
Hampir seminggu lebih, Tuan Yusuf di rawat dan hari ini sudah di perbolehkan pulang. Setelah tadi di cek keseluruhannya. Walau dinyatakan sembuh, dokter tetap menyarankan menjaga pola hidup yang sehat. Agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
Tuan Yusuf di jemput oleh Chandra dan langsung mengantarnya ke apartemen milik Tuan Yusuf.
"Papa istirahat dulu. Kalau papa mau sesuatu panggil saya. Saya ada di depan," ucap Chandra.
Tuan Yusuf mengangguk. "Iya...."
Chandra keluar, ketika melihat Tuan Yusuf sudah beristirahat dan menutup pintunya.
Tidak lama Sonya datang bersama baby Arzan. Senyum terkembang di bibir Chandra dan segera meraih bahu Sonya.
"Papa mana?" Tanya Sonya, karena ia tidak melihat papa nya.
"Lagi istirahat. Sini papa gendong." Chandra mengambil baby Arzan dari gendongan Sonya dan membawanya duduk di depan televisi.
Sedangkan Sonya melangkah ke arah dapur, guna mempersiapkan makan siang untuk suami dan papa nya.
Selesai mempersiapkan makan siang, Sonya ikut bergabung dengan anak dan suaminya. Mereka bercengkrama bersama, apalagi baby Arzan sudah pintar merespon setiap di ajak main.
Definisi keluarga harmonis. Dan Sonya sangatlah bahagia, bila sedang berkumpul seperti ini. Sangat menentramkan hatinya.
Mendengar suara orang tertawa, Tuan Yusuf pun beranjak dari tidurnya dan melangkah keluar. Tuan Yusuf tersenyum melihat kebersamaan anaknya bersama keluarga kecilnya. Hatinya menghangat melihatnya, apalagi cara Chandra yang memperlakukan Sonya lembut.
Ingatannya kembali ke masa lalu. Di saat Sonya akan menikah, tapi ternyata di tinggal kabur oleh Regi. Ia yang bingung dan tak tahu harus bagaimana, akhirnya meminta Chandra untuk menjadi pengantin pengganti.
Memilih Chandra sebagai pengantin pengganti, ternyata tidaklah salah. Justru kini ia sangatlah bersyukur karena Chandra menjaga dan menyayangi Sonya dan baby Arzan.
"Papa...." Panggil Sonya.
Tuan Yusuf tersenyum lebar, lalu menghampiri Sonya dan Chandra.
__ADS_1
"Aduduh... Cucu Opa makin bulet," seloroh Tuan Yusuf, yang kini mendudukkan dirinya di samping baby Arzan yang tengah tiduran di atas karpet tebal.
Ia mengelus pipi tembem baby Arzan.
"Karena papa sudah bangun, kita makan siang yuk," ajak Sonya.
Kini Chandra dan Tuan Yusuf sudah duduk di meja makan, tanpa ada Sonya, karena Sonya tengah mengASIhi baby Arzan.
***
Beberapa Minggu pun sudah berlalu. Sonya tengah menerima telpon dari Chandra.
"Nanti mau dibawakan apa?" Tanya Chandra di ujung telpon.
"Aku mau dibawakan cinta kamu saja," balas Sonya dengan senyum terkembang.
"Jadi kamu mau cinta dariku?"
"Iya ...."
"Aku akan menunggu mu pulang."
Malamnya, Sonya menunggu Chandra pulang. Ia sudah berdandan cantik menyambut suami tercinta pulang. Dengan senyum terkembang merekah Sonya duduk di tepi ranjang, tapi sampai pukul tujuh, belum ada tanda-tanda Chandra pulang. Membuat Sonya menjadi gelisah.
"Mas Chandra kemana sih! Jam segini kok belum pulang-pulang," gerutu Sonya, lalu Sonya menelpon Chandra, tapi sayang ponselnya tidak aktif.
"Di telpon hapenya nggak aktif. Kamu kemana sih, Mas. Janjinya pulang sore, tapi jam segini belum pulang juga."
Sonya kembali menelpon Chandra, berharap kali ini nomornya aktif, tapi lagi-lagi tidak aktif. Sonya semakin gelisah dan resah.
Saat sedang melihat ke arah luar jendela, sebuah telpon masuk ke ponselnya. Sonya mengernyitkan dahinya melihat nomor asing menelponnya.
__ADS_1
"Ini nomor siapa? Angkat nggak ya, siapa tahu penting."
Sonya akan menggeser tombol hijau, tapi sebuah suara mengitrupsinya.
"Sonya...!" Nyonya Puspa memanggilnya dengan air muka panik.
"Iya, kenapa, Ma?"
"Chandra...."
"Kenapa dengan Mas Chandra?"
"Barusan Mama di telpon sama Ezar. Katanya Chandra...." Nyonya Puspa menggantungkan kalimatnya. Ia bingung harus ngomong darimana dulu.
"Mas Chandra kenapa? Apa yang Bang Ezar katakan?"
"Chandra... Ter-tembak," ucapnya pelan.
"Apa?" Sonya terkejut mendengarnya. "Mama jangan bercanda." Sonya jelas tidak percaya begitu saja. Chandranya tidak mungkin tertembak. Ezar pasti berbohong.
"Ezar bilang, saat Chandra akan pulang, Chandra ditembak oleh seseorang," sambung Nyonya Puspa.
"Terus... Gi-gimana keadaan Mas Chandra?" Tanya Sonya dengan suara tercekat. Kedua bola matanya sudah berkaca-kaca. Sonya sangat mengkhawatirkan keadaan Chandra.
Nyonya Puspa mendekatinya dengan tatapan sedih. "Kamu harus sabar dan ikhlaskan Chandra... Kamu harus kuat menerima ini," ucap Nyonya Puspa sedih.
"Maksud Mama...." Sonya tidak mengerti dengan ucapan Mama nya.
Nyonya Puspa membuang napasnya dan menatap sedih wajah Sonya. "Kata Ezar, Chandra... Men--."
Sonya menggelengkan kepalanya. "Nggak... Mama pasti salah dengar. Mas Chandra nggak mungkin meninggal...." Air matanya kini luruh. Ia yakin kalau Chandra tidak meninggal. Ini pasti salah.
__ADS_1
"Sayang... Kamu yang sabar...." Nyonya Puspa mendekap tubuh Sonya yang bergetar hebat.
"Nggak, Ma... Mas Chandra nggak mungkin ninggalin aku."