
"Iya, Tuan. Saya sangat mencintai Sonya."
Senyum tipis terbit di bibir Sonya. Walau hari ini ia dirundung sedih, dengan keadaan papanya yang tengah sakit, tapi hatinya menghangat atas pengakuan cintanya Chandra dihadapan papanya.
Aku juga mencintaimu, Mas. Balasnya di dalam hatinya.
"Jaga Sonya untuk saya," ucap Tuan Yusuf. Pandangannya kini melembut, tidak seperti dulu yang banyak menyimpan kemarahan.
"Pasti, Tuan. Saya pasti akan menjaga Sonya dan Arzan."
"Satu lagi. Mulai sekarang... Panggil saya papa," pintanya sungguh-sungguh.
Chandra mengangguk. "Baiklah, pa... Papa." Chandra masih kagok saat mengucapkan kata papa, tapi ia senang karena akhirnya Tuan Yusuf menerimanya sebagai menantunya.
"Sekarang papa istirahat. Jangan banyak pikiran, agar papa cepat sembuh," timpal Sonya, yang langsung dianggukin oleh Tuan Yusuf.
***
Nyonya Puspa kini tengah memandangi wajah lelaki yang sebenarnya masih dicintainya. Meski ia sakit hati atas apa yang sudah torehkan padanya, tapi melihat lelaki yang sudah berpuluh tahun hidup dengannya terbaring lemah membuatnya tak tega. Bagaimana pun lelaki yang terbaring itu sudah memberikan banyak hal kepadanya.
Berkali-kali Nyonya Puspa menghela napasnya, membuang rasa sesak di dadanya.
Kenapa mas jadi seperti ini?
Seharusnya mas bisa jaga kesehatan dengan baik.
Kalau seperti ini terus, bagaimana dengan pekerjaanmu.
Cepatlah sembuh... Jangan membuatku khawatir.
Nyonya Puspa kemudian menerawang jauh ke masa lampau. Dimana dulu suaminya berjanji akan selalu menjaga mahligai rumah tangga yang mereka bina, tapi kini janji yang pernah diucapkannya sudah diciderai oleh suaminya sendiri.
"Ma...." Suara lirih dari Tuan Yusuf membuyarkan lamunannya, dan menoleh ke arah mantan suaminya itu yang kini tengah menampilkan senyum terbaiknya.
"Aku senang mama datang." Ujarnya dengan senyum terus terkembang.
__ADS_1
"Aku hanya memastikan kalau Mas baik-baik saja," ujarnya acuh.
Meski sedih melihat sikap dingin mantan istrinya, tapi disisi hatinya yang lain menghangat. Setidaknya mantan istrinya masih memperdulikannya.
Nyonya Puspa yang sudah merasa bosan,. Apalagi keduanya saling diam, membuat Nyonya Puspa memilih bangkit dari duduknya.
"Mama mau kemana?" Tanya-nya heran, melihat mantan istrinya berdiri sambil menenteng tasnya.
"Pulang. Lagian aku nggak bisa berlama-lama," sahutnya datar.
Tuan Yusuf menghela napasnya. Ternyata wanita yang pernah mengisi hidupnya, masih sangat membencinya. Ia sadar jika mantan istrinya pasti sakit hati. Ia tidak menyalahkannya. Andai waktu bisa di putar, maka ia tidak akan mengkhianatinya. Sekarang yang tersisa hanya penyesalan.
"Maaf...." Ia cepat-cepat bersuara sebelum Nyonya Puspa meninggalkannya.
Tanpa menoleh, Nyonya Puspa menjawabnya. "Aku sudah memaafkan mu, Mas."
" Aku sudah suruh Ridwan menemani mu disini." Ridwan adalah asisten pribadi Tuan Yusuf. Setelah berkata demikian, Nyonya Puspa segera keluar dari sana.
Tuan Yusuf menatap nanar punggung mantan istrinya. Ada ruang kosong di dalam hatinya, hampa. Begitulah yang dirasakannya.
***
Sonya tengah bersiap-siap untuk kembali ke rumah sakit. Ketika sedang memasukkan ponselnya ke dalam tas, sebuket bunga terulur dihadapannya.
Sonya menoleh ke belakang dan melihat senyum manis di bibir Chandra. Senyuman yang membuatnya meleleh.
"Untuk istri tercinta," ucapnya dengan tatapan mesra.
Sonya tersenyum senang. Lalu, diambilnya bunga dari tangan Chandra. "Terima kasih." Yang langsung memeluk tubuh Chandra.
Pelukannya harus terlepas ketika Chandra meraih wajah Sonya. Kemudian Chandra mulai mendekati wajah Sonya dengan perasaan membuncah.
Dirayu nya bibir Sonya dengan kelembutannya, membuat Sonya terbuai dengan kelembutan bibir Chandra.
Keduanya saling mencecapi rasa cinta yang semakin bergelora. Sengatan yang Chandra beri, membuat Sonya tak ingin lepas dari buaian cinta Chandra. Justru ia ingin terus dan terus dibuai dengan kelembutan bibir Chandra.
__ADS_1
Sonya sedikit tak rela, saat Chandra menghentikan ciumannya. Ia masih sangat berharap kalau Chandra melanjutkan aktivitas menyenangkannya.
Chandra mengelap bibir Sonya yang basah, karena ciumannya. "Aku antar ke rumah sakit."
Sonya mengangguk.
Keduanya segera keluar dari kamar. Baru saja menginjakkan anak tangga yang terakhir, Nyonya Puspa datang.
"Ma... Mama sudah jenguk papa?" Tanya Sonya, yang langsung di jawab dengan anggukan.
"Tapi papa kondisinya sudah lebih baik kan?"
"Sepertinya sudah," jawabnya singkat.
Sonya manggut-manggut. "Syukurlah."
Setidaknya Sonya lega dengan kondisi papa nya.
"Aku pergi jenguk papa dulu. Sekalian aku titip Arzan," ujar Sonya, sekaligus berpamitan.
Baru saja tiga langkah, Nyonya Puspa menghentikan langkah kaki Sonya dan Chandra.
"Tunggu dulu."
Sonya membalikkan badannya. "Kenapa, Ma?"
"Tunggu sebentar." Kemudian Nyonya Puspa melangkah ke arah dapur dan mengambil sesuatu dari sana.
"Ini," seraya menyerahkan tote bag kepada Sonya. "Tolong kasihkan ini ke papa mu," sambungnya lagi.
Sonya mengangguk. Setelah itu Sonya dan Chandra bergegas pergi.
Nyonya Puspa terus saja menatap punggung anak dan mantunya, sampai menghilang dari pandangannya. Nyonya Puspa membuang napas panjang.
"Walau hatiku sakit, tapi aku tetap saja memperdulikan mu."
__ADS_1