
Semenjak tahu kalau Regi tengah mencarinya, hidup Sonya tidak merasa tenang. Ia terus di hantui rasa takut dan gelisah, walau sudah berusaha membuang kegelisahan dan ketakutannya.
Sonya juga tidak berani keluar dari rumah, ia terus bersembunyi dan entah sampai kapan dirinya terus bersembunyi.
Sonya mengelus kandungannya dan tatapannya lurus ke luar jendela.
" Sampai kapan aku begini terus, bersembunyi dari kesalahan yang sudah aku perbuat. Tapi aku juga tidak mau kalau sampai di tangkap , apalagi sampai masuk penjara. Membayangkannya saja sudah membuatku merinding," gumam Sonya, dengan tatapan lesu.
Chandra datang dan berdiri di sampingnya.
"Non, hari ini waktunya Non cek kandungan?"
"Harus ya? Apa tidak apa-apa kalau aku keluar dari rumah?" ucap Sonya yang merasa takut kalau keluar dari rumah.
Chandra kemudian memandangi Sonya dari atas sampai bawah, lalu Chandra tersenyum.
"Saya punya ide. Ayo, Non ikut saya." Sonya pun mengikutinya.
Sonya menautkan kedua alisnya saat Chandra memberikannya pakaian Bu Lela.
"Ngapain kamu kasih aku bajunya Bu Lela?"
"Non pakai saja dan jangan banyak protes," ucap Chandra dan dengan terpaksa Sonya mengganti pakaiannya dengan pakaian Bu Lela.
Dengan wajah di tekuk, Sonya mendekati Chandra yang tersenyum. Akan tetapi senyuman Chandra seolah tengah mengejeknya yang menggunakan pakaian gamis berwarna hijau lumut. Sonya merasa kayak ibu-ibu yang mau ke pengajian.
"Sekarang Non pakai kerudungnya."
Chandra langsung memasangkannya di atas kepala Sonya.
"Selesai...." Ucap Chandra.
Kemudian Sonya menatap dirinya di cermin. "Jelek tahu! Aku berasa seperti emak-emak."
"Siapa bilang Non jelek pakai hijab. Asal Non tahu, kecantikan Non itu berlipat ganda kalau Non menggunakan hijab dan aku suka melihat Non seperti ini. Membuat dadaku set set nyes...."
Sonya langsung tersipu mendengarnya. Entah kenapa pujian Chandra membuat hatinya berbunga-bunga.
"Beneran aku cantik? Nggak kayak emak-emak kan?"
"Nggak lah! Non itu beneran sangat cantik." Chandra berkata sungguh-sungguh.
"Ayo kita berangkat," ajak Chandra.
"Tunggu dulu! Aku harus menggunakan ini." Sonya langsung memasangkan masker sebagi pelengkapnya dan pastinya jika nanti bertemu dengan Regi tidak akan mengenalnya.
__ADS_1
Chandra dan Sonya kini berangkat menuju klinik bunda dan anak. Jaraknya lumayan jauh, secara tempat tinggal Sonya jauh di desa terpencil.
Sekitar dua puluh menit, keduanya sampai di klinik. Setelah itu turun dan masuk ke dalam.
Setelah mendaftar, Sonya harus menunggunya dengan pasien yang lain. Lama menunggu, akhirnya giliran Sonya di panggil.
"Ibu Sonya Valeria Lukyanova...." Panggil petugas klinik.
"Ayo masuk," ajak Sonya.
"Nggak Non, saya di sini saja," tolak Chandra.
Sonya mendengus dan menarik paksa tangan Chandra untuk ikut masuk ke dalam ruangan dokter.
Setelah di cek tenisnya dan di timbang, Sonya di suruh langsung tiduran di atas ranjang. Dokter pun menyibak pakaian Sonya dan memperlihatkan perut buncitnya.
Chandra memalingkan wajahnya ketika pakaian Sonya disingkap ke atas dan untung saja Sonya memakai celana selutut. Kalau tidak, Chandra akan sangat malu melihatnya.
Alat USG di tempelkan di perut Sonya dan menggerak-gerakkannya di atas perut Sonya.
"Semuanya bagus, Bu. Usia kandungannya sudah 23 minggu, beratnya sekitar 389 gram, tingginya 28, 9 cm. Air ketubannya juga bagus. Sekarang kita dengarkan suara detak jantungnya."
Dokter pun memperdengarkan suara detak jantung si jabang bayi. Sonya yang setiap bulan cek kandungan selalu di buat terharu mendengar suara detak jantung malaikat kecilnya.
Biasanya yang menemani Sonya cek kandungan adalah Bu Lela dan dirinya hanya menunggu di depan saja. Tapi untuk kali ini Chandra melihat sosok kecil di layar monitor yang tengah bergerak-gerak.
"Detak jantungnya bagus," ujar dokter, yang bernama dokter Nurul. "Dan jenis kelaminnya perempuan, Bu."
Sonya mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum senang.
Selesai pemeriksa kandungan. Sonya dan Chandra segera pulang. Di perjalanan, tepatnya di persimpangan jalan. Sonya melihat sosok yang sangat di kenalnya, dia adalah Regi.
Ya... Regi ternyata sudah sampai di daerah tempat tinggal Sonya.
Sonya terbelalak melihat Regi, yang sepertinya tengah bertanya tentang dirinya. Terlihat di tangan Regi memegangi selembar foto, yang diyakini Sonya adalah foto dirinya.
"Chan... Itu Regi," tunjuk Sonya dengan dagunya.
Chandra pun mengikuti pandangan Sonya dan Chandra juga terkejut melihat Regi.
" Bagaimana kalau Regi menemukan aku?" Terdengar suara kekhawatiran dari Sonya.
Sonya benar-benar tidak dapat menutupi ketakutannya. Apalagi ia sudah melihat Regi yang tengah mencarinya.
"Non, nggak usah takut. Saya nggak akan membiarkan Regi menemukan Non dan Non harus percaya sama saya."
__ADS_1
Walau Chandra berkata demikian, tetap saja hatinya sangat risau dan tidak tenang. Ketakutan-ketakutan yang Sonya rasakan tidak akan membuatnya hidup dengan damai.
Akhirnya Sonya dan Chandra tiba di rumah. Sonya buru-buru masuk ke dalam rumah. Tiba di kamar Sonya langsung menutup seluruh jendela kamarnya dan tidak lupa Sonya mengunci pintu kamarnya.
"Kasihan Non Sonya. Pasti sekarang Non Sonya tengah ketakutan." Gumam Chandra yang kini tengah duduk di meja makan.
"Sepertinya aku harus membawa Non Sonya pergi dari desa ini. Tapi pergi kemana?"
Chandra kini tengah berpikir, mencari tempat yang pas buat Sonya bersembunyi. Tidak ada banyak waktu untuk memikirkannya lama-lama, kalau terlalu lama berada di tempat ini. Lambat-laun Regi pasti menemukan Sonya dan membawanya kembali ke kota, atau bisa jadi Sonya akan di penjara.
"Baiklah. Aku harus bergerak cepat dan malam ini aku harus membawa Non Sonya pergi dari sini."
Chandra beranjak dari duduknya dan segera menemui Sonya di kamarnya.
Tok tok tok.
"Non... Saya mau bicara!" Teriak Chandra.
Sonya pun membuka pintunya. "Mau bicara apa?"
"Malam ini kita pergi dari sini."
"Pergi kemana?"
"Pokoknya Non ikut saja. Sekarang Non harus kemasin pakaian Non."
Tanpa banyak bicara, Sonya mengemasi barang-barangnya yang dibantu oleh Chandra.
Malam pun tiba. Sonya dan Chandra sudah bersiap-siap untuk pergi dari rumah ini.
"Mang... Bu Lela, kami pamit pergi dulu. Terima kasih sudah membantu kami selama tinggal di sini dan juga maaf selama kami disini sudah banyak merepotkan Bu Lela sama mang Yanto." ucap Sonya.
"Iya, neng. Neng juga harus jaga kesehatan neng dan juga kandungan, neng. Semoga perjalanan neng dan den Chandra selamat sampai tujuan," kata Bu Lela, sambil menahan tangisannya. Biar bagaimanapun Sonya dan Chandra sudah dianggap sebagai anaknya.
"Iya, Bu...." Jawab Sonya.
"Ayo Non kita harus berangkat," ucap Chandra, yang dianggukin oleh Sonya.
"Sekali lagi terima kasih, Bu... Mang...." Kata Sonya. Lalu mang Yanto dan Bu Lela mengiringi kepergian Sonya dan Chandra.
"Hati-hati di jalan. Bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut." Bu Lela mengingatkan Chandra.
"Iya, Bu. Kami pergi dulu," timpal Chandra.
Chandra dan Sonya meninggalkan rumah tersebut dan berharap di tempat yang baru. Orang-orang yang tengah mencari keberadaan Sonya, tidak dapat menemukannya dan pastinya entah sampai kapan pelarian ini akan berakhir.
__ADS_1