Bukan Sekedar Suami Pengganti

Bukan Sekedar Suami Pengganti
Berani mengancam


__ADS_3

Chandra menatap sedih wajah Sonya, yang tengah tidur sambil mendekap putranya itu. Bulu matanya masih tampak basah, itu berarti Sonya habis menangis. Di dalam benaknya, ia juga tidak mau kalau Sonya harus berpisah dengan bayinya.


Chandra menghela nafasnya dan mengangkat kepalanya. Sungguh Chandra tidak tega melihatnya.


Sepertinya aku harus bicara sama Tuan Yusuf. Batin Chandra seraya menatap Sonya. Kemudian Chandra melirik jam yang tergantung di dinding dan sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Lalu Chandra memilih melangkah ke arah kamar Tuan Yusuf dan memberanikan diri mengetuk pintu kamar Tuan Yusuf.


"Semoga Tuan belum tidur."


Tok tok tok.


Beberapa kali Chandra mengetuk pintu, hingga tidak berselang lama pintu pun di buka oleh Nyonya Puspa.


"Ada apa, Chan?" tanya Nyonya Puspa.


"Maaf kalau saya mengganggu tidur Nyonya. Mm... Saya mau bicara sama Tuan, Nyonya."


"Tapi suami saya sudah tidur," jawab Nyonya Puspa, sambil melirik ke arah ranjang. Dimana suaminya tengah tidur.


"Oh... sudah tidur ya." Chandra langsung tertunduk lesu.


"Memang mau bicara soal apa?" tanya Nyonya Puspa lagi.


Chandra menggelengkan kepalanya seraya tersenyum samar. "Tidak terlalu penting. Ya sudah, biar besok pagi saja saya bicaranya."


Nyonya Puspa mengangguk, lalu menutup pintunya lagi. Dengan lesu, Chandra melangkah ke arah kursi dan menghempaskan bokongnya di sana.


***

__ADS_1


Pagi pun menyapa. Pagi ini Sonya tengah belajar memandikan putranya dan ibu Meli yang mengajari Sonya. Chandra tersenyum simpul melihat Sonya menjadi wanita yang penuh keibuan.


Meski masih takut, Sonya tetap memberanikan diri memandikan buah hatinya.


"Nanti kalau mandiin lagi kayak gitu," ujar ibu Meli, sambil mengeringkan badan si bayi.


Sonya mengangguk mengerti. "Iya, Bu."


"Ngomong-ngomong nama cucu ibu siapa namanya? Sampai sekarang ibu belum tahu namanya?"


Sonya kemudian melirik Chandra yang berdiri di ambang pintu, lalu Chandra menghampirinya.


"Namanya Arzan Ravindra," jawab Chandra seraya menatap baby Arzan yang tengah menangis.


"Oh... namanya Arzan. Nama yang bagus," sahut ibu Meli.


Selesai mandi dan memakai pakaiannya. Baby Arzan segera disusui. Dengan penuh kelembutan Sonya mengASIhi putranya yang tidak sabar ingin melahap sumber energinya.


Selesai menjemur pakaian baby Arzan, Chandra kembali ke kamar dan melihat baby Arzan yang tengah tidur. Saat tengah asik menatap baby Arzan, Tuan Yusuf yang baru keluar dari kamarnya, memanggilnya.


"Chandra...!"


"Iya, Tuan," sahut Chandra yang langsung melangkah menghampirinya.


"Semalam katanya kamu cari saya. Memangnya ada apa?"


Chandra mengangguk kemudian melirik Sonya. "Bisa bicaranya jangan di sini, Tuan," ucap Chandra menatap serius wajah Tuan Yusuf.

__ADS_1


Tuan Yusuf pun mengangguk dan melangkah keluar rumah, yang diikuti oleh Chandra. Disinilah sekarang, Chandra dan Tuan Yusuf berdiri di dekat pohon pisang yang tidak jauh dari rumah.


"Kamu mau bicara apa? Sampai ngomongnya harus disini," ucap Tuan Yusuf.


Chandra berdehem, sebelum berani mengatakan apa yang ingin ia katakan. "Jadi gini, Tuan... Saya minta jangan pisahkan Non Sonya dengan baby Arzan."


"Kenapa?" Seraya mengangkat satu alisnya.


"Karena baby Arzan sangat membutuhkan Non Sonya sebagai ibunya dan lagian Tuan tidak berhak memisahkan mereka berdua."


Tuan Yusuf tersenyum kecil. "Memangnya kamu siapa menyuruhku. Kamu itu hanya sebatas sopir! Ingat hanya SOPIR." Tuan Yusuf sengaja menekan kata sopir.


"Saya tahu kalau saya hanyalah sopir, tapi saya juga punya hak mengatakan seperti ini karena saya juga suaminya Non Sonya."


Tuan Yusuf tertawa mendengar kata suami. "Oh... Sekarang kamu ingin mengakui kalau kamu ini menantuku gitu. Eh! Sadar diri, kamu itu hanya suami di atas kertas dan saya bisa saja mendepak kamu." Tuan Yusuf menatap rendah Chandra.


"Silahkan Tuan mendepak saya, tapi sebelum Tuan mendepak saya. Saya akan mengatakan kepada Nyonya Puspa kalau Tuan ini memiliki simpanan." Chandra sengaja mengancam Tuan Yusuf.


Demi melihat Sonya bahagia, Chandra akan melakukan apapun. Meski harus menjatuhkan Tuan Yusuf dihadapan keluarganya.


Tuan Yusuf langsung menatap nyalang ke arah Chandra, lalu Tuan Yusuf menarik kerah baju Chandra.


"Berani kamu sama saya!" Marah Tuan Yusuf.


Chandra hanya menatap datar wajah Tuan Yusuf. "Maka dari itu, jangan paksa Non Sonya untuk pisah dengan baby Arzan."


"Ck...." Tuan Yusuf berdecih menatap Chandra. "Mentang-mentang kamu mengetahui semuanya. Kamu berani mengancam saya. Dengar ya, saya tahu apa yang terbaik buat Sonya dan kamu tidak berhak ikut campur dengan urusan keluarga saya. Saya akan tetap membawa Sonya pergi ke luar negeri dan bayi itu tidak punya hak untuk hidup Sonya."

__ADS_1


Chandra mendengus mendengar ucapan Tuan Yusuf. Sangat keras kepala sekali Tuan Yusuf ini. Apa dia tidak memikirkan perasaan Sonya?. Sungguh orang tua yang tidak punya hati, pikir Chandra.


"Jika Tuan tetap memaksa dengan keinginan Tuan. Jangan salahkan saya bila harus membongkar rahasia Tuan dengan simpanan Tuan!"


__ADS_2