Bukan Sekedar Suami Pengganti

Bukan Sekedar Suami Pengganti
Kebahagiaan Sonya


__ADS_3

Setelah mengetahui kalau ternyata Sonya diculik oleh Regi, Tuan Yusuf tidak akan membiarkan Regi bebas begitu saja. Dengan kekuasaannya sebagai seorang pengacara, Tuan Yusuf mempersulit Regi untuk bebas dari balik jeruji besi.


Kini Tuan Yusuf sudah berada di kantor polisi dan tengah menatap nyalang wajah Regi, seolah ingin mencabik-cabik wajah lelaki yang sudah membuat putrinya hancur.


"Mau apa anda ke sini?" Ketus Regi yang begitu malas bertemu dengan Tuan Yusuf.


Tuan Yusuf berdecak kesal. "Saya cuma memastikan kalau kamu benar-benar dipenjara dan saya tidak akan membiarkan kamu bebas dengan mudah."


Regi justru tertawa kecil mendengarnya. "Jika anda menginginkan aku terus berada di penjara, maka putrimu juga harus mendekam di penjara. Apa anda lupa, kalau putrimu sudah mencelakai aku, bahkan sudah menghilangkan nyawa kekasihku!" Regi berkata penuh penekanan, mengingatkan lagi kalau Sonya juga bersalah. Dadanya bergemuruh mengingat sang kekasih yang ia cintai telah tiada.


"Meski Sonya telah mencelakai kamu, saya tidak akan membiarkan Sonya mendekam di penjara seperti kamu dan lagian bukti-bukti yang kamu tuduhkan tidak begitu kuat," balas Tuan Yusuf seraya menghunus tatapan tajam.


Regi mengepalkan tangannya, hingga buku-buku jarinya memutih. Rasanya ia ingin menghajar lelaki tua dihadapannya.


"Ingat! Saya tidak akan membiarkan kamu bebas." Tuan Yusuf mengingatkan lagi soal ucapannya. Setelah berbicara seperti itu, Tuan pergi dari hadapan Regi yang tengah menahan amarahnya.


"Brengsek! Awas kamu tua bangka!" Geram Regi, sambil menaik turunkan dadanya karena marah.


***


Sonya tengah tersenyum bahagia, manakala ia menatap wajah malaikat kecilnya. Ternyata menjadi seorang ibu sungguh sangat luar biasa.


Bayi berjenis laki-laki itu, kini tengah menyesap kuat sumber energinya dan Sonya tak jemu-jemu memandanginya. Nyonya Puspa juga ikut bahagia melihat cucunya.


"Namanya siapa?" tanya Nyonya Puspa, tanpa mengindahkan pandangannya dari wajah cucunya.


Sonya terdiam. Ia belum menyiapkan nama untuk buah hatinya. "Aku belum nyaipin namanya, tapi nanti aku bicarakan dengan Mas Chandra."


Nyonya Puspa mengangguk. Tiba-tiba pintunya terbuka dan menampakkan ibu Meli. Sonya terus melihat ke arah pintu, mencari sosok lelaki yang sangat diharapkan keberadaannya.


"Mas Chandra nya mana, Bu?" Sonya bertanya, karena sejak tadi Sonya tidak melihat Chandra.

__ADS_1


"Chandra sedang pergi. Katanya mau beli sesuatu," sahut ibu Meli.


"Oh...," jawab Sonya.


Tidak berselang lama, Tuan Yusuf datang. Ia langsung menghampiri Sonya yang baru selesai mengASIhi putranya.


"Chandra kemana?" tanya Tuan Yusuf, kepada Sonya.


"Kata ibu, Mas Chandra pergi."


"Pergi kemana?"


Sonya menjawabnya dengan mengedikkan bahunya. Lalu Tuan Yusuf menatap intens wajah cucunya. Melihat cucunya yang tengah digendong oleh Sonya, membuat dadanya bergemuruh. Ia tidak suka melihat bayi laki-laki itu, karena bayi itu adalah anak dari Regi.


Saya tidak membiarkan bayi ini menjadi bagian dari keluargaku. Tuan Yusuf membatin, sambil menatap benci cucunya itu.


***


"Mas... Nama untuk bayi kita, siapa namanya? Jujur aku belum nyiapin namanya."


Chandra terdiam. Ia juga tidak pernah memikirkan soal nama untuk bayinya Sonya. Justru ia pikir Sonya sudah menyiapkan nama untuk anaknya.


Chandra menggeleng. "Aku juga belum nyiapin namanya, tapi nanti aku cari nama yang bagus untuk putramu."


Sonya berdecak kesal, membuat Chandra menautkan alisnya bingung. "Kenapa?" tanya Chandra.


"Jadi kamu menganggap kalau bayiku bukan anakmu?" Sonya merengut manyun.


"Maaf, aku salah ngomong. Jangan marah, dong," bujuk Chandra.


"Aku tahu kalau anakku bukan anakmu kandungmu, tapi apa--" Perkataan Sonya langsung terhenti saat jari telunjuk Chandra menempel di bibirnya.

__ADS_1


"Kamu jangan pernah berpikir seperti itu. Meski anakmu bukan darah dagingku, tapi aku sangat menyayanginya seperti anakku sendiri." Chandra menatap lekat wajah Sonya. "Maafkan aku, jika perkataanku tadi menyinggungmu." Chandra sangat menyesal telah salah berucap.


"Chandra...." Tiba-tiba Tuan Yusuf memanggilnya.


"Iya, Tuan," sahut Chandra menoleh.


"Ikut saya. Ada hal yang ingin saya bicarakan sama kamu."


Chandra mengangguk patuh. "Aku keluar dulu," pamitnya kepada Sonya.


***


Kini Chandra dan Tuan Yusuf tengah duduk di kedai yang tidak jauh dari rumah sakit. Sejak mereka duduk di sana, Tuan Yusuf belum mengatakan apapun.


"Saya akan membawa Sonya pergi ke luar negeri," ucap Tuan Yusuf membuka pembicaraannya. Chandra menoleh demi menatap majikannya itu.


"Tapi saya tidak akan membawa bayi sialan itu dan bayi itu saya serahkan kepada kamu."


Chandra terhenyak mendengar perkataan Tuan Yusuf. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Kenapa Tuan Yusuf tidak membiarkan cucunya sendiri ikut bersama Sonya. Malah menyerahkan cucunya sendiri kepadanya, yang notabenenya bukan siapa-siapa, pikir Chandra.


"Kamu pasti bingung, kenapa saya serahkan bayi itu ke kamu."


Chandra mengangguk dan sangat penasaran dengan jawaban Tuan Yusuf.


"Karena bayi itu membawa sial. Bayi itu keturunan lelaki brengsek!" Bola matanya memancarkan aura kemarahan. Mengingat satu nama yaitu Regi.


"Tapi, Tuan. Bagaimana dengan Sonya?"


"Itu urusan saya," sambar Tuan Yusuf.


Chandra menghela nafasnya dan memikirkan tentang perasaan Sonya.

__ADS_1


Bagaimana kalau Sonya tahu, kalau ternyata dia akan dipisahkan dengan bayinya? Pasti hatinya sangat sedih dan hancur. Kenapa juga Tuan Yusuf tega memisahkan Sonya dan bayinya.


__ADS_2