
Sonya sangat bahagia, akhirnya bisa bertemu dengan kedua orang tuanya. Orang tua yang sangat dirindukannya selama berbulan-bulan.
Sonya kini duduk diantara kedua orang tuanya dan Sonya melingkarkan tangannya di lengan Nyonya Puspa. Sonya tidak bisa menyembunyikan wajah bahagianya.
"Apa kamu betah tinggal disini?" Tanya Nyonya Puspa kepada Sonya.
"Betah," jawab Sonya seraya menganggukkan kepalanya.
"Serius! Kamu betah tinggal di tempat ini?"
Sonya pun mengangguk cepat. Memang selama ini Sonya betah tinggal di rumah ini, walau rumahnya kecil dan sederhana, Sonya nyaman tinggal disini.
Nyonya Puspa tidak yakin dengan jawaban Sonya, sebab Nyonya Puspa tahu seperti apa putrinya itu. Jangan tinggal ditempat seperti ini, diajak ke rumah salah satu ART-nya saja Sonya tidak mau karena rumahnya kecil dan kumuh. Apalagi tinggal di tempat seperti ini, dengan kondisi rumahnya yang sangat kecil dan sumpek.
Sepertinya aku harus membicarakan ini dengan Mas Yusuf. Aku nggak mau anakku tinggal di tempat seperti ini. Tempat yang tidak layak untuk Sonya tinggalin.
Tidak lama, ibu Meli keluar dari dapur dan menyuguhkan minuman dan makanan.
"Silahkan di minum, Tuan, Nyonya," ucap ibu Meli sambil meletakkan makanan dan minuman di atas meja.
"Terima kasih," jawab Nyonya Puspa, lalu ibu Meli duduk di samping Chandra.
"Mama sama papa akan berapa lama tinggal disini?" Tanya Sonya.
"Mau--." Nyonya Puspa akan menjawab pertanyaan Sonya, tapi Tuan Yusuf langsung menyambarnya lebih dulu.
"Besok juga papa sama Mama pulang."
Sontak saja membuat Nyonya Puspa terkejut. "Loh! Kok besok! Bukannya kita akan tinggal beberapa hari disini," kata Nyonya Puspa. Bukannya suaminya sendiri yang mengatakannya jika akan tinggal beberapa hari disini dan sekarang kenapa berubah.
"Awalnya iya, tapi pekerjaan papa di Jakarta tidak bisa ditunda dan harus segera diselesaikan. Selain itu, papa juga punya bisnis baru."
"Tapi jangan besok juga pulangnya, pa." Protes Nyonya Puspa.
__ADS_1
"Nggak bisa. Papa sudah janji sama klien papa."
Nyonya Puspa mendengus mendengar ucapan suaminya itu. Apa suaminya tidak tahu kalau ia masih ingin melepas rindu dengan Sonya.
Begitu juga dengan Sonya yang merasa kecewa, tapi Sonya berusaha untuk mengerti dengan pekerjaan papanya, yang terpenting saat ini ia bisa melepas rindu dengan mama dan papanya.
***
Malam harinya. Selesai makan malam, Sonya masih betah duduk di kursi, sambil ngeliatin Chandra menghamparkan tikarnya di lantai. Sedangkan Tuan Yusuf dan Nyonya Puspa sudah masuk ke kamar yang biasanya Sonya dan Chandra tempati.
Sebab rumah tersebut hanya ada dua kamar dan kamar yang satunya digunakan oleh ibu Meli.
Chandra mengernyitkan dahinya ketika Chandra melihat Sonya masih betah duduk di sana.
"Kenapa nggak tidur. Ini sudah malam," kata Chandra, menyuruh Sonya untuk tidur di kamar ibunya.
Bukannya menjawabnya, justru Sonya kini mendekati Chandra yang sudah duduk di atas tikar.
"Jangan! Aku nggak mau mencari masalah dengan Tuan Yusuf. Bukannya kamu sudah tahu kalau kita dilarang tidur bersama oleh Tuan Yusuf."
Sonya merengut manyun dan terpaksa Sonya bangun dan melangkah masuk ke kamar ibu Meli. Sonya langsung merebahkan tubuhnya dengan kesal, karena Sonya sudah terbiasa tidur memeluk Chandra.
Malam pun semakin larut dan Sonya sampai detik ini tidak bisa tidur. Sudah beberapa kali Sonya membalikkan badannya menghadap ke kana dan ke kiri dan hal itu membuat tidur ibu Meli terganggu.
"Neng Kenapa?" Tanya ibu Meli.
Sonya tersentak mendengar suara ibu Meli.
"Nggak bisa tidur," jawab Sonya pelan.
Sonya merasa bersalah karena sudah membuat tidur ibu mertuanya terganggu.
"Neng mau sesuatu?"
__ADS_1
Sonya menggeleng. "Terus neng maunya apa?" Tanya ibu Meli lagi.
Sonya bingung untuk mengutarakan keinginannya, tapi jika tidak diungkapkan yang ada dirinya tidak bisa tidur.
"Katakan, neng mau apa?" Desak ibu Meli.
"Aku mau tidur dengan Mas Chandra." Sonya berkata pelan.
Ibu Meli tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Ternyata menantunya itu menginginkan Chandra bukan yang lain.
Kemudian ibu Meli bangun dan melangkah keluar, Sonya bingung melihat mertuanya itu keluar dari kamar. Tidak lama ibu Meli masuk bersama Chandra sambil membawa tikar.
"Istri kamu nggak bisa tidur dan Sonya ingin tidur sama kamu," ucap ibu Meli kepada Chandra. Kemudian ibu Meli membentangkan tikarnya dilantai.
"Kamu tidur di kasur dan temani istri kamu. Ibu akan tidur di bawah saja," kata ibu Meli yang kini sudah duduk di atas tikar.
"Eh! Jangan. Ibu tidur di kasur aja, biar Chandra tidur di bawah." Chandra langsung menarik tangan ibunya untuk bangun.
"Kalau ibu tidur di kasur bagaimana dengan Sonya?"
Chandra jadi bingung dan menggaruk tengkuknya. Benar apa kata ibunya, tapi Chandra tidak mungkin membiarkan ibunya tidur beralaskan tikar.
"Mm... Aku akan tidur di bawah bersama Mas Chandra," seloroh Sonya.
"Jangan. Kamu kan lagi hamil. Aku nggak mau kalau nanti kamu masuk angin," larang Chandra.
"Aku nggak akan masuk angin. Ayo tidur aku sudah ngantuk," jawab Sonya sambil merebahkan tubuhnya.
Melihat Sonya yang tidak mempermasalahkan tempat tidur, akhirnya ibu Meli naik ke atas kasur dan lanjut tidur, begitu juga dengan Chandra yang kini tidur disamping Sonya.
"Kamu yakin tidur disini?" Bisik Chandra dan Sonya mengangguk kecil. Sonya kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Chandra dan memejamkan matanya.
Melihat Sonya nyaman tidur beralaskan tikar, akhirnya Chandra juga ikut memejamkan matanya.
__ADS_1