangat yakin membuat hatinya berusaha meneguhkan hatinya. Selain itu juga, ia harus siap melihat perselingkuhan suaminya di depan matanya.


Kini, Sonya maupun Nyonya Puspa sudah berdiri di depan rumah tersebut dan tanpa membuang waktu Sonya segera mengetuk pintu rumah tersebut.


Tidak lama, pintu pun di buka dan sang asisten rumah tangga yang membukanya.


"Maaf... Cari siapa ya?" Tanya sang Art ramah.


"Kami mau bertemu dengan pemilik rumah ini," jawab Sonya, yang kemudian menyingkirkan tubuh Art.


"Maaf! Kalian dilarang masuk." Art berusaha mencegah Sonya yang menerobos masuk ke dalam rumah. Akan tetapi Sonya tidak memperdulikan larangan Art tersebut dan tetap melangkah lebih dalam.


"Papa...!" Teriak Sonya memanggilnya.


Art tersebut berusaha mencegah Sonya dan menarik tangan Sonya agar keluar dari rumah. Sonya menarik tangannya dan mendorong tubuh Art tersebut sampai terjerembab ke sofa.


"Sonya!" Nyonya Puspa terkejut melihat Art di dorong oleh Sonya.


"Papa...!" Sonya kembali meneriakinya. "Keluar kalian dari sana!"


Mendengar ada keributan dari luar kamar, Tuan Yusuf pun keluar dan betapa terkejutnya ia melihat anak dan istrinya ada di rumah ini.


"Sonya... Mama...." Cicit Tuan Yusuf.


"Siapa sih, Mas! Nggak tahu apa kalau Kia lagi sakit." Gerutu Heni.

__ADS_1


Heni pun sama terkejutnya melihat dua orang perempuan tengah berdiri tidak jauh darinya. Dapat Heni lihat, kalau raut wajah dua perempuan beda usia itu tengah memancarkan kilatan amarah.


Hati Nyonya Puspa langsung berdenyut nyeri, melihat suaminya keluar dari kamar wanita itu. Istri mana yang tidak sakit, melihat suaminya tengah berselingkuh.


Nyonya Puspa sekuat tenaga tidak menitikkan air matanya. Ia tidak mau terlihat lemah dihadapan selingkuhan suaminya.


Sonya mendengus kesal melihat papanya dan wanita di samping papanya itu. Sonya kemudian mendekatinya dan tanpa tedeng aling-aling, Sonya langsung menampar pipi Heni dengan sangat keras.


Plak....


"Sonya...!" Tuan Yusuf tercengang melihat Sonya menampar Heni.


Tuan Yusuf menatap tajam wajah Sonya. "Apa?!" Balas Sonya menatap tajam balik papanya.


"Kamu...!" Heni tak terima diperlakukan kasar oleh Sonya dan Heni siap membalas Sonya. Tapi sebelum Heni membalasnya, Sonya lebih dulu menghindar, kemudian Sonya menjambak rambut Heni sekuat tenaga.


"Aaww...!" Ringis Heni, sambil menahan rambutnya. "Mas! Tolong...!"


"Sonya! Hentikan!" Tuan Yusuf menarik Sonya dan berusaha memisahkan Sonya dari Heni.


Melihat suaminya begitu membela selingkuhannya, bahkan suaminya begitu sangat melindungi wanita tersebut. Membuat dadanya semakin sesak melihatnya.


"Sonya! Stop...!" Perintah Nyonya Puspa.


Akan tetapi Sonya tidak mau melepaskannya. Justru kini Sonya semakin brutal menyerang Heni. Sonya sangat murka terhadap selingkuhan papanya itu dan Sonya ingin sekali menghempaskan tubuh Heni ke lantai.


"Sonya...!!" Sekali lagi Nyonya Puspa berteriak meminta Sonya menghentikannya.


Sonya pun melepaskannya dengan sangat terpaksa. Nafas Sonya memburu karena sangat marah terhadap selingkuhan papanya.


"Mas... Sakit...." Heni merengek kepada Tuan Yusuf dan menunjukkan beberapa luka cakar diwajahnya. Melihat luka di di wajah Heni membuat Tuan Yusuf menjadi bertambah emosi terhadap Sonya.

__ADS_1


Tuan Yusuf kemudian mengangkat tangannya dan bersiap menampar pipi Sonya.


"Berani kamu menampar Sonya!" Seru Nyonya Puspa memperingatinya.


Akhirnya Tuan Yusuf menurunkan lagi tangannya, tapi tatapannya begitu nyalang terhadap Sonya.


Nyonya Puspa kemudian mendekati suaminya dengan tatapan yang begitu sangat dingin. "Mulai hari ini kita pisah! Dan aku minta cerai," ucap Nyonya Puspa.


"Jaga bicara kamu! Lebih baik kamu pergi dari sini," sahut Tuan Yusuf.


"Nggak! Aku nggak akan pergi sebelum kamu talak aku!" Jawab Nyonya Puspa.


Tuan Yusuf mengusap wajahnya kasar. Bagaimana pun ia tidak mau berpisah dengan Nyonya Puspa dan ia tidak akan pernah menceraikan istrinya itu.


"Aku nggak akan menalak kamu. Ngerti kamu!" Tuan Yusuf menegaskan ucapannya.


"Kalau kamu tidak mau menalak aku. Maka... Kamu harus pilih dia atau aku!"


"Aku--." Ucapan Tuan Yusuf terpotong, karena Heni menyahuti ucapan Nyonya Puspa.


"Tentu saja Mas Yusuf akan memilihku. Apa kamu buta! Lihatlah aku. Aku masih muda dan cantik, sedangkan kamu sudah ujur." Heni merendahkan Nyonya Puspa.


Sonya yang mendengar mamanya direndahkan, maju dan siap menerjang Heni lagi. Namun, Nyonya Puspa menahannya.


"Lepasin aku, Ma. Biar aku robek mulut wanita murahan itu."


Nyonya Puspa menggelengkan kepalanya. "Jangan buang tenaga kamu hanya untuk menghajar wanita itu."


Nyonya Puspa kemudian mendekati Heni dan menatapnya dingin. "Aku memang sudah tua, tapi aku masih punya harga diri. Tidak seperti kamu yang masih muda, tapi menjadi perebut suami orang. Jadi pelakor saja bangga, sangat miris hidup kamu menjadi pelakor. Kamu itu tidak beda jauh dengan sebuah closet, yang menjadi tempat pembuangan hasrat suamiku."


"Puspa, cukup!" Hardik Tuan Yusuf.

__ADS_1


"Kenapa? Mau membelanya?! Silahkan, aku tidak peduli. Sudah cukup kamu bohongi aku dan mulai hari ini rasa cintaku terhadapmu lenyap dan... Aku akan tetap bercerai denganmu, Mas!"


__ADS_2