Bukan Sekedar Suami Pengganti

Bukan Sekedar Suami Pengganti
Jatuh pingsan


__ADS_3

Chandra bersyukur karena Sonya menerimanya apa adanya, dan Sonya wanita yang tidak banyak menuntut soal materi. Selama ini, ia maupun Sonya hidup di biayai oleh orang tua Sonya, apalagi sewaktu tinggal di desa.


Chandra yang tidak mau terus-terusan menggantungkan hidupnya kepada orang tua Sonya. Lantas ia harus mencari pekerjaan, apalagi dirinya seorang kepala rumah tangga yang seharusnya memberi nafkah kepada Sonya.


Saat sedang mencari kerjaan, ia bertemu dengan teman lamanya yaitu Ezar dan menawarkannya untuk ikut merintis bisnis properti miliknya. Kesempatan ini tidak disia-siakan. Chandra pun menyetujui tawaran Ezar mengembangkan bisnisnya. Sampai akhirnya usahanya itu kini semakin berkembang, karena kepiawaiannya mengelola usaha tersebut.


"Nanti pulang jam berapa?" Tanya Sonya saat ia akan berangkat kerja.


"Aku belum tahu pulang jam berapa."


Atau


"Nanti siang mau dimasakin apa?" Ketika Sonya bertanya lewat sambungan telpon.


"Terserah," jawabnya.


Perhatian sederhana yang Sonya berikan, selalu membuat hatinya menghangat. Membuat semangatnya dalam bekerja semakin berkobar.


"Bang, aku pulang dulu ya," pamit Chandra kepada Ezar.


Ezar mengangguk. "Iya...."


Chandra bergegas keluar dari kantor dan melangkah lebar-lebar menuju mobilnya yang terbaris dengan deretan motor karyawannya.


Diperjalanan, ia menepikan mobilnya ke toko bunga. Ia berniat membeli sebuket bunga untuk Sonya.


Setelah memesan bunga yang cantik, ia menunggu bunganya selesai dirangkai, sambil membayangkan wajah bahagia Sonya.


"Permisi... Ini bunganya sudah jadi," ucap sang florist seraya menyerahkan bunga yang sudah dirangkainya.


"O ya, terima kasih," jawab Chandra menerima bunga tersebut.


Selesai membayar, Chandra lalu kembali menuju mobilnya. Saat akan masuk ke dalam mobil, ia melihat beberapa orang tengah mengerubungi seseorang yang sepertinya pingsan.


Meski penasaran, Chandra tetap memutuskan untuk tetap masuk ke dalam mobil, tapi bola matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya.


"Itu bukannya...." Chandra mempertajam pandangannya, memastikan kalau orang yang pingsan itu adalah orang yang sangat dikenalnya, yaitu Tuan Yusuf.


"Benar, itu Tuan Yusuf. Apa yang terjadi dengannya?"


Chandra segera menghampirinya dengan mimik khawatir. Hatinya terus bertanya-tanya, ada apa dengan Tuan Yusuf sampai jatuh pingsan.

__ADS_1


"Tuan...!" Seru Chandra. "Apa yang terjadi dengan mertua saya, Pak?" Tanya-nya kepada salah satu orang yang ada di sana.


"Saya tidak tahu, Mas. Tiba-tiba saja bapak ini pingsan."


Chandra mengangguk, sekaligus sangat mencemaskan keadaan Tuan Yusuf. "Kalau gitu bantu saya bawa mertua saya ke mobil saya."


Mereka yang ada di sana, segera mengangkat tubuh Tuan Yusuf dan membawanya menuju mobil Chandra.


"Terima kasih semuanya." Ucap Chandra kepada orang-orang yang sudah membawa Tuan Yusuf ke mobilnya.


"Iya, Mas. Sama-sama," jawab salah satu dari mereka.


Chandra segera melesatkan mobilnya ke rumah sakit dengan kecepatan maksimum.


***


"Mas...!" Sonya datang dengan tergopoh-gopoh. Perasaan cemas, takut, khawatir menjadi satu.


"Apa yang terjadi sama papa?"


Chandra mengedikkan kedua bahunya. "Aku juga nggak tahu. Cuman tadi aku menemukan papa sudah dalam keadaan pingsan."


Chandra menghela napas panjang. "Kata dokter... Tuan terkena serangan jantung."


"apa!"


Sonya terkesiap mendengar perkataan Chandra. Setahu-nya papanya ini tidak pernah memiliki riwayat penyakit jantung, tapi kenapa sekarang tiba-tiba terkena serangan jantung.


Raut muka Sonya mendadak mendung. "Sekarang papa dimana?"


"Ada, di dalam."


Chandra kemudian membukakan pintu ruang rawat Tuan Yusuf. Mempersilahkan Sonya masuk lebih dulu.


Seketika hatinya Sonya mencelos melihat Tuan Yusuf terbaring lemah di atas brankar dengan selang infus yang menancap di tangannya, tidak ketinggalan juga selang oksigen yang menempel di hidung.


Perlahan Sonya melangkah mendekati Tuan Yusuf. "Papa...." Lirih Sonya dengan mata yang berkaca-kaca.


Sonya langsung menggenggam tangan papanya. "Pa...." Panggilnya pelan.


Tuan Yusuf membuka matanya dan menatap sayu wajah Sonya.

__ADS_1


"Sonya...." Ucapnya sangat lirih, bahkan nyaris tak terdengar.


"Kenapa papa bisa sampai sakit?"


Tuan Yusuf tak menjawab. Ia tidak mau Sonya tahu akan kehidupannya setelah bercerai dengan istrinya. Nyonya Puspa.


Semenjak bercerai dengan Nyonya Puspa, hidup Tuan Yusuf sangat berantakan. Yang biasanya ada yang mengatur dari pola makannya dan juga memperhatikannya, tapi kini ia harus apa-apa sendiri. Pola hidupnya benar-benar tidak terjaga dengan baik, bahkan sangat buruk. Selain itu juga, ia stres karena bisnis barunya hancur.


Kenapa ia tidak kembali dengan Heni?


Ia jelas sudah tidak mau balik lagi dengan Heni, setelah apa yang Heni perbuat padanya. Selain itu, ia baru tahu kalau ternyata dirinya juga diselingkuhi oleh Heni dan Heni hanya memanfaatkan hartanya saja.


Sangat miris sekali hidupnya saat ini. Ditinggalkan oleh istri pertamanya, lalu di bohongi dan dikhianati oleh istri sirinya.


"Maaf," ucap Tuan Yusuf terbata-bata. Kelopak matanya kini berembun. Sejumput penyesalan kini menyeruak ke dalam relung hatinya.


"Papa tidak perlu minta maaf...." Mendung di wajahnya semakin bertambah. "Sekarang yang perlu papa pikirkan kesehatan papa." Sonya mengeratkan genggamannya.


Tuan Yusuf mengangguk. Lalu, pandangannya kini tertuju kepada Chandra yang berdiri tidak jauh darinya.


"Chan-ndra...."


"Iya, Tuan."


"Sini...."


Chandra pun mendekatinya.


"Chandra... Terima kasih, sudah menjaga Sonya dan juga Arzan." Ucapnya dengan suara tercekat. Ia jadi teringat dengan cucunya, Arzan. Yang selama ini tidak menyayanginya.


Chandra mengangguk. "Iya, Tuan." Jawabnya sambil tersenyum.


"Saya juga mau mengatakan kalau... Saya merestui pernikahan kalian dan soal surat per--"


"Saya sudah melupakannya Tuan," sambar Chandra cepat.


"Lupakan soal perjanjian itu. Saya juga berterima kasih karena sekarang Tuan membiarkan saya hidup bersama dengan Sonya."


"Apa kamu mencintai Sonya?" Tanya-nya.


Chandra mengangguk, seraya menatap Sonya. "Iya, Tuan. Saya sangat mencintai Sonya."

__ADS_1


__ADS_2