Bukan Sekedar Suami Pengganti

Bukan Sekedar Suami Pengganti
Memasak


__ADS_3

Siang harinya, Sonya dan Chandra pergi ke pasar untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan di rumah, seperti kompor, penanak nasi dan yang lainnya. Setelah itu, keduanya membeli sayuran dan bahan pokok.


Selama memilih sayuran, Sonya hanya diam karena Sonya tidak tahu cara memilih sayuran yang bagus dan yang tidak. Selain itu juga Sonya tidak bisa tawar menawar harga.


"Ada yang mau di beli nggak?" Tanya Chandra, sebelum keduanya melangkah ke mobil.


"Aku mau beli daster lagi, boleh?"


"Boleh. Ayo kita cari." Chandra langsung menggandeng tangan Sonya dan mencari toko pakaian.


Semenjak dibelikan daster oleh Chandra, Sonya merasa sangat nyaman memakai daster. Maka dari itu Sonya ingin membelinya lagi, walau harganya murah. Tidak seperti pakaiannya yang lain, yang harganya sangat mahal.


Sonya dan Chandra sudah berada di toko pakaian dan Sonya langsung memilih daster- daster tersebut.


"Ini bagus nggak?" Tanya Sonya, menunjukkan salah satu daster bermotif bunga-bunga kecil.


"Bagus," jawab Chandra. Kemudian Sonya kembali sibuk memilih daster, sedangkan Chandra melihat-lihat ke toko sebelah. Chandra tersenyum melihat jilbab segi empat berwarna coklat muda dengan motif kupu-kupu.


"Sonya pasti cantik kalau memakai jilbab ini," ucapnya sambil membayangkan wajah cantik Sonya dan Chandra langsung membayar jilbab tersebut.


"Sudah selesai memilihnya?" Tanya Chandra, yang kini sudah berdiri di samping Sonya.


"Sudah. Ini...." Lalu Chandra segera membayarnya.


Selesai belanja, keduanya langsung pulang ke rumah dan setibanya di rumah, Chandra langsung membawa barang belanjaannya.


Sonya kini duduk di lantai dan tengah menyiangi sayur kangkung, sedangkan Chandra sibuk memasang selang kompor. Selesai memasang selang kompor dan gas, Chandra membantu Sonya mengupas bawang merah dan bawang putih.


"Sana. Mas duduk saja, biar aku saja yang masak."


"Kamu yakin bisa masaknya?" Jawab Chandra yang meragukan kemampuan Sonya dalam hal memasak. Sebab selama ini Chandra tidak pernah melihat Sonya memasak.


"Bisa," jawab Sonya yakin.


"Baiklah. Aku tunggu di depan saja." Walau tidak begitu yakin kalau Sonya bisa memasak, tapi Chandra harus yakin dengan kemampuan Sonya.


Kurang lebih satu jam, Sonya selesai dengan acara masakannya dan Sonya tersenyum puas dengan hasil masakannya. Setelah menata makanannya di atas tikar, Sonya segera memanggil Chandra yang tengah duduk di teras rumah.


"Mas, ayo kita makan," ajak Sonya.


"Iya," jawab Chandra dan melangkah masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Chandra segera masuk dan duduk di atas tikar sambil menatap hasil masakan Sonya. Sayur kangkung yang sedikit menghitam, tempe goreng sebagiannya gosong dan sayur ikan balado yang terlihat pucat.


'Apa ini bisa di makan?' Batin Chandra.


Chandra tersenyum kecut kepada Sonya yang kini tengah menatapnya.


Chandra kemudian mengambil nasi, tapi gerakan tangannya di cegah oleh Sonya.


"Biar aku saja yang ngambilin nya," kata Sonya, yang dengan sigap mengambil nasi dan lauk pauk untuk Chandra.


"Terima kasih," ucap Chandra, yang segera memakannya.


Chandra mengernyitkan dahinya, saat makanan tersebut sudah berada di mulutnya.


"Gimana?" Tanya Sonya penuh penasaran dengan rasa masakannya.


"Enak," jawab Chandra sembari melemparkan senyumannya.


Sonya tersenyum senang karena hasil masakannya ternyata enak. Bahkan Chandra begitu menikmati masakannya tanpa tersisa sedikitpun.


Melihat Chandra menghabiskan makanannya, Sonya kemudian mulai mengambilnya untuk dirinya sendiri. Sedangkan Chandra yang baru selesai makan memilih keluar karena ada panggilan telpon dari Mang Yanto.


Dengan penuh semangat, Sonya mulai memakannya dan....


Sonya kemudian mencoba ikan balado dan lagi-lagi rasanya tidak jelas. Sonya mendesah samar, ternyata Chandra berbohong soal rasa masakannya.


"Padahal masakannya nggak enak, tapi kenapa tetap di makan saja." Ada rasa bersalah di hati Sonya, karena Chandra tetap memakannya.


Pada akhirnya Sonya tidak ada selera untuk makan masakannya. Tidak lama Chandra kembali duduk bersamanya.


"Sudah selesai makannya?" Tanya Chandra.


Sonya menggelengkan kepalanya dengan tatapan sedih.


"Mau makan yang lain?" Tawar Chandra, karena Chandra sudah bisa menebaknya kalau Sonya mana mungkin mau memakan masakannya.


Sonya menggelengkan kepalanya lagi.


"Terus mau makan sama apa?"


"Maaf...." Cicit Sonya.

__ADS_1


"Maaf untuk apa?" Bingung Chandra.


"Soal masakan ku... Kenapa Mas tetap memakannya. Padahal masakan ku rasanya nggak enak."


"Oh ... Soal itu. Aku kan nggak mempermasalahkannya. Jadi kamu jangan bersedih, nanti kita masak sama-sama saja. Sekarang katakan mau makan sama apa?"


Akan tetapi Sonya tetap diam. Chandra kemudian menarik pundak Sonya dan mengelusnya.


"Bagaimana kalau ikan balado nya aku masak ulang?"


"Memang bisa?"


"Bisa. Kamu tunggu disini, aku akan memperbaiki rasa ikan balado nya."


Chandra kemudian membawa ikan balado nya ke dapur dan hanya beberapa menit saja, ikan balado nya sudah siap dan membawa kembali ke depan.


"Sekarang makan ya," suruh Chandra sambil menyuapi Sonya.


"Ini rasanya lebih baik dari yang tadi," kata Sonya sambil mengunyahnya.


"Syukurlah... Sekarang makan yang banyak. Kasihan Dede bayinya, pasti Dede nya lapar."


Sonya mengangguk dan menghabiskan makanannya.


Mulai besok, ia harus meminta tolong sama bibi Yanti, untuk mengajarkan nya memasak. Agar masakan seperti ini tidak terulang lagi. Pikir Sonya.


Selain itu juga Sonya ingin menunjukkan yang terbaik buat Chandra.


***


Malam harinya, Chandra tengah menatap langit-langit kamarnya. Ia tengah memikirkan lagi soal pembicaraannya dengan Mang Yanto tadi siang di telpon, yang mengatakan kalau Regi datang menemui Mang Yanto di rumah yang sebelumnya ia dan Sonya tinggalin.


Untung saja Mang Yanto tidak mengatakan keberadaannya sekarang, meski Regi sempat marah-marah dan mengancam Mang Yanto dan Bu Lela. Setidaknya Chandra saat ini bisa bernafas lega, karena sudah membawa Sonya dari sana.


Chandra menghela nafasnya, lalu menoleh ke arah Sonya yang sudah tidur di sampingnya. Kemudian Chandra memiringkan tubuhnya menghadap Sonya dan menatapnya.


"Semoga saja Regi tidak menemukan keberadaan kita dan semoga kamu selalu dilindungi oleh Tuhan."


Lalu Chandra mengelus perut Sonya lembut. "Kasihan kamu, De... Kamu dan mama kamu terus bersembunyi dari kejaran Regi. Semoga kamu kelak bisa melindungi mama mu dari orang-orang yang berniat jahat sama mama mu. Tapi kamu tenang saja, selama Om masih bersama kalian, Om akan terus menjaga dan melindungi kalian berdua."


Harapan Chandra, Regi tidak terus mencari keberadaan Sonya dan Chandra sangat kasihan dengan hidup Sonya yang entah sampai kapan terus bersembunyi dari kejaran Regi dan polisi.

__ADS_1


Chandra juga tidak habis pikir dengan sikap tuan Yusuf, yang menyuruh anaknya bersembunyi dari kesalahan yang sudah dilakukan oleh Sonya. Seolah-olah, Tuan Yusuf tidak memperjuangkan Sonya dan Tuan Yusuf lebih takut kalau nama baiknya tercemar.


__ADS_2