
Selesai bercumbu mesra di atas ranjang. Heni kini tengah menyandarkan tubuhnya di dada Tuan Yusuf. Keduanya masih bertelanjang dan hanya selembar selimut yang menutupi kedua tubuh mereka.
"Mas, kapan hubungan kita di resmikan? Aku nggak mau terus menerus seperti ini dan aku capek bila terus berjauhan dengan kamu, mas," keluh Heni, yang merasa bosan dengan hubungan tanpa status.
"Bagaimana kalau kita nikah secara agama dulu," tawar Tuan Yusuf sambil membelai punggung polos Heni dan Heni mengangguk setuju.
"Tapi setelah kita menikah, aku mau tinggal di Jakarta saja. Aku nggak mau tinggal di Bandung. Aku ingin setiap hari bertemu dengan kamu, mas."
"Iya... Setelah kita nikah, kita langsung cari rumah dekat kantorku."
"Seriusan?" Heni berbinar senang, sambil menatapnya.
Tuan Yusuf mengangguk. " Serius lah, masa bohong."
Heni langsung mengeratkan pelukannya ke tubuh Tuan Yusuf dan memberi kecupan di pipi Tuan Yusuf.
"Aku senang mendengarnya. Terima kasih, mas," ucap Sonya penuh bahagia.
Senang karena sebentar lagi akan menikah dengan Tuan Yusuf, Heni kemudian naik ke atas tubuh Tuan Yusuf dan kembali memuaskan lelaki yang dicintainya itu penuh suka cita.
***
Di tempat yang berbeda. Sonya saat ini tengah termenung di dapur. Ia masih terbayang-bayang soal mimpi buruknya. Bagaimana pun Sonya tetap merasakan ketakutan di dalam hatinya.
Chandra datang dengan wajah panik dan menggelengkan kepalanya ketika ia melihat Sonya tengah melamun. Buru-buru Chandra mematikan kompornya dan mengangkat telur yang gosong.
"Sonya...." Panggil Chandra.
Sonya tersentak mendengar suara Chandra dan Sonya terbelalak melihat wajan pengepulkan asap hitam. Ia lupa kalau tengah memasak telur ceplok.
"Kenapa telurnya sampai gosong gini," kata Sonya sambil mengerucutkan bibirnya. Ia kesal kepada dirinya sendiri.
"Memangnya kamu lagi mikirin apa sih? Sampai lupa kalau lagi masak telur," ucap Chandra.
"Mm... Mikirin soal mimpi," jawab Sonya lesu dan menundukkan kepalanya.
Chandra menghela nafasnya, kemudian Chandra menarik tangan Sonya.
"Aku kan sudah bilang, jangan dipikirin. Lebih baik kamu mikirin kandungan mu saja."
"Iya. Aku sudah berusaha untuk tidak memikirkannya, tapi...."
Chandra langsung menarik tubuh Sonya ke dalam pelukannya dan mengusap punggung Sonya lembut.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan, tapi alangkah baiknya kamu jangan terlalu memikirkannya. Nanti yang ada akan mengganggu kesehatan kamu dan kandungan kamu."
Sonya mengangguk kecil. Benar apa kata Chandra, tidak seharusnya ia memikirkan soal mimpinya yang belum tentu terjadi.
***
Malam harinya, setelah Sonya tidur Chandra segera menemui ibunya di kamarnya. Chandra ingin menceritakan semua yang sebenarnya tentang pernikahannya dengan Sonya dan mengapa dirinya dan Sonya harus tinggal di desa ini.
Sejujurnya Chandra tidak ingin terus menerus menutupi semuanya dari ibunya, maka dari itu Chandra harus memberitahukan semuanya, agar ibunya tidak terkejut di kemudian hari.
"Bu...." Panggil Chandra, yang kini berdiri di bawah gawang pintu kamar ibunya.
__ADS_1
Bu Meli yang sudah bersiap akan tidur kini bangun dan duduk di tepi ranjang.
"Chandra mau bicara sama ibu."
"Bicara soal apa?" Timpal ibu Meli.
"Soal pernikahan Chandra dan Sonya," jawab Chandra yang kini sudah duduk di samping ibunya.
"Maaf, jika selama ini Chandra membohongi ibu."
"Membohongi soal apa?" Jawab Bu Meli bingung dan menatap serius wajah Chandra.
"Sebenarnya, Chandra hanya suami pengganti. Yang seharusnya menikah dengan Sonya itu adalah Regi, mantan pacarnya Sonya. Tapi... Di hari pernikahan Sonya, Regi kabur dan tidak menikahi Sonya."
Ibu Meli terkejut mendengarnya. " Terus."
"Pada akhirnya Tuan Yusuf meminta Chandra untuk menggantikan Regi menikahi Sonya. Setelah menikahi Sonya, Tuan Yusuf membuat perjanjian pra nikah dan pernikahan kami hanya sampai enam bulan saja." Jujur Chandra.
"Terus anak yang dikandung Sonya itu...."
"Anaknya Regi," jawab Chandra cepat.
Bu Meli semakin terkejut saja mendengarnya dan tak menyangka kalau pernikahan Chandra dan Sonya hanya sebatas pernikahan diatas kertas. Apalagi putranya itu hanya sebatas pengganti.
Bu Meli pikir, Chandra menikahi Sonya karena Chandra sudah menghamili Sonya, seperti yang Sonya katakan dulu. Tapi ternyata ia telah dibohongi oleh anak dan menantunya.
"Maafin Chandra yang tak jujur sama ibu. Seharusnya Chandra mengatakannya dari dulu. Sekali lagi Chandra minta maaf."
Bu Meli menghela nafas panjang. Pernyataan Chandra membuatnya terkejut bukan main.
"Sebenarnya bukan itu alasan kami tinggal disini." Chandra menjeda kalimatnya untuk menarik nafasnya dalam-dalam. "Kami tinggal disini karena... Sonya sudah mencelakai mobilnya Regi, hingga mobilnya Regi jatuh ke jurang."
Bu Meli membekap mulutnya sendiri. Sungguh ia tak menyangka dengan apa yang Sonya lakukan.
Chandra kemudian melanjutkan lagi ceritanya, bahkan tidak ada yang terlewatkan satu pun dan ibu Meli yang mendengar ceritanya merasa sedikit kecewa karena Sonya tidak bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya dan akhirnya hidupnya Sonya terus dibayangi ketakutan, tapi disisi lain ibu Meli juga merasa kasihan dengan hidup Sonya yang seperti putri yang terbuang oleh papanya sendiri.
"Jadi seperti itu ceritanya, Bu," ucap Chandra yang baru selesai menceritakan semuanya. Chandra menatap raut wajah ibunya dan ingin melihat respon dari ibunya.
"Ibu nggak bisa ngomong apa-apa, tapi jujur ibu kecewa sama kamu. Kenapa kamu nggak cerita sejak awal, tapi... Ya sudah, sekarang yang bisa kita lakukan beri dukungan buat Sonya. Apalagi Sonya tengah hamil."
Bu Meli berusaha tetap berlapang dada dan tidak mau memperpanjangnya.
"Ibu nggak marah?"
"Ibu nggak marah, cuma kecewa dan juga sedih. Lain kali kalau ada apa-apa kamu harus cerita."
"Iya, Bu. Terima kasih, karena ibu nggak marah sama Chandra dan juga Sonya."
Tiba-tiba tatapan ibu Meli menatap Chandra penuh curiga.
"Apa kamu dan Sonya sudah melakukan hubungan suami istri?"
"Nggak, Bu. Chandra belum pernah melakukannya," jawab Chandra cepat.
"Beneran?" Tanya ibu Meli yang belum yakin.
__ADS_1
"Beneran, Bu. Chandra nggak bohong." Chandra meyakinkan ibu Meli dengan mengangkat dua jarinya berbentuk huruf V.
"Bagus. Walaupun Sonya itu sah istrimu, tapi Sonya haram untuk kamu sentuh."
Chandra mengangguk mengerti. Setelah mengatakan semuanya, hati Chandra sekarang terasa plong dan tidak lagi mengganjal di hatinya.
"Kalau gitu Chandra balik lagi ke kamar."
"Iya...."
Chandra langsung beranjak dari kamar ibunya dan masuk kembali ke kamarnya.
Chandra segera merebahkan tubuhnya di samping Sonya dan bersiap untuk tidur.
"Mas...."
"Iya, kenapa?"
"Anterin aku ke kamar mandi. Aku mau pipis," ucap Sonya.
"Iya, ayo," jawab Chandra.
Lalu keduanya beriringan menuju kamar mandi. Sonya segera masuk ke kamar mandi, sedangkan Chandra menunggunya di depan pintu kamar mandi.
Sonya yang baru selesai buang air kecil dan membersihkan area sensitifnya, tiba-tiba seekor tikus muncul dari saluran pembuangan air.
"Aargh...!!" Teriak sonya.
Chandra yang menunggunya diluar kamar mandi, langsung masuk ke dalam, karena panik mendengar teriakkan Sonya.
"Kenap-pa...." Chandra tertegun melihat Sonya yang berdiri diatas WC dengan celananya belum dinaikkan lagi. Sehingga Chandra melihat area sensitifnya Sonya.
"Mas! Itu ada tikus!" Tunjuk Sonya.
"Ah! A-aapa?" Gagap Chandra.
"Itu tikus!" Sonya kembali menunjuk tikus.
Chandra langsung mengusir tikus, membuat si tikus lari ke sana kemari. Membuat Sonya semakin menjerit takut dan geli. Apalagi sekarang tikusnya mendekati WC.
"Mas!!"
Chandra secepatnya mendekati Sonya dan mengusir tikusnya. Sonya langsung meloncat ke tubuh Chandra, membuat tubuhnya mendadak kaku. Sebab Sonya naik ke bagian depan tubuhnya.
"Tikusnya masih ada nggak?" Tanya Sonya yang menyembunyikan wajahnya di bahu Chandra.
"Su-sudah pergi...," jawab Chandra dan melihat tikusnya kembali masuk lewat saluran pembuangan air.
Sonya langsung turun dari tubuh Chandra dan melirik ke sekitarnya, memastikan tikusnya benar-benar sudah tidak ada.
"Huft... Akhirnya tikusnya benar-benar pergi," gumam Sonya yang masih melingkarkan tangannya di leher Chandra.
"So-Sonya... Pakai du-dulu celananya...."
Mendengar kata celana, Sonya langsung tersadar kalau ia belum menaikkan lagi celananya ke atas. Cepat-cepat Sonya menaikkan celananya, sambil menahan rasa malu.
__ADS_1
Tanpa berkata, Sonya langsung keluar dari kamar mandi dan Chandra merundukkan tubuhnya lemas.