
Chandra berhasil melumpuhkan Gono, lalu Chandra segera menyusul Sonya yang tengah dikejar oleh Regi. Saat akan menyusul, Chandra melihat Regi dan anak buahnya tengah berlari ke arahnya karena di kejar oleh warga. Chandra kini menghadang keduanya dan Chandra tidak akan membiarkan Regi lolos darinya.
"Kamu lawan dia!" Suruh Regi kepada Ucok.
"Tapi, bos...." Ucok bisa saja melawan Chandra, tapi masalahnya sekarang ini dirinya maupun Regi tengah dikejar oleh warga.
"Cepat!" Bentak Regi, ketika ia dan Ucok sudah dekat dengan Chandra. Regi kemudian mendorong tubuh Ucok ke hadapan Chandra, sedangkan dirinya terus berlari menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah.
Chandra memilih melepaskan Ucok daripada harus membiarkan Regi kabur.
"Mau lari kemana kamu." Chandra segera mengejarnya dan menangkap Regi.
"Lepasin gue!" Regi menyingkirkan tangan Chandra dari bajunya. Akan tetapi Chandra tidak akan semudah itu melepaskannya.
Regi panik ketika melihat bapak-bapak itu semakin dekat. Regi kemudian melayangkan pukulan ke arah Chandra dan Chandra berhasil menepis pukulan Regi. Lalu Chandra menonjok perut Regi dan juga melayangkan bogem mentah ke wajah Regi berkali-kali.
"Sudah hentikan! Biar kami yang urus," ucap salah satu bapak-bapak yang berambut keriting. Regi dan anak buahnya langsung ditangkap oleh warga.
Melihat Regi sudah di tangkap, Chandra segera berlari menghampiri Sonya.
"Sonya!" Chandra terkejut melihat darah di rok yang dipakai Sonya.
"Mas...." Sonya memanggilnya lirih, dengan tatapan sendu.
"Pak, tolongin istri saya." Chandra sangat panik melihat Sonya yang mengeluarkan darah.
"Iya, mas. Mas tenang dulu, kita bawa istrinya mas ke rumah sakit."
Sonya segera dibawa ke rumah sakit dan berharap Sonya tidak kenapa-kenapa. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Chandra terus menggenggam tangan Sonya dengan raut wajah yang sangat mencemaskan keadaan Sonya.
Tiba di rumah sakit, Sonya segera ditangani oleh dokter. Chandra yang menunggunya diluar ruangan, terus saja mencemaskan Sonya.
"Mas, saya permisi pulang dulu," pamit si bapak yang menolongnya.
__ADS_1
"Iya, Pak. Terima kasih banyak, sudah menolong istri saya."
"Iya, mas. sama-sama."
Setelah beberapa menit si bapak itu pergi, dokter datang menemui Chandra.
"Apa anda suami dari pasien?" Tanya dokter.
"Iya, dok. Bagaimana keadaan istri saya?"
"Keadaannya tidak baik-baik saja, sebab istri anda mengalami pendarahan yang cukup hebat dan terpaksa istri anda harus melahirkan sekarang juga," kata dokter. Chandra tertegun mendengarnya.
"Iya, dok. Lakukan yang terbaik, tapi tolong... Selamatkan anak dan istri saya," pinta Chandra penuh permohonan.
Dokter pun mengangguk dan segera membawa Sonya ke ruang operasi dan Chandra langsung menelpon Tuan Yusuf untuk mengabarinya.
Chandra kini tengah menunggu Sonya di depan ruang operasi, ia sangat gelisah dan tidak bisa tenang menunggu Sonya. Chandra juga terus berdoa agar proses persalinan Sonya berjalan lancar.
"Gimana keadaan Sonya?" tanya Nyonya Puspa.
"Non Sonya tengah menjalani operasi Caesar, karena tadi... Mengalami pendarahan."
Nyonya Puspa langsung membekap mulutnya dan tanpa terasa air matanya menetes.
"Saya minta maaf, karena tidak bisa menjaganya dengan baik," sesal Chandra.
Tuan Yusuf menggeram menatap Chandra, lalu Tuan Yusuf menarik tangan Chandra. "Ikut denganku."
Kini Chandra dan Tuan Yusuf sudah berada jauh dari Nyonya Puspa dan ibu Meli. Tanpa bertanya penyebab Sonya harus melahirkan lebih awal, Tuan Yusuf tiba-tiba memukul wajah Chandra dan Chandra tidak berani melawannya.
"Kamu tahu! Saya menyuruh kamu untuk selalu menjaga Sonya, tapi apa sekarang! Sonya harus menjalani operasi Caesar di usia kandungannya masih tujuh bulan dan itu karena kamu tidak becus menjaga Sonya!"
"Saya minta maaf, Tuan." Chandra menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap wajah Tuan Yusuf.
__ADS_1
"Sudahlah! Mulai sekarang saya akan bawa Sonya pergi dari sini," ucapnya penuh dengan penekanan. Setelah berbicara seperti itu, Tuan Yusuf meninggalkan Chandra.
Chandra mengusap wajahnya. Ia tahu kalau dirinya lalai menjaga Sonya, tapi mengingat perkataan Tuan Yusuf yang akan membawa Sonya pergi, membuat dadanya terasa sesak.
Kurang lebih satu jam, akhirnya operasinya selesai juga. Dokter keluar dengan wajah lega, karena operasinya berjalan lancar.
"Dok, bagaimana keadaan anak dan cucu saya?" Nyonya Puspa bertanya dengan nada cemas.
"Ibunya baik-baik saja dan bayinya juga sehat," jawab dokter.
"Alhamdulillah...." Ucap Nyonya Puspa dan ibu Meli bersamaan. Begitu juga dengan Chandra yang merasa lega karena Sonya dan bayinya baik-baik saja.
"Kalau gitu saya permisi dulu," pamit dokter dari hadapan semuanya.
Nyonya Puspa tersenyum lebar dan juga lega, kemudian Nyonya Puspa memeluk suaminya. "Mama senang, akhirnya cucu kita lahir dengan selamat."
Tuan Yusuf hanya menganggukkan kepalanya. Ia sekarang bisa bernafas lega.
Saat semuanya tengah tersenyum penuh bahagia, dua orang polisi dan satu bapak-bapak paruh baya menghampiri mereka semua.
"Maaf, mengganggu. Apa benar ini keluarganya Sonya?" ucap Pak polisi bertanya.
"Iya, betul," jawab Tuan Yusuf. Semuanya bingung dengan kedatangan dua polisi.
"Kedatangan kami ke sini mau mengatakan kalau Regi sudah kami tahan dan kami meminta kesaksian dari putri bapak, atas kasus penculikan."
"Putri saya di culik?" Nyonya Puspa terkejut mendengarnya, begitu juga dengan Tuan Yusuf.
"Iya, Bu."
Kurang ajar! Jadi Regi berhasil menangkap Sonya. Apa gara-gara Regi, Sonya harus melahirkan lebih cepat dari usia kandungannya?
Tuan Yusuf mengepalkan kedua tangannya. Ia sangat marah terhadap Regi yang sudah mencelakai Sonya.
__ADS_1