Bukan Sekedar Suami Pengganti

Bukan Sekedar Suami Pengganti
Keputusan Tuan Yusuf


__ADS_3

Setelah beberapa hari di rawat pasca melahirkan, Sonya kini tengah bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Chandra sudah siap membawa Sonya dan si kecil pulang.


Dengan antusias, Sonya membereskan peralatan bayi dan memasukkannya ke dalam tas. Ia sudah tidak sabar ingin segera pulang. Chandra yang melihat Sonya yang tampak sibuk, langsung menghentikan langkahnya Sonya.


"Duduklah, kamu jangan terlalu banyak gerak dulu. Biar aku saja yang membereskannya," ucap Chandra, yang menyuruh Sonya untuk duduk di kursi roda.


Sonya pun mengangguk dan menuruti perkataan Chandra. Lalu pandangannya kini tertuju kepada sang buah hati yang tengah dipakaikan topi oleh ibu Meli. Bibir Sonya melengkung membentuk sebuah senyuman melihat tangan bayinya keluar satu dari bedongnya.


"Sudah ganteng cucu nenek," ucap ibu Meli, lalu segera menggendongnya.


Melihat ibunya menggendong si kecil, Chandra segera mendorong kursi roda yang diduduki oleh Sonya. Ketiganya meninggalkan kamar inap tersebut.


Tiba di lobby rumah sakit, Chandra membantu Sonya bangun dari kursi roda dan membukakan pintu mobil.


"Hati-hati," ucap Chandra.


Sonya mengangguk kecil. Kemudian Chandra memutari depan mobil dan duduk di belakang setir mobil. Chandra melirik ke belakang dimana ibunya duduk, setelah itu meninggalkan rumah sakit.


***


"Kamu istirahat saja. Kalau butuh sesuatu panggil aku saja," ujar Chandra, ketika sudah berada di kamar mereka.


Sonya mengangguk. "Iya, Mas." Kemudian Sonya duduk ditepi tempat tidur.


Nyonya Puspa masuk sambil membawa cucunya. Bayi mungil itu kini tengah merengek-rengek.


"Sonya, cucu mama kayaknya lapar," tukas Nyonya Puspa.


"Sini." Sonya mengulurkan tangannya, meminta buah hatinya yang langsung diserahkan kepadanya.


"Mama keluar dulu," ucap Nyonya Puspa, yang langsung dianggukin oleh Sonya.


"Anak mama haus ya...." Sonya mencium pipi putranya yang masih merah.

__ADS_1


Melihat Sonya akan mengASIhi, Chandra memilih keluar dari kamar.


"Mas...!"


"Iya, kenapa?" Chandra menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Sonya.


"Tolong bukakan sletingnya," pinta Sonya, karena Sonya kesulitan membuka sleting bajunya.


Chandra tertegun mendengarnya.


"Mas...." Sonya memanggilnya lagi.


Chandra pun mengangguk dan mendekatinya. Kedua tangannya terulur dan tampak gugup saat membantu Sonya membuka sleting bajunya yang berada di bagian depan, hingga kini menampakkan dua gunung kembar yang terbungkus bra berwarna putih.


Chandra mengalihkan pandangannya dari dua gunung kembar milik Sonya. "Aku keluar dulu." Tanpa menunggu jawaban dari Sonya, Chandra bergegas keluar dari sana.


***


"Papa mau bicara apa?" ucap Sonya.


Tuan Yusuf menatap lekat wajah Sonya dan ia harus mengatakan soal keputusannya itu.


"Sonya... Papa akan membawa kamu pergi ke luar negeri."


Kening Sonya berkerut. "Ke luar negeri? Ngapain?" tanya Sonya heran.


"Kalau kamu tinggal di luar negeri. Otomatis kamu tidak akan dibayangi oleh Regi, meskipun Regi saat ini dipenjara. Akan tetapi koneksi nya Regi dimana-mana dan itu bisa membahayakan kamu."


Sonya pun mengangguk mengerti, sedangkan Chandra menghembuskan nafasnya perlahan. Membayangkan saja sudah membuat Chandra dilanda sedih dan sesak.


"Tapi masalahnya...." Tuan Yusuf menjeda kalimatnya untuk menatap wajah Sonya. "Hanya kamu saja yang akan pergi ke luar negeri."


"Maksud papa?" Sonya mengerutkan keningnya dalam.

__ADS_1


"Hanya kamu saja yang akan tinggal di luar negeri, sedangkan anakmu tetap berada di sini."


Sontak saja, Sonya melebarkan bola matanya, mendengar perkataan papanya itu. "Maksud papa, aku harus berpisah sama anakku?"


Begitu juga dengan Nyonya Puspa dan ibu Meli. Keduanya tampak terkejut mendengarnya.


Tuan Yusuf menganggukkan kepalanya. "Pa! Mama nggak setuju!" Protes Nyonya Puspa.


"Papa tidak meminta persetujuan dari mama. Keputusan papa ini tidak bisa dibantah oleh siapapun," ujar Tuan Yusuf, tetap dengan pendiriannya. Apapun yang ia putuskan tidak bisa diganggu gugat.


"Aku nggak mau!" Sonya menolaknya. "Apapun alasan papa, aku tetap tidak akan mau pisah sama anakku." Sonya mempertegas perkataannya.


"Sonya! Kamu harus nurut apa kata papa!" Bentak Tuan Yusuf.


Sonya menghiraukan perkataan papanya dan memilih masuk ke dalam kamarnya, dimana sang buah hatinya berada. Sonya langsung mendekap putranya dan beningan kristal jatuh membasahi pipinya.


"Mama nggak mau pisah sama kamu, Sayang. Apapun yang terjadi, kamu akan selalu bersama mama." Sonya menatap sendu wajah putranya.


Sebegitu tega papanya yang ingin memisahkan dirinya dengan buah hatinya. Apa papanya tidak tahu, bagaimana dirinya mempertahankan kehamilannya, meski awalnya ia tidak menginginkannya. Tapi sekarang ia sangat mencintai putranya itu melebihi dirinya sendiri.


Nyonya Puspa menatap sinis wajah suaminya itu. Ia tak habis pikir dengan keputusan suaminya yang ingin memisahkan Sonya dengan anaknya.


Nyonya Puspa berdecak kesal. "Papa tega bicara seperti itu kepada Sonya. Apa papa nggak mikirin perasaan Sonya?"


Tuan Yusuf mendengus mendengar perkataan istrinya. "Papa lakukan ini semua demi kebaikan Sonya."


"Tapi nggak harus pisahin Sonya dan anaknya!" jawab Nyonya Puspa dengan suara tinggi.


"Terserah apa kata mama. Yang jelas keputusan papa tidak bisa dibantah! Dan lagian anaknya Sonya mengalir darahnya si lelaki baji ngan itu."


"Pokoknya mama nggak setuju dengan keputusan papa. Titik!"


Tuan Yusuf tak mengindahkan perkataan istrinya. Keputusannya membawa Sonya pergi ke luar negeri tanpa bayinya sudah tepat.

__ADS_1


__ADS_2