
Sonya bergerak naik ke atas pangkuan Chandra. Tangannya langsung mengalung ke leher Chandra. Sonya menatap mesra bola mata milik Chandra.
"Apa kamu sungguh-sungguh mencintaiku?" Ucap Chandra. Bukannya Chandra tidak tahu kalau selama ini Sonya sudah jatuh cinta terhadapnya. Dari cara Sonya menatapnya saja sudah sangat berbeda. Chandra hanya ingin memastikannya saja.
Sonya mengangguk cepat.
"Jadi pernikahan kita tetap berlanjut? Lalu, bagaimana dengan surat perjanjian pranikah kita?" Sambung Chandra.
"Soal surat itu sudah aku ambil dari ruang kerja papa dan sudah aku bakar beberapa hari yang lalu. Jadi Mas nggak usah mikirin lagi soal perjanjian pranikah kita. Toh, pernikahan kita sah secara agama dan negara."
Chandra tersenyum lega. Kekhawatiran-nya soal surat perjanjian pranikah, kini menguap entah kemana dan berganti dengan kelegaan dihatinya.
Sonya menatap lekat bola mata yang berwarna coklat itu. Bola mata yang selalu meneduhkan hatinya dan juga mampu menggetarkan hatinya.
"Apa Mas juga mencintaiku?" Kini Sonya balik bertanya soal perasaan Chandra terhadapnya. Selama ini, ia belum pernah mendengar tentang perasaan Chandra terhadapnya, dan hari ini ia ingin mendengar perasaan Chandra yang sesungguhnya.
"Gimana ya...." Chandra menggantungkan ucapannya, membuat Sonya merengut manyun, karena Chandra tidak mengatakan apa-apa lagi selain 'Gimana ya...'
Selama ini, ia tidak berani untuk membalas perasaan cinta Sonya. Hatinya masih sangat terganjal dengan surat perjanjian pranikah-nya dengan Sonya dan juga Tuan Yusuf. Selain itu, perbedaan kasta terbentang jauh dengan dirinya yang notabenenya hanya seorang sopir pribadi dari papanya Sonya, semakin membuatnya minder dan tidak percaya diri.
"Cinta atau nggak." Sonya tampak kesal, karena Chandra tidak menjawabnya.
Chandra tetap diam dan tidak terbaca.
Kesal karena Chandra tak menjawab pertanyaannya. Sonya kemudian bangkit dari pangkuan Chandra. Dengan kaki dihentak-hentakkan ke lantai, Sonya memutari tempat tidur. Kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dengan kasar.
Sonya sengaja memunggungi Chandra. Ia masih sangat kesal karena Chandra tidak menjawabnya. Padahal tinggal bilang Cinta atau nggak.
Chandra tersenyum miring melihat Sonya yang merajuk. Kemudian Chandra ikut merebahkan diri di samping Sonya. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang Sonya.
"Aku juga mencintaimu, Non Sonya," bisik Chandra di telinga Sonya.
__ADS_1
Sonya yang pura-pura tidur, kini membuka matanya. Ia tersenyum senang mendengar perkataan Chandra. Kemudian Sonya memutarkan tubuhnya menghadap Chandra dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Aahh...! Aku seneng banget dengernya...!" Jerit Sonya, dengan wajah sumringah.
Chandra tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Sonya langsung memeluk tubuh Chandra dengan perasaan membuncah.
"Coba Mas ulangi lagi kalimat yang tadi," pinta Sonya dengan mata berbinar.
"Tidak ada pengulangan," jawabnya, sambil mengulum senyum.
"Pokoknya aku mau denger. Cepatan!"
Chandra menggeleng.
Sonya berdecih sebal. Meski Chandra tidak mau mengulangi ucapan cintanya, tidak membuat rasa bahagianya berkurang. Justru ia semakin bahagia, senang dan bersuka cita atas balasan cintanya.
Senyumnya bertambah merekah, saat Chandra merengkuhnya dan mencium keningnya.
"Jangan bicara seperti itu." Sonya tidak setuju dengan ucapan Chandra yang seorang sopir. "Bagiku kamu lelaki yang terbaik. Besok aku harus bilang terima kasih sama papa, karena papa memilih kamu sebagai suamiku."
Chandra mengangguk, dan memang seharusnya ia berterima kasih kepada Tuan Yusuf yang menjadikannya pengantin pengganti untuk putrinya, Sonya.
Jujur, sampai saat ini ia masih belum percaya menikah dengan anak majikannya. Bahkan menghayal untuk memilikinya saja tidak pernah. Tapi ternyata, Tuhan menciptakan Sonya untuknya.
Keduanya kini saling tatap dan lama kelamaan wajah Chandra mendekat. Sonya segera menutup matanya dan menyambut hangat ciuman Chandra. Satu senti lagi bibirnya saling bertautan dengan bibirnya Sonya. Hingga sebuah suara mengitrupsinya, menghentikan gerakan wajahnya.
Oek... Oek... Oek...
Baby Arzan menangis. Chandra dan Sonya saling tertawa, mendengar tangisan baby Arzan. Kemudian Sonya bangkit, tapi ditahan oleh Chandra.
"Biar aku saja. Kamu istirahatlah."
__ADS_1
Sonya menurut dan Chandra segera menggendong baby Arzan dan menimangnya.
Sonya tersenyum melihat Chandra yang begitu menyayangi baby Arzan. Ia sangat bersyukur memiliki Chandra sebagai suaminya.
Andai ia tetap menikah dengan Regi, belum tentu hidupnya akan sebahagia ini. Mungkin saja pernikahannya akan seperti di dalam neraka. Untung saja Regi tidak menikahinya, sehingga Tuhan memilihkan Chandra sebagai suaminya. Suami terbaiknya.
***
Hari-hari pun terus berlalu. Hidup Sonya sangatlah bahagia, karena kini hidupnya damai dan tentram. Tidak ada lagi yang mengganggu hidupnya.
Sonya tengah memperhatikan Chandra yang saat ini tengah menjemur baby Arzan di bawah sinar matahari pagi. Sonya tersenyum melihatnya dan tanpa sadar Nyonya Puspa sudah duduk di sampingnya.
"Mama...." Sonya sedikit terkejut melihatnya dan mengernyitkan dahinya. "Mama sudah rapih saja. Memangnya Mama mau kemana?"
"Mama mau ke pengadilan agama."
"Oh...." Sambil manggut-manggut.
Nyonya Puspa pun kini ikut memperhatikan Chandra.
"Apa kamu bahagia menikah dengan Chandra?"
Sonya mengangguk. " Iya... Aku bahagia, Ma. Malah sangat bahagia," jawabnya dengan senyum terkembang.
Nyonya Puspa tersenyum lega. Akhirnya anak satu-satunya ini hidup bahagia dengan Chandra. Meski pernikahan mereka diawali dengan paksaan.
"Mama senang dengernya, kalau kamu bahagia. Sekarang mama bisa tenang melepaskan kamu bersama Chandra."
Sebagai orang tua, Nyonya Puspa ingin melihat anaknya hidup bahagia. Ia tidak mau jika Sonya harus tersiksa dengan pernikahannya.
Sonya menatap lekat wajah mamanya, lalu Sonya memeluk mamanya dari samping.
__ADS_1
"Terima kasih, Ma. Karena Mama selalu mendukung aku."