Bukan Sekedar Suami Pengganti

Bukan Sekedar Suami Pengganti
Pergi ke pasar


__ADS_3

Sayup-sayup terdengar suara adzan berkumandang dan di luar kamar sudah terdengar langkah kaki seseorang. Tidak lama terdengar suara orang tengah mengaji dan peralatan masak.


Sonya yang biasa tidurnya tidak pernah terganggu dengan suara-suara berisik. Mendengus kesal karena tidurnya harus terganggu.


"Berisik banget sih!" Gerutu Sonya, yang kini menutupi telinganya. Ia lupa kalau saat ini tengah menginap di rumah Chandra.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu membuat kekesalan Sonya bertambah, lalu Sonya melempar bantal ke arah pintu dengan dirinya masih berbaring di atas kasur.


Chandra terperanjat saat dirinya membuka pintu dan sebuah bantal mendarat ke tubuhnya. Chandra menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan Sonya, lalu Chandra segera membangunkan Sonya.


"Non, bangun. Ini sudah subuh," kata Chandra sambil menggoyangkan tubuhnya Sonya.


"Iiihh! Berisik banget tahu nggak, sih!" Bentak Sonya.


"Chan, biarkan saja neng Sonya tidur. Mungkin masih ngantuk," ucap Bu Meli dari luar kamar, yang kebetulan sedang melintas ke luar rumah.


Sonya yang mendengar suara Bu Meli, seketika langsung bangun dari tidurnya dan menatap bengong wajah Chandra.


"Eh! Non...." Chandra sedikit terperanjat melihat Sonya yang langsung bangun dari tidurnya.


"Sekarang jam berapa?" Tanya Sonya.


"Jam lima pagi. Saya bangunin Non buat sholat subuh."


"Sholat?"


"Iya, sholat."


Bukannya bergegas bangun dari tempat tidur dan melaksanakannya, justru Sonya menatap bingung wajah Chandra. Pasalnya dirinya sudah lama banget tidak mengerjakan sholat. Jika diingat-ingat terakhir kalinya waktu ia masih kecil, tapi Sonya juga lupa di umur berapa terakhir sholat.


"Kenapa, Non? Apa ada yang salah?"


"A-aku lupa caranya sholat," cicit Sonya seraya menundukkan pandangannya.


Chandra terhenyak mendengar perkataan Sonya, kemudian Chandra mengulurkan tangannya kepada Sonya.


"Saya akan mengajarkan Non sholat."

__ADS_1


Sonya menggelengkan kepalanya, membuat Chandra menatap bingung.


"Apa pantas aku menjalankan sholat?"


"Di mata Allah semuanya sama dan tidak ada kata pantas atau tidaknya. Karena derajat manusia itu sama. Ayo...."


Dengan ragu-ragu Sonya menerima uluran tangan Chandra dan bergegas keluar untuk melaksanakan sholat.


Karena sudah sangat lama tidak sholat, membuat Sonya juga lupa tata cara berwudhu.


Chandra mengajarkan Sonya bagaimana tata cara berwudhu dengan benar. Setelah wudhu, Chandra mengajak Sonya ke tempat sholat yang berukuran 2 X 2 M. Dengan penuh kesabaran, Chandra mengajarkan Sonya sholat.


***


Pukul sembilan pagi, Chandra, Bu Meli dan Sonya nyekar ke makam Riri. Tatapan Chandra begitu sendu menatap gundukan tanah yang bertabur bunga.


Chandra bersimpuh di depan makan Riri dan mencium papan nisan tersebut. Air matanya luruh membasahi pipinya. Adik tersayangnya kini sudah abadi di alam baka.


"Tidurlah yang nyenyak, dek. Mas akan selalu mengirimkan doa untukmu. Semoga adek di tempatkan di surga-Nya Allah."


Kemudian Chandra dan Bu Meli mulai mendoakan Riri, sedangkan Sonya hanya diam terpaku.


"Chan, kamu sama neng Sonya pulang duluan saja. Ibu mau ke pasar dulu," ucap Bu Meli.


"Ya, ibu...." jawab Chandra.


"Bu, apa aku boleh ikut ibu ke pasar?" Ucap Sonya.


"Boleh, tapi neng yakin mau ikut ke pasar. Soalnya pergi ke pasarnya menggunakan angkot. Nggak apa-apa neng naik angkot?"


"Iya, nggak apa-apa," jawab Sonya.


Sonya pikir tidak masalah kalau sekali-kali pergi menggunakan angkot. Lagian naik angkot tidak akan membuatnya jatuh jadi wanita miskin. Setelah lama menunggu angkot lewat, akhirnya Bu Meli, Sonya dan Chandra pergi ke pasar.


Untuk pertama kalinya naik angkot. Sonya harus duduk berdesak-desakan dengan orang lain, serta rasa pengap dan panas Sonya rasakan.


Di dalam hatinya Sonya terus menggerutu kesal, karena duduknya semakin sempit. Tambah kesal lagi mendengar rengekan anak kecil, membuat Sonya pening mendengarnya.


Angkot yang mereka tumpangi akhirnya sampai di depan pasar dan saat masuk ke dalam pasar. Sonya lagi-lagi menggerutu di dalam hatinya, karena jalannya becek dan juga bau amis. Sonya juga di buat jijik melihat banyaknya sampah.

__ADS_1


Selama menemani Bu Meli di pasar, Sonya tidak berani menyentuh apapun di pasar karena jijik dan juga selalu menutup hidungnya.


"Sudah selesai belum?" Tanya Sonya kepada Chandra, sebab Sonya sudah tidak nyaman berada di pasar.


"Belum. Mungkin sebentar lagi," jawab Chandra.


Sonya mendengus kesal, itu artinya dirinya harus bersabar berada di pasar yang menurutnya menjijikkan.


Saat tengah menunggu Bu Meli membeli cabe, tiba-tiba kakinya Sonya terkena cipratan air yang menggenang saat seseorang melewatinya.


"Iiihhh...!" Sonya menatap jijik kakinya yang kotor. Sonya tidak berani membersihkan kakinya, karena air tersebut sangatlah kotor.


"Kenapa, Non?"


"Kakiku kena cipratan air kotor," sungut Sonya. Chandra pun melihat kakinya Sonya yang kotor.


"Bu, kami tunggu di luar saja ya," kata Chandra.


"Iya," Bu Meli mengangguk kecil.


Chandra segera membawa Sonya keluar dari pasar dan mencari tempat duduk yang sekiranya bersih.


"Non tunggu di sini. Saya ke warung kelontongan dulu sebentar."


"Jangan lama-lama."


"Nggak, Non!" Jawabnya sambil berlalu pergi.


Dengan ragu-ragu Sonya mendudukkan dirinya di tempat tersebut dan tidak lama Chandra datang membawa kantong plastik hitam di tangannya.


"Kamu habis beli apa?"


"Beli tisu, Non," jawab Chandra sambil mengeluarkan tisu dari tempatnya. Lalu Chandra berjongkok dan mengangkat kaki Sonya untuk mengelap kakinya Sonya yang kotor.


Saat Chandra membersihkan kakinya, Sonya diam-diam curi pandang wajah Chandra.


Kalau di perhatikan kamu sebenernya ganteng. Coba saja kalau kamu bisa merawat diri, pastinya wajah kamu akan lebih ganteng.


"Sudah bersih, Non." Sonya gelagapan dan memalingkan wajahnya, karena tengah memperhatikan wajah Chandra.

__ADS_1


"I-iya, terima kasih," jawab Sonya tergagap.


__ADS_2