Bukan Sekedar Suami Pengganti

Bukan Sekedar Suami Pengganti
Berhasil menangkapmu


__ADS_3

Ciuman Sonya semakin lama semakin memabukkan. Membuat Chandra terhanyut dalam buaian ciuman Sonya. Bahkan kini Chandra menginginkan lebih dari sekedar ciuman dan sesuatu yang sejak tadi tertidur kini bangun dan menegang. Tangan Sonya kini tak tinggal diam, ia bergerilya masuk kebalik pakaian Chandra dan mengelus lembut kulit dada Chandra.


Akal sehatnya Chandra ingin menyudahinya, tapi tubuhnya justru merespon setiap sentuhan yang Sonya lakukan dan meluluhlantakkan pertahanan Chandra.


Chandra yang sudah tidak bisa berpikir jernih, kini membaringkan tubuh Sonya. Nalurinya sebagai lelaki kini bangkit dan mencium Sonya penuh dengan api gairah yang membakar hass ratnya.


Nafas Chandra sudah memburu dan ciuman Chandra semakin liar, bahkan bibirnya Chandra kini menyapu kulit leher Sonya.


"Aahh...." Sonya mendesah lembut, membuat Chandra semakin tersulut untuk terus mencumbui Sonya.


Tangan Chandra kini sudah berada di balik pakaian Sonya dan mengelus perut Sonya. Perlahan tangan Chandra bergerak naik ke sebuah bukit halus. Belum tiba di dua bukit halus tersebut, tiba-tiba sebuah suara menarik kesadaran Chandra.


Tok tok tok.


"Chandra...!!" Ibu Meli memanggilnya. Seketika Chandra langsung menarik diri dari tubuh Sonya. Chandra menarik nafasnya dalam-dalam dan ia hembuskan perlahan. Chandra kini tengah berusaha menetralkan lagi deru nafasnya.


Ada rasa malu di diri Chandra karena terbuai dengan sentuhan Sonya, sehingga dirinya lepas kendali.


"Chandra...!!" Ibu Meli memanggilnya lagi dan Chandra segera membukakan pintunya, setelah nafasnya kembali normal.


"Iya, Bu... Kenapa?" Tanya Chandra yang berpura-pura seperti bangun tidur.


"Ibu mau ke rumah Yanti. Bisa kamu antarkan ibu ke sana."


"Bisa. Tunggu sebentar, Chandra cuci muka dulu," tukas chandra segera melangkah ke kamar mandi.


"Huft... Hampir saja kebablasan," gumam Chandra. Lalu pandangannya kini tertuju ke bawah perutnya yang sudah tegak berdiri dan meminta keadilan untuk kesejahteraannya.


"Belum waktunya kamu keluar dari sarangmu. Jadi harus bersabar menunggunya." Chandra berujar kepada si tongkat ajaibnya. Setelah itu Chandra segera menemui ibunya.


"Ayo, Bu...." Ajak Chandra yang kini sudah berdiri di hadapan ibunya.


"Kamu nggak beri tahu Sonya dulu, kalau kita mau ke rumah Yanti," kata ibu, karena Sonya masih berada di dalam kamar.


Chandra mengangguk dan masuk ke dalam kamarnya. Sebenarnya ada rasa canggung di dalam hati Chandra soal kejadian tadi.


"Sonya, aku dan ibu mau ke rumah bibi Yanti. Apa kamu mau ikut atau mau di rumah saja?"


"Aku nunggu di rumah saja," jawab Sonya yang kini duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu. Mm... Kalau ada apa-apa segera kabarin aku."


"Iya," jawab Sonya. Kemudian Chandra keluar dan berangkat ke rumah bibi Yanti bersama ibu Meli.


Sonya menghela nafasnya. Ia kecewa karena tidak bisa melanjutkan kegiatan yang menyenangkan bersama Chandra. Sonya kemudian merebahkan tubuhnya dan mendengus kesal.


Sonya memilih untuk tidur saja, dari pada otaknya terus memikirkan soal kejadian yang hampir membuatnya melayang ke awang-awang.


***


"Sonya... Apa kamu lupa denganku?" Ucapnya penuh dengan senyum menyeringai. Bahkan tatapan itu seolah menelanjangi Sonya.


Sonya terbelalak melihatnya dan terpaku melihat wajah orang itu. Orang yang sudah membuatnya hancur dalam sekejap.


"Re - Regi...." Cicit Sonya sembari menelan salivanya. Sonya tak menyangka kalau Regi berhasil menemukannya. Sekarang apa yang harus ia lakukan?.


Regi tersenyum miring dan kini Regi melangkahkan kakinya mendekati Sonya yang terpaku ditempatnya.


Melihat Regi mendekatinya, Sonya jelas melangkah mundur. Dalam pikirannya, ia harus menghindari Regi, apalagi kini Regi mengeluarkan sebilah pisau dari saku celananya. Tubuh Sonya gemetar melihat pisau tersebut. Ia benar-benar sangat ketakutan. Sedangkan saat ini Sonya tengah sendirian dan Chandra tengah pergi.


"Kenapa mundur, sayang...." Ucap Regi dengan senyumnya terus tersungging.


"Jangan mendekat!" Teriak Sonya, yang terus mundur menghindari Regi.


Regi terus maju mendekati Sonya. Sedangkan tubuh Sonya kini sudah terpentok dinding. Sonya sudah mengeluarkan air matanya, Sonya sudah tidak bisa lari lagi dari hadapan Regi yang kini sudah berada di depannya.


"Jangan takut sayang... Mana mungkin aku akan menyakiti kamu. Asal kamu tahu, kalau aku sangat-sangat merindukan kamu dan juga... Tubuhmu," bisik Regi, yang kini mengukung Sonya.


Regi tertawa kecil dan Regi juga mengelus pipi Sonya penuh dengan api gelora.


"Jangan sentuh aku!" Hardik Sonya, sambil mendorong tubuh Regi.


Akan tetapi usaha Sonya mendorong Regi tidak membuahkan hasil, justru tubuh Regi kini semakin memepet tubuh Sonya. Sehingga Sonya tidak bisa bergerak dari jeratan tubuh Regi.


Regi kini mencengkram erat dagu Sonya dan tersenyum miring.


"Lepaskan aku!!" Sonya memberontak dan berusaha melepaskan diri dari Kungkungan Regi.


Pisau yang sejak tadi Regi pegang, kini tengah berada di pipi Sonya dan Regi menyusuri wajah Sonya menggunakan pisau tersebut.

__ADS_1


Air mata Sonya semakin deras keluar dari pelupuk matanya. Sungguh Sonya sangat takut.


"Jangan menangis, sayang... Aku hanya ingin mengajak kamu bersenang-senang seperti dulu lagi. Apa kamu lupa bayi yang ada di dalam perut mu itu? Itu sebagai bukti hasil dari perbuatan kita yang hampir setiap hari kita lakukan."


Sonya hanya bisa menangis tersedu-sedu. Semakin ia memberontak, Regi semaki kuat mencengkram dagunya.


"Aku mohon... Lepaskan aku...."


Regi menggelengkan kepalanya. "Aku nggak akan melepaskan kamu lagi. Susah payah aku mencarimu dan sekarang kamu harus ikut bersamaku."


"Aku nggak mau ikut sama kamu!" Dengan susah payah Sonya menggerakkan kakinya dan menendang area sensitifnya Regi dengan lututnya.


"Argh... Sialan kamu!" Maki Regi sembari memegangi area sensitifnya.


Sonya yang sudah terbebas dari Kungkungan Regi segera berlari menghindari Regi.


"Jangan lari kamu!" Regi kini mengejar Sonya.


Ya Tuhan ... Tolong selamatkan hamba mu ini dari Regi.


Sonya terus berlari dan tidak memperdulikan rasa sakit di perutnya. Yang terpenting ia tidak tertangkap oleh Regi.


"Aaww...." Sonya meringis kesakitan, ia memegangi perutnya yang teramat sakit. Tapi Sonya harus terus berlari menghindari kejaran Regi, hingga kini larinya Sonya semakin pelan akibat dari rasa sakit di perutnya.


"Ketangkap juga kamu," seloroh Regi yang berhasil menangkap tubuh Sonya.


"Lepaskan aku! Aku nggak mau ikut sama kamu!" Sonya terus memberontak.


"Nggak! Sekarang kamu harus ikut denganku!" Regi langsung menarik paksa tangan Sonya dan menyeretnya.


"Lepaskan! Aku mohon... Lepaskan aku." Sonya mengiba, tapi Regi terus menarik Sonya dan membawanya.


Sonya sudah berusaha keras untuk lepas dari jeratan Regi dan hal itu membuat kesabaran Regi hilang.


"Sekarang kamu pilih ikut denganku atau pilih mati!"


"Lebih baik aku pilih mati, daripada aku harus ikut denganmu!" Sonya berkata tegas.


"Baiklah." Kemudian pisau tersebut kini Regi arahkan ke perut Sonya dan....

__ADS_1


Jleb!!


"Sonya...!" Panggil Chandra.


__ADS_2