Bukan Sekedar Suami Pengganti

Bukan Sekedar Suami Pengganti
Menginap di rumah Chandra


__ADS_3

Chandra dan tuan Yusuf kembali ke hotel dan selama perjalanan menuju hotel, Chandra terus memikirkan soal tuan Yusuf yang selama ini sudah mengkhianati istrinya dan Chandra bertanya-tanya sendiri, sudah berapa lama tuannya itu mengkhianati istrinya.


Chandra benar-benar tak menyangka, di balik sikap angkuhnya ternyata tuan Yusuf menyimpan rahasia besar yang tidak diketahui oleh anak dan istrinya.


Bagaimana kalau nyonya Puspa mengetahui kelakuan tuan dibelakangnya? Pasti nyonya sangat kecewa. Pikir Chandra.


Sedangkan tuan Yusuf yang duduk di kursi belakang, tengah tersenyum-senyum sambil menatap layar ponselnya, membuat Chandra menggelengkan kepalanya, saat melirik tuan Yusuf dari kaca spion.


Tiba di hotel, Chandra ingin segera mengistirahatkan tubuhnya dan berharap besok pagi-pagi sekali tuan Yusuf mengajaknya balik ke Jakarta. Agar dirinya bisa segera berziarah ke makam Riri.


Chandra sudah akan terlelap, tapi dering ponselnya menarik kembali ke alam sadar. Dengan malas Chandra mengangkat telponnya, yang ternyata dari Sonya.


"Halo...." Jawab Chandra dengan suara pelan.


"Chan, tadi aku ke rumah sakit mau jenguk adik kamu, tapi kok pas aku sampai sana adik kamu nggak ada? Apa adik kamu sudah pulang?"


"Adikku memang sudah pulang, tapi... Untuk selama-lamanya."


"Maksudnya kamu?"


"Adikku sudah meninggal," jawab Chandra dengan suara sendu.


"Terus sekarang kamu lagi dimana?"


"Masih di Bandung."


"Adik kamu meninggal, tapi kamu ada di Bandung!" Sungut Sonya.


"Mau gimana lagi. Tuan tidak mengizinkan aku pulang cepat."


"Tapi besok kamu balik ke Jakarta kan?"


"Mudah-mudahan."

__ADS_1


***


Pagi-pagi sekali Chandra sudah siap dengan pekerjaannya mengantar tuan Yusuf. Dibalik kemudi, Chandra mendesah samar karena tuan Yusuf menyuruhnya pergi ke rumah wanita yang semalam ditemui oleh tuan Yusuf. Padahal ia sudah sangat ingin balik ke Jakarta.


Tiba di sana, tuan Yusuf segera keluar dan wanita itu langsung memeluk tuan Yusuf dan mendaratkan ciuman mesranya untuk tuan Yusuf. Chandra yang berada di dalam mobil hanya bisa memperhatikannya saja, sembari menggelengkan kepalanya.


"Kasihan nyonya Puspa. Kesetiaannya harus terbalas dengan pengkhianatan," gumam Chandra, yang tak habis pikir dengan kelakuan tuan Yusuf.


Waktupun sudah semakin siang dan matahari pun tengah terik-teriknya merajai bumi, tapi tuan Yusuf sampai detik ini belum menampakkan diri keluar dari rumah simpanannya.


Chandra yang hanya sebagai sopir, cuman bisa mengelus dadanya menunggu tuannya keluar.


"Tuan, sampai kapan saya harus menunggu. Apa tuan lupa kalau kemarin adik saya meninggal." Chandra berkeluh kesah sendiri. Kalau bukan karena rasa bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, sudah dari kemarin Chandra pulang.


Setelah berjam-jam menunggu, akhirnya tuan Yusuf keluar juga dan ditemani oleh wanitanya. Terlihat senyum sumringah dari keduanya dan kali ini tuan Yusuf dengan wanita itu semakin mesra, bahkan tuan Yusuf tidak segan-segan mendaratkan ciuman ke wajah wanitanya.


"Mas pulang dulu," pamit tuan Yusuf.


"Iya, tapi dua minggu lagi mas janjikan akan datang lagi," ujarnya.


Chandra akhirnya bisa terbebas dari kebosanannya menunggu tuan Yusuf. Bayangkan saja, Chandra menunggunya dari pagi sampai sore.


Kini mobil yang dikendarai oleh Chandra melenggang keluar dari rumah simpanan tuan Yusuf dan melaju pulang ke Jakarta.


***


Matahari sudah terbenam, ketika mobil yang dikendarai oleh Chandra memasuki halaman rumah mewah tuan Yusuf. Chandra memilih untuk segera pulang ke rumah. Chandra sudah siap untuk keluar dari rumah majikannya dengan mengendarai motornya, tapi seseorang memanggilnya dan Chandra pun menghentikan laju motornya.


"Chandra, tunggu!" panggil Sonya.


"Ada apa, Non?" tanya Chandra.


"Aku mau ikut kamu." Kata Sonya yang kini naik ke boncengan motor.

__ADS_1


"Ikut? Non ikut saya dengan pakaian seperti itu?" Chandra menunjuk pakaian Sonya yang cukup terbuka. Sonya menggunakan pakaian mini dress setengah paha dengan bagian atasnya berbentuk kerah V yang memperlihatkan bagian dadanya sedikit terekspos.


"Memang kenapa dengan pakaianku?"


"Pakaian Non tidak pantas. Maksud saya pakaian Non ini terlalu terbuka jika Non mau ikut ke rumah saya. Non tahu sendiri, kalau di rumah saya sedang mengadakan tahlilan." Imbuh Chandra.


Sonya pun memperhatikan pakaiannya yang menurutnya biasa saja.


"Jadi aku harus ganti baju dengan pakaian tertutup?"


Chandra mengangguk kecil. "Baiklah. Tunggu aku...." Ucapannya sambil berlalu masuk ke dalam rumah.


Kini motor Chandra sudah melenggang keluar dari rumah tuan Yusuf dengan Sonya yang kini sudah berada di boncengan motor dengan pakaian yang lebih tertutup.


Hampir dua puluh menit berkendara membelah jalanan, kini motor Chandra sudah memasuki gang menuju rumahnya. Tiba di depan rumah Chandra, terlihat orang-orang keluar dari rumahnya.


"Tahlilannya sudah selesai ya?" Bisik Sonya.


"Iya," jawab Chandra.


Lalu keduanya segera masuk. Chandra langsung memeluk ibu tercintanya yang tengah duduk ditemani oleh tetangganya dan Bu Meli menumpahkan tangisannya di pelukan Chandra.


Sonya yang duduk di samping Bu Meli ikut merasakan kesedihan ibu dan anak itu. Kepergian Riri pasti menyisakan rasa sedih yang begitu mendalam dan pastinya sangat kehilangannya.


Sonya mengelus punggung Bu Meli dengan lembut, bahkan tanpa disadarinya air matanya menetes.


"Maafin Chandra yang baru bisa pulang," ucap Chandra lirih.


"Iya, nggak apa-apa, nak," jawab Bu Meli sambil mengelus lengan Chandra.


"Besok kita pergi ke makam Riri ya, Bu." Bu Meli mengangguk sebagai jawabannya.


"Aku ikut ya," timpal Sonya.

__ADS_1


"Boleh," sahut Bu Meli, dan malam itu Sonya memutuskan untuk menginap di rumah Chandra. Walau rumah Chandra sederhana dengan kamar yang kecil, tapi Sonya tetap berusaha tidak mengeluh.


__ADS_2