Bukan Sekedar Suami Pengganti

Bukan Sekedar Suami Pengganti
Tidak bisa tidur


__ADS_3

Tak terasa sudah hampir dua bulan Sonya dan Chandra tinggal di desa dan sekarang kandungan Sonya sudah berusia 5 bulan. Sonya sudah mulai merasa bosan dan uring-uringan karena tidak ada tempat yang menarik di sana.


Yang bisa Sonya lakukan saat ini adalah rebahan di kamarnya sambil bersungut-sungut sebal.


"Huh ... Ternyata tinggal di tempat seperti ini tidak seru." Dengus Sonya. Kemudian Sonya keluar dari kamarnya dan mencari Chandra.


"Chan, kamu mau pergi kemana?" Tanya Sonya ketika melihat Chandra mau pergi.


"Mau ke pasar," jawab Chandra.


"Aku boleh ikut?"


"Non, yakin?"


"Iya...." Jawab Sonya.


Sonya pikir lebih baik ikut Chandra ke pasar dari pada terus menerus berada di rumah dan itu sangat membosankan.


Sonya pun ikut melangkah ke luar rumah. Sesampainya di luar, bola mata Sonya membulat sempurna.


"Nggak salah kita naik mobil beginian?" Sambil menunjuk mobilnya.


"Nggak. Lagian cuma ada mobil ini," jawab Chandra.


"Memang nggak ada yang lebih bagusan lagi gitu mobilnya," sungut Sonya, karena mobil yang akan membawanya ke pasar adalah mobil pickup. Sungguh-sungguh tidak keren, pikir Sonya.


Mau tidak mau, Sonya terpaksa naik mobil pickup.


Kini Chandra melajukan mobilnya menuju pasar. Sekitar lima belas menit, akhirnya tiba di pasar. Chandra dan Sonya langsung menuju ke tempat yang akan di beli oleh Chandra. Ternyata tempat yang dituju adalah toko pakaian.


Chandra memilih-milih pakaian yang sesuai dengan dirinya dan saat sedang sibuk memilih pakaian ada seorang wanita yang sejak tadi terus melihat Chandra. Ia adalah anak dari pemilik toko pakaian tersebut.


Sonya yang mengetahui ada yang memperhatikan Chandra langsung menggandeng lengan Chandra sambil melirik sinis wanita tersebut. Seolah-olah matanya Sonya mengatakan 'dia milikku'.


"Kenapa?" Tanya Chandra bingung, karena Sonya tiba-tiba melingkarkan tangannya di lengannya.


"Nggak apa-apa," jawab Sonya. "Sudah selesai belum."


"Sebentar lagi."


Selesai memilih pakaian, Chandra segera membayarnya.


"Berapa semuanya?" Tanya Chandra kepada anak pemilik toko.


"Semuanya seratus enam puluh lima ribu."


Chandra mengangguk dan menyerahkan uang dua ratus ribu kepada wanita itu, kemudian wanita itu memberikan kembaliannya disertai dengan selipan kertas kecil.


"Tunggu! Mana kembaliannya?" Tanya Sonya kepada Chandra, seraya mengadahkan tangannya.


"Ini... Menang kenapa?"


Sonya tak menjawab, justru Sonya mengambil uangnya dan membuka kertas kecil yang terselip diantara uang kembalian. Sonya mendengus kesal, karena kertas tersebut berisi nomor hape.


"CK... Dasar perempuan ganjen! Ini apa maksudnya?" Sonya menunjukkan kertas kecil itu kepada perempuan penjaga toko.

__ADS_1


"Aduh... Maaf, kertas itu ke selip. Saya pikir nggak ada kertas itu," Elak si penjaga toko.


"CK... Aku nggak percaya! Ayo kita pergi dari sini." Kata Sonya.


"Terima kasih sudah belanja di toko kami," ucap wanita itu dengan senyum ramahnya, tapi Sonya menangkap senyuman wanita itu senyuman menggoda dan rasanya Sonya ingin mencakar wajah wanita itu.


"Iya, sama-sama," jawab Chandra yang terlihat biasa saja.


Sonya langsung menarik Chandra dari toko tersebut. Sonya sudah muak melihat wanita itu yang terus memandangi wajah Chandra. Apalagi wanita itu menyelipkan nomor hapenya.


"Kita mau kemana?" Tanya Chandra bingung, karena Sonya masih menarik tangannya.


"Aku mau es dawet," jawab Sonya sekenanya.


"Oke, tapi jalannya pelan-pelan."


Akhirnya Sonya pun memelankan jalannya dan tangannya tetap menggandeng tangan Chandra. Entah kenapa Sonya sangat tidak suka jika ada perempuan lain yang terus memandangi Chandra. Hatinya akan merasa gerah melihatnya.


"Nah... Itu dia penjual es dawet nya," tunjuk Chandra.


Sonya menghentikan langkahnya, ketika pedagang es dawet banyak pembelinya. Apalagi yang beli emak-emak, membuat Sonya tidak berniat membelinya.


"Ayo, katanya mau es dawet," kata Chandra yang bingung melihat Sonya diam.


"Nggak jadi, aku mau pulang saja," tukas Sonya.


"Yakin? Nggak nyesel."


"Iya! Ayo kita pulang saja."


Mereka berdua kembali ke mobil dan kali ini Chandra tidak mengajak Sonya pulang. Ia ingin mengajak Sonya makan di rumah makan di daerah sana.


"Kita makan dulu ya. Aku yakin kamu bakal suka sama tempatnya," tukas Chandra.


Sonya hanya menuruti saja. Lagian mereka berdua sudah berada di depan rumah makan.


"Tunggu!" Cegah Sonya.


"Kenapa?"


Sonya mengulurkan tangannya dan meminta Chandra untuk menggandeng tangannya. Tanpa banyak protes Chandra menggandeng tangan Sonya, lalu keduanya masuk.


Suasana di rumah makan tersebut cukup ramai. Chandra memilih duduk di ujung dan kebetulan view di sana lumayan bagus untuk melihat pemandangan di sekitarnya.


"Non mau makan apa?" Tanya Chandra sambil memilih menu makanan.


"Terserah," jawab Sonya.


Chandra mendengus, kata terserah selalu membuatnya bingung. Akhirnya Chandra memesan ikan cobek, sayur tempe dan sayur asem.


"Chan, mulai sekarang jangan panggil aku Non lagi. Aku dengernya risih," ujar Sonya.


"Loh! Kenapa? Kan memang seharusnya saya panggilnya Non," sahut Chandra.


"Tapi kan aku bukan majikan kamu," sanggah Sonya.

__ADS_1


"Tapi kan...."


"Sudah, nurut saja. Apa susahnya panggil nama saja." Paksa Sonya, yang tak mau di bantah.


"Baiklah." Chandra mengalah.


Selesai acara makan siang, Sonya dan Chandra langsung pulang.


Setibanya di rumah, Chandra menyerahkan kantong plastik hitam kepada Sonya.


"Ini apaan?" tanya Sonya, lalu Sonya melihat isinya. "Daster?"


"Iya... saya rasa Non sudah seharusnya mengenakan pakaian longgar. Apalagi kandungan Non sudah besar dan saya perhatikan Non selalu mengenakan pakaian ketat. Maaf, kalau saya membelikan pakaian murah."


"Iya, tidak apa-apa. Terima kasih ya...." Hati Sonya tiba-tiba menghangat dengan perhatian kecil dari Chandra.


***


Malam harinya Sonya tidak dapat tidur, padahal waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Argh...!" Kenapa aku nggak bisa tidur sih!" Gerutu Sonya, lalu Sonya bangun dari tempat tidur dan mengambil daster yang dibelikan oleh Chandra.


"Aku coba pakai deh." Sonya pun mengganti pakaiannya dengan daster, lalu ia melangkah turun ke bawah.


Sonya kemudian duduk di sofa depan televisi dan tiduran di sana. Hingga terdengar suara pintu terbuka dari kamar Chandra.


"Eh! Non kok ada disini?" Chandra terkejut melihat Sonya tengah tiduran di sofa.


"Aku nggak bisa tidur," jawab Sonya.


"Oh...." Chandra kemudian pergi ke dapur untuk ambil minum. Setelah itu Chandra berniat kembali tidur, tapi ternyata Sonya malah ikut masuk ke kamarnya.


"Non, mau ngapain?"


"Aku kan sudah bilang, jangan panggil aku Non. Panggil saja Sonya. Aku mau tidur sama kamu."


"Hah!!"


Sonya tidak memperdulikan keterkejutannya Chandra. Sonya langsung merebahkan diri di atas kasur.


"Kenapa diam saja. Ayo tidur," ucap Sonya.


"Tapi...."


"Cepetan! Aku sudah ngantuk." Lagi-lagi Sonya tidak memperdulikan protes dari Chandra.


Kesal karena Chandra tetap berdiri, akhirnya Sonya bangun dan menarik Chandra ke tempat tidur.


"Non, jangan kayak gini," tolak Chandra, sebab Sonya langsung melingkarkan tangannya di tubuh Chandra.


"Diam! aku mau tidur!"


Chandra benar-benar merasa risih dan tak mau melanggar perjanjian pranikahnya. Bagaimana kalau tuan Yusuf tahu, pasti dirinya akan ditendang dari pekerjaannya.


Malampun semakin larut, Sonya sudah jatuh ke alam mimpi. Sedangkan Chandra tidak bisa tidur. Apalagi melihat pakaian Sonya yang tersingkap dan memperlihatkan bagian pahanya yang mulus, serta bagian dadanya terlihat, di tambah lagi tangan Sonya terus saja melingkar di perutnya dan kakinya menindih paha Chandra.

__ADS_1


Chandra menegang, ketika kaki Sonya menyenggol tongkatnya. Membuat Chandra kalang kabut dan gelisah.


__ADS_2