Bukan Sekedar Suami Pengganti

Bukan Sekedar Suami Pengganti
Kia anak siapa?


__ADS_3

"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Chandra. Ia sangat mencemaskan Sonya.


Sonya mengangguk. Kemudian Sonya melepaskan pelukannya dan menatap wajah Chandra.


"Terima kasih, Mas. Karena sudah menyelamatkan aku dari Regi," ucap Sonya.


Chandra mengangguk, lalu ia menatap bibir Sonya yang berdarah akibat tamparan dari Regi. Chandra menyentuh ujung bibir Sonya yang berdarah. "Ini pasti sangat sakit," ucap Chandra, sambil mengelus ujung bibir Sonya.


"Iya... Sakit," sahut Sonya.


"Nanti aku obatin. Sekarang ayo kita pergi dari sini."


***


Plakk...!


Tuan Yusuf sangat marah terhadap anak buahnya, sebab kedua anak buahnya tidak berhasil menculik Sonya. Bahkan anak buahnya tidak tahu keberadaan Sonya.


"Kalian tidak becus!" Marah Tuan Yusuf.


Kedua anak buahnya menundukkan kepalanya. "Maafkan kami, bos." Sesal Adi.


"CK...." Tuan Yusuf berdecih kesal. "Pergi kalian dari sini! Dasar tidak berguna!" Usirnya.


Kedua anak buahnya segera pergi dan Tuan Yusuf menendang kursi. Ia sangat marah, karena tidak berhasil membawa Sonya pergi dari sini. Padahal ia sudah mempersiapkan kepergian Sonya ke luar negeri, tapi ternyata rencananya gagal total.


"Pasti ini semua gara-gara Chandra."


Tuan Yusuf mendengus dan Tuan Yusuf bertambah geram terhadap Chandra.


Drrtt... Drrtt...


Tuan Yusuf melihat siapa yang menelponnya. "Heni...." Gumam Tuan Yusuf, yang langsung mengangkat telponnya. "Halo...."


"Mas! Kia, Mas!" Suara Heni terdengar panik di ujung telpon.

__ADS_1


"Kenapa dengan Kia?"


"Kia tertabrak motor dan sekarang aku lagi membawa Kia ke rumah sakit."


"Apa?! Kok, bisa!"


"Aku nggak bisa jelasin sekarang. Pokoknya Mas segera ke rumah sakit."


"Oke. Mas ke rumah sakit sekarang juga."


Telpon pun terputus. "Ada-ada saja," ujar Tuan Yusuf, sambil melangkah cepat.


Kurang lebih dua puluh menit, Tuan Yusuf akhirnya tiba di rumah sakit. Ia bergegas masuk ke rumah sakit dan menemui Heni yang tengah menunggu Kia.


"Heni! Bagaimana keadaan Kia?" Tanya Tuan Yusuf yang sangat mencemaskan kondisi Kia.


"Mas!" Heni langsung memeluk Tuan Yusuf. Ia sangat takut kalau Kia sampai kenapa-kenapa.


Tuan Yusuf mengelus punggung Heni yang bergetar karena menangis. "Sudah jangan menangis... Lebih baik kita berdoa saja, semoga Kia baik-baik saja."


Heni mengangguk lemah. Tidak lama dokter pun keluar dari dalam sana. Heni dan Tuan Yusuf segera mendekati dokter.


Dokter menghela napasnya. "Anak ibu dan bapak mengalami pendarahan yang mengakibatkan harus menjalani transfusi darah dan stok darah di sini lagi kosong."


"Kalau gitu ambil darah saya." Sambar Tuan Yusuf cepat.


Dokter mengangguk. "Silahkan bapak pergi ke ruangan UTD." Kemudian dokter memanggil suster untuk mengantar Tuan Yusuf ke ruangan UTD.


Setibanya di ruang UTD, Tuan Yusuf di cek lebih dulu. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya suster datang menghampirinya.


"Ayo sus, ambil darah saya sekarang juga,"ujar Tuan Yusuf.


"Sebentar, Pak. Dari hasil pemeriksaan, darah bapak sama pasien tidak cocok," jelasnya.


"Maksudnya gimana?" Bingung Tuan Yusuf.

__ADS_1


"Golongan darah bapak sama pasien tidak sama."


Tuan Yusuf mengerutkan keningnya. "Kok bisa? Suster salah cek hasilnya kali. Mana mungkin golongan darah saya dengan anak saya berbeda."


"Maaf, Pak. Tapi ini beneran hasilnya dan saya tidak mungkin salah." Sambil menunjukkan hasilnya ke hadapan Tuan Yusuf.


Mana mungkin bisa golongan darahku dengan Kia berbeda? Sudah jelas-jelas kalau Kia anakku. Aku harus tanyakan ini kepada Heni.


Tuan Yusuf kemudian meninggalkan ruangan tersebut. Dengan langkah cepat, Tuan Yusuf menemui Heni.


Heni saat ini tengah mondar-mandir. Ia sangat gelisah dengan keadaan anaknya. "Semoga kamu cepat membaik, Nak," lirih Heni.


"Heni!" Panggil Tuan Yusuf.


Heni menengok. "Gimana? Mas sudah donorkan darahnya buat Kia?"


"Justru aku mau tanyakan ini sama kamu. Bagaimana bisa golongan darah ku dengan Kia berbeda?"


Heni terdiam. Ia lupa kalau Kia bukanlah anak kandung Tuan Yusuf dan sekarang Tuan Yusuf mempertanyakannya.


"Jawab! Sebenarnya Kia anak siapa?!" Tanya nya penuh emosi.


"Ki-kia ... A-anakk ki-ta, Mas...." Jawab Heni dengan terbata-bata. "Masa... Mas nggak percaya sama aku."


Tuan Yusuf menatap penuh selidik. "Kamu yakin? Kalau Kia anakku."


Heni semakin gugup. "I-iya...."


Tuan Yusuf mencengkram kuat dagunya Heni dan menatapnya nyalang. "Jawab dengan jujur! Kia anak siapa?" Bentaknya dengan tatapan marah.


Heni menelan salivanya. Ini pertama kalinya Tuan Yusuf marah terhadapnya. "Ki-Kia...." Heni tak mampu melanjutkan ucapannya. Ia sangat takut dengan kemurkaan Tuan Yusuf.


Tuan Yusuf menghentakkan dagunya Heni kasar. Lalu Tuan Yusuf mengusap wajahnya dengan kasar, dengan napas yang memburu karena kemarahan yang menggebu.


"Katakan... Kia anak siapa?" Kali ini nada suara Tuan Yusuf sedikit melemah, tidak seperti tadi yang begitu emosi.

__ADS_1


Heni menundukkan kepalanya sambil meneteskan sebening kristal dari pelupuk matanya. "Kia... Anak dari... Mantan pacar aku," jawab Heni dengan suara bergetar dan lirih.


Tuan Yusuf memejamkan matanya. Sungguh ia tak menyangka kalau ternyata selama ini Heni sudah membohonginya.


__ADS_2