
Tuan Yusuf mendengus. Sepertinya ia terlalu baik membiarkan Chandra bersama Sonya, sehingga dengan sangat percaya dirinya Chandra berkata demikian. Bahkan Chandra sudah tidak ada rasa takut terhadapnya.
"Percaya diri sekali kamu. Sampai-sampai kamu punya pikiran seperti itu," ujar Tuan Yusuf.
"Terserah apa kata, Tuan. Yang jelas saya tidak akan membiarkan Sonya pergi dari sini. Permisi...!" Kemudian Chandra memilih meninggalkan Tuan Yusuf. Chandra sangat malas berdebat dengan Tuan Yusuf yang keras kepala.
"Lihat saja, Chandra. Saya pastikan besok kamu tidak bertemu dengan Sonya." Gumam Tuan Yusuf sembari menatap punggung Chandra yang kian menjauh.
Selepas kepergian Chandra, Tuan Yusuf kini tengah menyusun rencana dan saat ini Tuan Yusuf telah berhadapan sama orang suruhannya.
"Bagaimana pun caranya, kalian berdua harus bisa membawa Sonya ke bandara besok," ucap Tuan Yusuf.
"Siap, bos. Bos tenang saja, kami berdua pasti akan membawa Sonya ke bandara," sahut Adi.
"Awas! Jangan sampai gagal. Kalau sampai gagal kalian akan tahu akibatnya."
Keduanya mengangguk. Lalu keduanya segera pergi dari sana. Tuan Yusuf tersenyum lebar, karena rencananya membawa Sonya pergi ke luar negeri segera terlaksana.
***
Sore harinya, Tuan Yusuf pulang ke rumah. Ia mendengus melihat sikap Nyonya Puspa yang dingin terhadapnya.
"Ngapain pulang!" Ketus Nyonya Puspa.
"Aku pasti pulang lah, ini kan rumahku," jawab Tuan Yusuf dengan nada cuek. Lalu Tuan Yusuf memilih meninggalkan Nyonya Puspa yang tengah duduk di sofa.
"Pakaian kamu sudah aku kemasin, tinggal kamu angkut dari sini," celetuk Nyonya Puspa yang langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar perkataan istrinya, lalu Tuan Yusuf membalikkan badannya dan menatap wajah Nyonya Puspa.
"Berani kamu ngusir aku!" Kesal Tuan Yusuf.
"Tentu saja aku berani, karena rumah ini adalah rumah peninggalan orang tuaku."
__ADS_1
Tuan Yusuf membuang nafasnya seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Oke. Aku akan pergi dari sini, tapi kamu jangan menyesal karena telah mengusirku dari sini."
"Aku nggak akan pernah menyesal," jawab Nyonya Puspa datar. Kemudian Tuan Yusuf melanjutkan langkahnya menuju kamarnya untuk mengambil koper miliknya yang sudah di beresin oleh istrinya.
Sekarang aku mengalah demi semuanya. Batin Tuan Yusuf sembari menatap keseluruhan kamar tersebut.
Kemudian Tuan Yusuf menyeret kopernya. Nyonya Puspa sudah berdiri menanti Tuan Yusuf keluar dari rumahnya. Nyonya Puspa menatap dingin wajah suaminya itu sambil melipatkan kedua tangannya di atas dada.
"Aku pergi dulu," ucap Tuan Yusuf yang sudah berdiri di hadapan Nyonya Puspa.
"Hm...." Jawab Nyonya Puspa.
Tuan Yusuf menghela nafasnya melihat sikap istrinya yang berubah sangat dingin, tapi tak mengapa, asal istrinya tidak memintanya untuk bercerai.
Tuan Yusuf kemudian beranjak dari sana. "Tunggu...!" Nyonya Puspa menghentikan langkahnya.
Aku yakin kalau Puspa tidak akan membiarkan aku pergi dari sini.
Nyonya Puspa kemudian mendekati suaminya itu dan menatapnya dingin. "Aku sudah mengajukan gugatan perceraian kita. Sekarang silahkan kamu pergi dari hidupku dan jangan datang lagi di kehidupanku."
Senyum tipis yang tadi menghiasi bibirnya kini lenyap entah kemana.
"Tapi... Sampai kapanpun aku nggak akan bersedia menceraikan kamu dan sampai kapanpun kamu tetap istriku." Sahut Tuan Yusuf.
"Kamu egois, Mas! Kamu sudah berselingkuh dariku dan kamu sudah sangat menyakiti hatiku, Mas. Terus sekarang... Kamu tetap mempertahankan aku yang justru akan semakin membuat hatiku sakit."
"Terserah apa kata kamu. Mau di bilang egois atau apalah, karena bagiku kamu tetap istriku dan akan terus menjadi istriku."
Sonya yang baru saja turun dari lantai dua, mendengus mendengar ucapan papanya yang tetap mempertahankan mamanya.
"Lebih baik baik papa pergi dari sini. Sudah cukup papa menyakiti hati mama atas perselingkuhan papa sama wanita murahan itu."
__ADS_1
"Oke... papa akan pergi dari sini." Tuan Yusuf pergi dari sana. Sonya segera mendekati Nyonya Puspa dan menyentuh bahu Nyonya Puspa.
"Ma...."
"Sonya...." Lirih Nyonya Puspa. Ia langsung menjatuhkan kepalanya ke bahu Sonya dan meratapi nasib rumah tangganya yang hancur akibat ulah suaminya yang sudah tega mengkhianatinya.
"Mama pasti bisa melewatinya dan semoga saja papa mendapatkan hukuman atas pengkhianatannya." Nyonya Puspa pun mengangguk lemah.
Bagaimana pun, ia masih sangat mencintai suaminya itu dan bukan waktu yang sebentar hidup bersama dengan suaminya. Bahkan ia sangat setia terhadap suaminya, tapi kenapa... Kesetiaannya harus di nodai dengan pengkhianatan.
***
Keesokan harinya.
Sonya saat ini tengah bersiap untuk pergi menemui putra tercintanya. Selain itu juga ia ingin membawa baby Arzan untuk tinggal bersamanya lagi, mengingat papanya sudah pergi dari rumah.
Sebelum berangkat, Sonya terlebih dahulu menelpon Chandra.
"Halo, Mas. Aku mau ke sana."
"Oke... Aku tunggu,".jawab Chandra di ujung telpon.
Sonya segera mematikan telponnya dan bergegas pergi. Ia sudah sangat merindukan baby Arzan dan juga merindukan Chandra.
Sonya pun segera mengendarai mobilnya dan tanpa Sonya ketahui, sebuah mobil mengikutinya. Mobil yang mengikuti Sonya mempercepat laju mobilnya dan menyelip mobil Sonya dan langsung menghadang mobil Sonya.
Ciiit... Ban mobil milik Sonya mendadak di rem dan hampir menabrak mobil tersebut.
Sonya terkejut melihatnya dan hampir saja membuat jantungnya melompat dari tempatnya.
Dua orang dari mobil tersebut keluar dan mendekati mobil Sonya, sambil mengacungkan sebuah pistol ke arah mobil Sonya.
__ADS_1
"Keluar kamu dari sana!"