
Sudah hampir dua jam Chandra berada di rumah bibi Yanti dan Chandra mulai tidak tenang meninggalkan Sonya sendiri di rumah.
"Ibu, Chandra pulang duluan nggak apa-apa? Kasihan Sonya sendirian di rumah," kata Chandra kepada ibunya.
"Iya. Lagian ibu masih ingin berlama-lama berada di sini," jawab ibu Meli yang masih asik melepas kangen dengan bibi Yanti dan juga Mang Supri.
"Kalau gitu, Chandra langsung pulang ya...." Chandra langsung berpamitan kepada ibu Meli, bibi Yanti dan juga Mang Supri.
Sesampainya di rumah, Chandra segera masuk. Baru saja menutup pintu rumahnya, Chandra mendengar teriakkan dari arah kamar.
"Sonya...!" Chandra panik mendengar suara Sonya.
Chandra segera berlari ke kamar dan melihat Sonya tengah berteriak dalam tidurnya.
"Sonya!!" Chandra membangunkan Sonya, tapi Sonya tetap gelisah dalam tidurnya dan terus berteriak.
"Lepaskan aku!!" Gigau Sonya.
"Sonya, bangun!" Sekali lagi Chandra membangunkan Sonya. Chandra menepuk-nepuk pipi Sonya.
"Aargh...." Jerit Sonya yang langsung membuka matanya. Nafas Sonya terengah-engah, dengan keringat bercucuran.
Chandra segera meraih air minum di atas meja rias, kemudian Chandra duduk di depan Sonya yang tersengal-sengal.
"Minum dulu," ujar Chandra, membantu Sonya untuk minum.
Selesai minum, Chandra meletakkan kembali gelas ke atas meja. Lalu Chandra mengelap wajah Sonya yang berkeringat.
"Kamu mimpi apa sampai teriak-teriak?" Tanya Chandra, masih mengelap keringat Sonya.
"Aku mimpi ketangkap sama Regi dan dia...." Sonya tak mampu mengucapkan kalimat selanjutnya. Masih teringat jelas dalam ingatannya saat Regi menusuk perutnya.
Chandra langsung memeluk Sonya dan menenangkan Sonya. Chandra mengusap lembut punggung Sonya.
"Aku takut...." Cicit Sonya, yang kini mengeluarkan air matanya.
"Jangan takut. Itu hanya mimpi," jawab Chandra.
"Bagaimana kalau mimpi itu jadi kenyataan." Sonya terisak. Sungguh Sonya sangat ketakutan. Mimpi itu seperti nyata.
"Kamu nggak usah memikirkan hal itu. Aku janji kalau aku akan selalu melindungi kamu dan menjaga kamu dari Regi."
Chandra kemudian melepaskan pelukannya dan menangkubkan kedua telapak tangannya di wajah Sonya.
__ADS_1
"Jika itu sampai terjadi, maka aku orang pertama yang akan menghajarnya," sambung Chandra, sembari mengelap air mata Sonya dengan jempolnya.
Kata-kata Chandra berhasil menenangkan hatinya dan Sonya yakin kalau Chandra tidak akan membiarkan dirinya di tangkap oleh Regi, seperti di dalam mimpinya.
Sonya kembali memeluk Chandra dengan erat. Hanya kepada Chandra ia menggantungkan harapannya dan hanya Chandra yang saat ini menjadi sumber kekuatannya untuk terus melewati masa-masa seperti ini.
***
Di tempat yang berbeda. Seorang lelaki tengah mengamuk, membanting apa saja yang ada di dekatnya, ia adalah Regi.
Usahanya mencari keberadaan Sonya harus gagal untuk kesekian kalinya dan sekarang ia kembalian kehilangan jejak Sonya. Padahal ia sudah berhasil menemukan tempat persembunyian Sonya selama ini, tapi sayang ia terlambat mendatanginya dan Sonya berhasil kabur dari dirinya.
"Aargh...!!" Teriak Regi, meluapkan kemarahannya.
"Pokoknya aku harus mendapatkan Sonya! Gara-gara wanita sialan itu, aku harus kehilangan kekasihku dan calon anakku!" Regi menggeram penuh amarah.
Akibat kecelakaan itu, Regi harus merelakan kekasih hatinya pergi untuk selama-lamanya dan juga buah cintanya yang tengah bersemayam di perut sang kekasih. Padahal ia sudah merencanakan untuk menikah dengan kekasihnya, tapi semuanya harus pupus gara-gara Sonya yang sengaja mencelakai mobilnya dan jatuh ke jurang. Untung saja dirinya selamat dari kecelakaan itu.
"Aku bersumpah akan membalas kematian Maya. Sonya! Aku pasti akan menemukan keberadaan kamu. Cepat atau lambat, kamu bakal ketangkap!"
Tok tok tok.
"Masuk!"
"Bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan informasi?" Tanya Regi.
"Belum, bos," jawab bawahan Regi.
Regi mendengus. "Kamu terus awasi gerak-gerik si tua bangka itu dan istrinya. Aku yakin, suatu saat nanti si tua bangka itu pasti menemui Sonya."
"Baik, bos. Pasti saya akan terus memantau kediaman Pak Yusuf."
"Sekarang kamu boleh pergi dari sini," seraya mengibaskan tangannya dan bawahan Regi pun pergi dari hadapan Regi.
"Sepertinya aku harus bersabar menunggunya," gumam Regi.
***
Di kediaman Tuan Yusuf.
Saat ini Nyonya Puspa tengah merengek kepada suaminya. Beliau sudah sangat merindukan anak semata wayangnya.
"Pa, kapan mama bisa bertemu dengan Sonya? Mama sudah sangat merindukan Sonya?" Rengek Nyonya Puspa.
__ADS_1
"Nanti. Keadaannya masih belum aman," jawab Tuan Yusuf.
Lagi-lagi Nyonya Puspa harus menelan kekecewaan. Padahal ia ingin sekali bertemu dengan putri tercintanya.
"Tapi sampai kapan, pa...."
"Papa kan sudah bilang. Sampai keadaannya aman. Apa mama lupa kalau saat ini Regi tengah mencari keberadaan Sonya?"
"Papa kan bisa melawan Regi dengan jabatan papa sebagai pengacara? Masa gitu aja nggak bisa." Kesal Nyonya Puspa.
Tuan Yusuf mendengus mendengar perkataan istrinya. Meski pun dirinya seorang pengacara, tapi disini Sonya tetap bersalah karena sudah mencelakai orang lain. Selain itu juga, ia tidak mau nama baiknya tercoreng gara-gara Sonya.
"Sudahlah. Lupakan tentang keinginanmu bertemu Sonya. Jika nanti waktunya tiba, papa pasti akan mempertemukan mama dengan Sonya."
Setelah berkata seperti itu, Tuan Yusuf segera bersiap-siap untuk pergi.
"O ya... Papa akan pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Ada beberapa kasus yang harus papa tangani," pungkas Tuan Yusuf, sembari melangkah keluar dari kamarnya.
Nyonya Puspa memutarkan bola matanya. Giliran kasus orang lain gercep, sedangkan kasus putrinya diabaikan. Benar-benar nggak adil, pikir Nyonya Puspa.
"Semoga kamu baik-baik saja di sana, Sonya...." Gumam Nyonya Puspa.
Dengan langkah cepat, Tuan Yusuf menuruni anak tangga. Ia harus datang tepat waktu di hotel mewah yang sudah ia pesan.
Kalau bukan karena Sonya, Tuan Yusuf sangat malas membawa mobil sendiri. Karena Sonya, Tuan Yusuf harus membiarkan Chandra menjaga Sonya.
Berkali-kali Tuan Yusuf menggerutu kesal, karena jalanan menuju hotel tersendat karena macet. Hampir satu jam lamanya mengemudi, akhirnya Tuan Yusuf sampai juga di hotel tersebut.
Tuan Yusuf bergegas menuju kamar hotel dan sesampainya di depan kamar hotel, Tuan Yusuf langsung di sambut seorang wanita muda.
"Maaf lama," ucap Tuan Yusuf, sembari melangkah masuk.
"Nggak apa-apa," jawab wanita itu.
Wanita itu adalah Heni, wanita yang selama ini menjadi simpanan Tuan Yusuf.
Heni langsung menggiring Tuan Yusuf ke arah ranjang, dimana bocah kecil tengah terlelap tidur.
"Apa Kia rewel?" Tanya Tuan Yusuf, yang langsung dianggukin oleh Heni.
Sedetik kemudian, Tuan Yusuf tersenyum menyeringai menatap Heni. Heni yang mengerti dengan ekspresi Tuan Yusuf, langsung mengajaknya ke connecting room.
Keduanya langsung melepaskan rasa rindu satu sama lain. Selain itu juga Tuan Yusuf dan Heni sudah lama tidak saling berbagi kehangatan di atas ranjang.
__ADS_1