Bukan Sekedar Suami Pengganti

Bukan Sekedar Suami Pengganti
Mencium Chandra


__ADS_3

Sonya terbangun dari tidurnya dan ketika ia membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Chandra yang masih tidur dengan damai. Sonya tidak tahu saja, hampir semalaman Chandra tidak bisa tidur dengan tenang dan itu semua gara-gara daster yang dipakainya tersingkap melebihi pahanya.


Sonya tersenyum memandangi wajah Chandra, yang memiliki pahatan wajah yang tegas. Entah dorongan darimana Sonya memajukan wajahnya untuk mencium pipi Chandra.


Cup.


Satu kecupan mendarat manis di pipi Chandra, kemudian Sonya memandangi wajah Chandra lagi. Semakin lama Sonya memandang semakin membuat jantungnya berdebar.


Ketampanan kamu berlipat ganda jika kamu sedang tidur.


Melihat tanda-tanda Chandra akan bangun, buru-buru Sonya memejamkan matanya dan berpura-pura tidur.


Chandra mendesah, karena tubuhnya masih dipeluk oleh Sonya. Tidak mau kejadian seperti semalam terulang lagi, dimana kaki Sonya menyenggol tongkatnya yang sudah membuatnya menegang. Chandra segera menyingkirkan tangan dan kaki Sonya dari atas tubuhnya.


Setelah terbebas dari Sonya, Chandra melirik jam di atas nakas. "Setengah enam," gumam Chandra, lalu Chandra melangkah ke kamar mandi dan segera membersihkan diri.


Selesai mandi Chandra keluar dan Sonya beranjak dari tempat tidur, lalu melangkah keluar dan kembali ke kamarnya.


***


Selesai sarapan, Sonya mencari keberadaan Chandra di samping rumah. Sonya duduk dan melihat Chandra yang tengah menyirami tanaman.


Saat sedang asik memperhatikan Chandra, tiba-tiba seorang perempuan berparas ayu datang dan menyapa Chandra.


"Kang Chandra! Lagi ngapain?" Sapa Siti dengan senyum manisnya.


Siti adalah kembang desa dan terkenal akan kecantikannya yang paripurna. Ia anak dari Pak lurah.


"Eh, Siti! Lagi nyiram tanaman," jawab Chandra sambil tersenyum simpul.


Sonya yang melihatnya langsung kegerahan dan menatap sengit wajah Siti, si kembang desa yang terlihat kecentilan dimatanya.


Siti kemudian mendekati Chandra dan memberikan sesuatu untuk Chandra.


"Ini untuk akang. Saya sengaja buat ini untuk akang. Mudah-mudahan akang suka," ucap Siti, lalu mengelus lengan berotot Chandra.


"Aduh! jadi ngerepotin nih, tapi terima kasih ya, neng Siti," ucap Chandra.


"Iya... Jangan lupa di makan."


"Pasti."


"Kalau gitu, neng lanjut jalan lagi."


"Iya, hati-hati," ujar Chandra.

__ADS_1


Siti pun langsung pergi dari hadapan Chandra. Sonya segera menghampiri Chandra dan merebut paper bag pemberian dari Siti. Dengan wajah menahan kesal, Sonya membawa paper bag tersebut ke dalam rumah.


"Non! Kenapa diambil," kata Chandra dan mengikuti Sonya masuk ke dalam rumah.


Sonya melemparkan paper bag tersebut ke meja makan. Tidak peduli dengan tatapan protes Chandra, yang jelas dirinya kesal.


"Non, kenapa nyimpennya harus di lempar?" Ucap Chandra dan mengambil paper bag tersebut. Kemudian Chandra membuka isi paper bag tersebut, yang ternyata isinya sekotak kue brownies.


Sonya mendengus dan duduk dengan penuh rasa kesal.


"Non, mau," tawar Chandra.


"Nggak!" Jawab Sonya ketus. Chandra yang tidak peka dengan kemarahan Sonya langsung melahap brownies tersebut.


"Hmm... Brownies nya enak, Non. Yakin Non nggak mau?" Sekali lagi Chandra menawarkannya.


"Nggak! Dari bentuknya saja kayaknya nggak enak!"


"Non kan belum nyobain. Ini enak tahu," ucap Chandra sambil mengunyah brownies nya.


Kesal karena Chandra terus memuji brownies pemberian Siti. Sonya langsung mengambil brownies dari tangan Chandra yang akan memakannya lagi. Kemudian Sonya mendekatkan bibirnya ke bibir Chandra, berharap brownies yang dimakan Chandra bisa ia isap.


Chandra terpaku dan tak menyangka kalau Sonya akan menciumnya. Chandra menelan Salivanya dan tak tahu harus berbuat apa. Sedangkan Sonya terus mengulum bibir Chandra. Niatnya hanya untuk menghilangkan brownies dari mulut Chandra, justru Sonya terbuai dengan bibir tebal Chandra.


Sebuah piring jatuh dari tangan Bu Lela, yang melihat dua anak manusia tengah berciuman di ruang makan. Sonya segera menghentikan ciumannya dan memalingkan wajahnya, sambil menahan rasa malu karena ketahuan sama Bu Lela.


"Ma-maaf, neng," kata Bu Lela kikuk.


"Iya...." Lalu Sonya melangkah cepat ke kamarnya, sekaligus menghindari tatapan dari Chandra.


Chandra masih terpaku dan menyentuh bibirnya. Bibir yang baru saja di cium oleh Sonya. Berkali-kali Chandra menelan Salivanya dan Chandra langsung mendudukkan dirinya di kursi saking terkejutnya dirinya mendapatkan ciuman dari Sonya.


***


Sonya menutup pintunya dengan keras, lalu dirinya memegangi dadanya yang bergemuruh merasakan kembang api yang meletup-letup. Pikirannya kembali ketika dirinya tengah mencium bibir tebal Chandra dan rasanya Sonya tidak mau menghentikan ciumannya dan sekarang jantungnya semakin berdegup kencang.


"Kenapa dengan diriku? Kenapa jantungku berdetak kencang? Argh... Aku pasti sudah gila! Mana mungkin aku menyukai Chandra."


Kemudian Sonya menyentuh bibirnya dan bayangan bibir Chandra terus menari-nari di pikirannya.


***


Sejak dirinya mencium bibir Chandra, Sonya tidak berani keluar dari kamarnya. Sonya takut kalau Chandra akan marah padanya yang sudah berani mencium bibirnya.


"Uuhh... Aku lapar...." Rengek Sonya.

__ADS_1


Mau keluar, tapi takut sekaligus malu bertemu dengan Chandra. Kalau tetap berada di dalam kamar, dirinya saat ini tengah kelaparan. Membuat Sonya dilema.


"Ini semua gara-gara perempuan tadi. Coba kalau perempuan tadi tidak memberikan Chandra brownies, pasti aku nggak mungkin mencium Chandra." Sonya menggerutu kesal.


"Apa aku tunggu malam saja, tapi aku lapar banget...." Sambil memegangi perutnya yang terus berdendang ria.


Pada akhirnya Sonya memilih keluar dari kamar dan berusaha menebalkan mukanya jika nanti bertemu dengan Chandra.


"Untung saja Chandra nggak ada," lega Sonya yang kini sudah di meja makan.


Sonya segera makan. Sonya begitu menikmati makan siangnya yang lewat.


"Non...."


"Uhuk... Uhuk... Uhuk...." Sonya terbatuk-batuk mendengar panggilan dari Chandra.


Chandra segera menyodorkan air minum ke Sonya.


"Pelan-pelan Non makannya," ucap Chandra, sambil mengelus punggung Sonya.


Selesai minum, Sonya memalingkan wajahnya, ia tidak berani menatap wajah Chandra. Bayangannya kembali kejadian tadi dan Sonya harap-harap cemas kalau Chandra akan memarahinya.


"Non... Tadi tuan menelpon saya dan Tuan mengatakan kalau... Regi masih hidup."


Sonya langsung menatap Chandra dengan tatapan terkejut. "Regi masih hidup?" Sonya mengulangi perkataan Chandra.


"Iya dan kata Tuan, Non harus waspada karena saat ini Regi tengah mencari keberadaan Non."


"Apa?"


Sonya menelan Salivanya dan pastinya Sonya semakin dibuat takut kalau Regi menemukannya.


"Terus aku harus gimana?" Sonya bingung dan cemas.


"Non harus tetap berada di rumah dan tidak boleh keluar. Non nggak usah takut, saya akan selalu menjaga Non."


Sonya pun mengangguk dan berharap Regi tidak menemukannya.


Gara-gara kebodohannya menabrak mobil Regi, kini dirinya harus terus bersembunyi seperti seorang buronan.


"Chan, bagaimana kalau Regi berhasil menemukan aku?"


"Itu tidak akan terjadi, selama Non terus berada di dalam rumah dan saya akan selalu ada di samping, Non."


Sonya harus percaya dengan Chandra. Sonya yakin kalau Chandra tidak akan membiarkan dirinya ketakutan, apalagi sampai ditangkap oleh Regi.

__ADS_1


__ADS_2