
Chandra kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan memotret wanita simpanan Tuan Yusuf, yang bernama Heni. Chandra tersenyum menyeringai melihat betapa mesranya Heni dengan lelaki tersebut.
Ternyata Tuan Yusuf juga di khianati oleh wanita itu. Seraya menggelengkan kepalanya, mengingat Tuan Yusuf.
Akan semarah apa Tuan Yusuf jika mengetahui kalau wanita simpanannya mengkhianati cintanya.
"Maass!" Teriak Sonya dari samping kirinya.
Chandra menoleh dan mendapati Sonya tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
"Iya... Kenapa?" Sahut Chandra yang bingung dengan ekspresi wajah Sonya.
Dengan perasaan kesal, Sonya mendekati Chandra dan memukul lengan ototnya. Membuat Chandra semakin heran dibuatnya.
"Kamu kenapa marah-marah?" Tanya Chandra sambil menautkan kedua alisnya.
"Kenapa kamu bilang! Sekarang aku tanya sama kamu. Ngapain kamu foto wanita itu!" Kesal Sonya seraya menunjuk ke arah Heni dengan dagunya.
"Memfotonya...." Jawab Chandra jujur.
"Buat apa kamu foto wanita itu! Apa aku kurang cantik di mata kamu! Sampai-sampai kamu memotret wanita itu!" Sonya berbicara dengan nada meluap-luap penuh cemburu.
"Aku mau menyimpan foto wanita itu. Memang salah ya?" Balas Chandra yang tidak peka dengan kecemburuan Sonya.
Sonya melebarkan bola matanya dan semakin geram mendengar perkataan Chandra. Apa lelaki dihadapannya ini tidak tahu kalau ia tengah cemburu! Dan apa Chandra bilang. Ingin menyimpan foto wanita itu? Sudah jelas big no. Sonya tidak mau kalau Chandra menyimpan foto wanita lain selain dirinya.
Sonya memukul kembali lengan ototnya Chandra dengan penuh emosi. "Aku kesel sama kamu!" Sonya langsung meninggalkan Chandra begitu saja.
"Kenapa dengan Sonya? Aku kan nggak salah kalau menyimpan foto simpanan Tuan Yusuf?" Seraya menatap lekat punggung Sonya.
***
Selesai makan di restoran tersebut. Chandra mengantarkan Sonya dan Nyonya Puspa pulang. Sepanjang perjalanan menuju pulang, Sonya terus saja diam dan menekukkan wajahnya.
Akan tetapi, Chandra tetap biasa saja. Seolah marahnya Sonya bukan masalah penting baginya.
__ADS_1
Berkali-kali Sonya membuang nafasnya. Rasa sesak menahan rasa cemburu membuat dadanya seakan sulit untuk bernafas.
Lihatlah dia! Bahkan dia terlihat biasa saja. Kesel aku lihatnya. Batin Sonya sambil melirik sebal wajah Chandra. Dasar lelaki nggak peka!
Sonya terus menggerutu di dalam hati.
Tidak lama, mobil pun berhenti di depan pintu pagar rumah Sonya. Chandra sengaja tidak masuk ke dalam, sebab mobil Tuan Yusuf terparkir di depan rumah.
"Bu, saya masuk dulu ya...," pamit Nyonya Puspa kepada ibu Meli.
"Iya, Nyonya," jawab ibu Meli. Sebelum turun Nyonya Puspa mencium cucu tersayangnya. "Yang anteng ya, Nak," bisik Nyonya Puspa seraya mengelus lembut pipi baby Arzan.
Sedangkan Sonya langsung turun dari mobil tanpa berkata sepatah pun terhadap Chandra. Sonya kemudian menghampiri ibu Meli yang duduk di belakang.
"Sayang, mama masuk dulu ya. Nanti kita ketemu lagi dan jangan rewel ya, Sayang," ucap Sonya, lalu Sonya mencium seluruh wajah baby Arzan.
Rasanya sangat berat harus berpisah dengan jagoan kecilnya. "Ibu... Titip Arzan."
Ibu Meli mengangguk. "Iya, neng. Neng tenang saja, ibu dan Chandra pasti menjaganya."
"Iya, ma... Sebentar lagi." Sekali lagi Sonya mencium baby Arzan. Setelah itu Sonya dan Nyonya Puspa segera masuk.
Melihat Sonya dan Nyonya Puspa masuk, ibu Meli bertanya. "Kamu lagi marahan sama neng Sonya?"
"Nggak! Siapa yang lagi marahan," sahut Chandra.
"Kirain lagi marahan. Soalnya ibu perhatikan sejak kamu dari toilet neng Sonya terlihat marah sama kamu."
"Perasaan ibu aja kali," jawab Chandra.
Chandra segera melajukan mobilnya, ketika Sonya dan Nyonya Puspa hilang dari pandangannya.
Setibanya di dalam rumah. Sonya dan Nyonya Puspa langsung di sambut dengan tatapan tajam dari Tuan Yusuf.
"Kalian habis dari mana?" Tanya Tuan Yusuf penuh selidik.
__ADS_1
"Habis makan di luar," jawab Nyonya Puspa.
"Jangan bohong kalian!" Tuan Yusuf tidak percaya begitu saja.
Sonya mendengus melihat papanya yang tidak percaya. "Ngapain bohong," timpal Sonya, sambil berlalu dari hadapan papanya. Ia masih sangat malas dengan papanya.
"Sonya, berhenti!" Tuan Yusuf mencegah Sonya.
"Apa?" Sonya berhenti dan memutarkan tubuhnya menghadap ke arah Tuan Yusuf.
"Lusa kamu sudah harus berangkat ke luar negeri," ucap Tuan Yusuf.
Sonya terkejut mendengarnya. Sonya langsung mengetatkan rahangnya. Ia tidak mau pergi dari negara ini dan pastinya ia tidak mau semakin jauh dengan buah hatinya.
Tanpa berkata, Sonya langsung pergi begitu saja. Sonya harus segera memberitahukan kepada Chandra soal rencana papanya.
Setibanya di kamar Sonya langsung menelpon Chandra, tapi sayangnya telponnya tidak diangkat-angkat.
"Apa Mas Chandra masih di jalan?" Gumam Sonya, kemudian Sonya memilih mengirim pesan singkat kepada Chandra.
Sekitar dua puluh menit, ponselnya berdering dan Sonya segera mengangkatnya.
"Halo... Mas Chandra!" Seru Sonya.
"Iya... Kamu tenang saja. Serahkan semuanya sama aku. Sekarang lebih baik kamu istirahat saja dan jangan memikirkannya."
"Bagaimana aku mau istirahat, kalau--."
"Kamu jangan risau... Percaya sama aku." Chandra memotong perkataan Sonya.
"Baiklah...."
"Sekarang istirahat. Nggak usah dipikirin."
"Iya, Mas...."
__ADS_1